Trotoar Berdebu

Trotoar Berdebu

     Kaleng – kaleng berceceran. Saling kejar dan menimbulkan bunyi gaduh bergemuruh. Mengisi pengapnya perjalanan pagi. Mewarnai tapak demi tapak langkahku.

     Darah di kakiku tak juga beku oleh dingin udara tak bermentari. Masih saja melukis torehan luka sisa semalam di sepanjang trotoar. Sepi tanpa pejalan kaki. Aku sendiri.

     ” PraK ! “

Gelas itu dilempar tepat mengenai kakiku saat aku berjalan terburu dikejar waktu. Penjual itu benar – benar gusar menghardik pengamen jalanan yang bertandang di tenda angkringannya.

     ” Aargh…” aku mengerang kesakitan. Menumpahkan isi tenggok sisa dagangan di trotoar penuh debu pembakaran.

Tak ada satupun pengunjung tenda angkringan itu menggubris, terlebih si empunya tenda. Santai saja melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan pengamen jalanan itu kabur keluar menginjak beberapa daganganku.

     Menahan rasa sakit dan mengumpulkan sisa makanan itu yang dapat aku lakukan. Beberapa sudah tidak dapat diselamatkan dan kubiarkan berserakan di jalan. Aku melanjutkan langkah untuk pulang ke tempat kontrakan. Anakku pasti sudah lapar menunggu. Terseok – seok aku menapaki trotoar sesekali menyeberang jalan. Mulai lengang oleh sorai kendaraan.

     ” Astagfirullah… Sudah tak ada bus lagi untuk pulang. ” keluhku yang berhenti persis di dekat pekuburan. Halte di depan sudah sepi.

Aku berjalan beberapa langkah. Berhenti karena mendengar suara. Rerumputan di pinggir trotoar saling bergesekan. Aku dekati dan membungkuk.

     Seekor induk kucing dengan luka dikakinya. Sama persis dengan ku. Darahnya memenuhi semak di sekelilingnya. Aku memungutnya perlahan. Kucing itu sangat lirih mengeong.

     Aku benahi tenggok di gendongan. Membawa kucing itu di satu tangan dan satu tangan lagi memegangi kakiku yang terluka. Berharap darah tidak lagi mengucur. Aku berjalan tertatih menuju Halte.

     Kuletakkan tenggok. Mengambil satu bungkus nasi berlauk ikan teri. Kuberikan ke kucing itu yang hangat di pangkuan ku. Kucing itu mengeong. Menjilat lemah sodoran ikan teri. Perlahan melahapnya.

     Semalaman aku terjaga di Halte bus sendirian. Menjaga seekor kucing yang terluka dan sudah tertidur lelap tanpa menghiraukan lukanya. Sedangkan aku masih merasakan perih kesakitan. Luka di kakiku melepuh karena jauh kuberjalan.

BACA JUGA CERPEN: Rahasia Surat Farhan

—()—

     Kudengar lagi gaduh kaleng – kaleng bekas berlarian saling membentur. Belum ada bus beroperasi di hari sepagi ini. Aku melangkah meninggalkan Halte menuju tempat yang lebih ramai oleh orang yang biasa menunggu bus untuk ke pasar. Masih sepi.

     Luka sobek di kaki terasa perih dan kaku. Memar memenuhi sekitarnya. Sakit… namun aku teringat anakku. Aku harus pulang membawa sisa daganganku untuk kami santap bersama. Belumlah basi. Aku yakin itu. Sore hari, selepas ‘ashar aku mulai berdagang. Nasi dan lauknya pun kering dan ‘ tanak’ betul aku masak.

     Sesosok berperawakan tegap mengenakan seragam orange terlihat sibuk dengan senggrong dan sapunya. Membersihkan debu – debu yang belum sempat beterbangan. Daun pun segera memenuhi senggrongnya.

     Pendapatan kami tidak jauh berbeda. Sempat terbesit fikiran semacam itu di benakku. Sama-sama berjuang mengisi hidup berharap rizqi dan berbagi. Berusaha menjadi orang yang bermanfa’at bagi sesama.

     Beberapa bakul mulai berdatangan. Berkerumun dengan sesamanya. Berpeluh menanti bus bersama dagangannya. Aku menyisih dan mendekati seorang penjual buah.

     ” Pak, berapa sekilo ? ” tanyaku.

Penjual buah itu memandangku sesaat. Mengamati pakaian dan tingkahku. Pandangannya berhenti pada kakiku.

     ” Kenapa itu, Bu ? ” bapak itu bertanya iba.

     ” Hanya sedikit luka, Pak. O, iya. Berapa sekilo, Pak ? ” aku memilih beberapa buah mangga.

     ” Diobati dulu, Bu. Mari saya antar. Ada puskesmas dekat sini.” bapak itu menarik lenganku dan berpamitan dengan temannya, berpesan untuk menjaga dagangannya.

     Benar ada puskesmas, tetapi belum buka. Satu petugas pun belum datang. Aku mengikut saja langkah bapak itu.

     ” Kita ke UGD saja, Bu. Puskesmas belum buka.” katanya sambil terus melangkah.

      Sesampainya di UGD. Tidak perlu mengantri karena aku pasien yang lebih awal. Luka kakiku segera dibersihkan dengan alkohol. Bertambah perih. Tetapi tidak berlangsung lama. Perawat mengobati dan menutup luka itu dengan kasa. Selesai membayar administrasi, kami kembali ke tempat menunggu bus.

      Sudah sepi. Bus pertama sudah berangkat. Teman bapak itu masih setia menanti kedatangan kami.

      ” Terima kasih, Pak. ” aku menerima seplastik penuh buah mangga. Katanya, aku tidak usah membayar. Anggap saja sebagai salam perkenalan.

      Bus berikutnya datang dan aku berpamitan. Bapak itu tersenyum melepas kepergianku bersama laju bus.

BACA JUGA CERPEN: Manajemen Bencana Bukanlah Bencana

—()—

     Aku menyusuri jalan setapak penuh kerikil di kanan – kiri. Gambar mural tak bermoral itu amat mengotori kurasa. Tembok yang seharusnya putih bersih menjadi keruh penuh coretan. Biar gaul, dikatakan anak – anak sekolah yang dulu pernah kutanya.

     Aku terus saja berjalan. Semakin terik saja matahari menukik. Tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan anak semata wayangku. Senyum terkembang di sudut bibirku.

     Kerumunan orang memenuhi rumah kontrakan kami. Aku bergegas dari kejauhan. Rasa hati bertanya tak tentu. Apa gerangan yang terjadi dengan anakku.

     Serta merta, plastik penuh mangga itu ku lempar. Berserak tak karuan isinya. Anakku terbujur dingin di ruang depan. Kain putih berbalut di tubuhnya. Kapas menyumpal di kedua lubang hidungnya. Tak lagi ia mendengar dan menyambut kedatanganku.

     ” Apa yang terjadi, Mbak ? ” aku menegarkan hati. Bertanya pada tetangga yang sudah kuanggap sebagai kakak.

     ” Sabar. Anak mu sudah tak tertolong lagi. Mobil itu kemarin melindasnya di jalan depan dekat warung Mpok Ida.” jelasnya kemudian memelukku, menenangkanku.

     ” Apa ?! ” aku meraung sejadinya.

     ” Anakku belum makan, Mbak. Aku pulang membawa oleh – oleh untuknya. Ini, Mbak… ” aku membongkar isi tenggok di depan anakku dan di tengah kerumunan orang duduk membaca surat Ya~Sin.

     ” Tabahlah. Anakmu sudah meninggal. ” Mbak Tinah menghibur dan mengajakku duduk.

     Anakku masih kecil. Belum genap enam tahun usianya. Harus kutinggal setiap harinya demi sesuap nasi dan sedikit receh di saku. Terpaksa mengontrak di rumah yang kecil dan serba pas – pasan tiga bulan lalu. Belum lama kami tinggal dan bersendau gurau dengan tetangga, melupakan kesedihan yang telah lalu karena kepergian suamiku.

     Aku dan anakku diusir dari rumah mertua sepeninggal suamiku. Dari awal memang pernikahan kami tidak direstui. Mertuaku menginginkan seorang berderajat dan bekerja mapan untuk anaknya. Sedangkan suamiku bersikukuh untuk menikah denganku. Rumah tangga kami tak tentram, penuh dengan omelan dan masalah yang berhulu pada mertua. Aku berusaha tegar menerima semua dan menjalaninya selama tujuh tahun. Namun, suamiku tak berumur panjang. Sebuah kecelakaan kerja menyebabkan nyawanya melayang.

BACA JUGA CERPEN: Senyuman Terakhir

—()—

     Tanah pemakaman masih basah. Bunga warna putih, merah, hijau dan kuning bertabur di atasnya. Nisan itu tertulis jelas.

     – Muhammad Afnan bin Muhsin Al Faruq –

Aku berlumur linangan air mata. Bersimpuh di samping gundukan makam. Tangan bergetar mengusap nisan. Membaca terbata setiap huruf. Mengeja nama yang masih lekat wajahnya di memori otakku. Kala ia tertawa, memanggil aku, ‘ ibu ‘ untuk yang pertama, melangkahkan kaki berikutnya dan mengikutiku menjalani hidup baru di kota ini. Kala ia sabar menanti kepulanganku, merengek meminta mainan dan mengajakku bermain ke rumah Mbak Tinah. Kala aku mendaftarkannya sekolah di taman kanak – kanak. Belum lama. Baru seminggu yang lalu. Terlihat amatlah senang hatinya. Menghafal namanya dan juga nama almarhum ayahnya.

     Kini, suara kecilnya tak terdengar dan tak akan aku dengar untuk selamanya. Telah terkubur bersama dingin tubuhnya di liang lahat. Tanpa seorang teman. Sendiri. Dia masih sangat kecil. Belum bisa membedakan warna apalagi permasalahan hidup. Yang dia tahu hanyalah berada di rumah dan menahan lapar ketika persediaan beras kami habis. Menahan keinginan untuk bermain bersama anak – anak sebayanya karena aku melarangnya keluar saat aku tidak di rumah.

     Kemarin, ia melanggar pesanku. Berlari menyeberang jalan sendirian sepulang bermain karena Mpok Ida memanggilnya. Berharap anak itu datang dan menerima sebungkus nasi darinya. Karena Mpok Ida tahu kalau aku belum pulang dan anakku belum makan. Tetapi, apa yang terjadi ?

     Air mataku kembali berderai. Membasahi kedua pipiku yang kurus tak terurus. Mendengar cerita itu dari Mpok Ida yang berulang kali meminta maaf padaku. Apa hendak dikata ? Maaf itu tak mampu mengembalikan nyawa anakku. Akupun tahu maksud baiknya.

     Kulangkahkan kaki meninggalkan anakku sendiri. Menutup deary kehidupannya yang begitu singkat. Sesingkat aku mengenal ayahnya. Sesingkat umur pernikahan kami. Namun, aku harus melanjutkan hidupku yang masih panjang dan berliku.

BACA JUGA CERPEN: Standing In The Dark

—()—

     ” PraK ! “

Suara itu terdengar tak jauh dari tempatku. Sebuah mini bus menghantam gerobak rujak yang biasa lewat di jalan sisiku berjualan. Degub jantungku seakan berhenti. Masih lekat kesedihan pagi tadi. Masih lekat luka semalam dan begitu jelas kecelakaan di depan mata.

     Aku berlari di tengah deburan debu. Mengamati sejenak keadaan dan segera menolong Pak tukang rujak. Penuh luka disekujur tubuhnya. Wajahnya tak asing. Aku pernah mengenalnya.

     ” Bapak ? “

     Tukang rujak itu adalah bapak yang pernah menolongku. Dia menjual sisa buahnya yang tak laku di pagi hari. Rujak itulah dagangan kelilingnya di waktu lepas ‘ashar.

     Aku kembali menggendong tenggok. Menapaki trotoar berdebu yang makin usang dan tua. Kudengar kegaduhan kaleng – kaleng saling beradu berlarian.

NB: Ditulis oleh: Ifa Nur .W. Penerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Trotoar Berdebu, Halaman 1 s.d 7 Post Seizin Penerbit.

BACA JUGA CERPEN:
1. Kenangan Terindah Dalam Seragam Putih Abu-Abu
2. Gagal LDR
3. Mimpi Sang Gadis

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − one =