Sunset When You Go

Sunset When You Go

“Bagaimana bisa aku menyukainya?”

   “Apakah kamu setega ini wahai hati?”

   Pertanyaan itu selalu terngiang di telingaku setiap kali aku terbelenggu dengan tatapan kosong. Awal ketertarikanku padanya adalah ketika dia menjadi ketua di suatu himpunan kampus. Dia adalah sosok yang pintar, sosialis, berdikari, dan humoris. Ya, humoris. Sifat inilah yang menjadi kak Arif cukup popular dikalangan para gadis.

BACA JUGA CERPEN: Sesal di Ujung Senja

Kehadirannya membawa angin segar pada kamar-kamar yang telah lama tak berpenghuni, kamar-kamar hangat di hati. Aku sendiri seumur hidup tidak pernah mengenal cinta, bisa dibilang ini cinta pertamaku yang dipertemukan di bangku kuliah. Dulunya aku begitu phobia terhadap lelaki, banyak orang yang mengatakan mungkin aku trauma masa kecilku yang tanpa sosok lelaki, yaitu ayah. Begitu terbiasa hingga aku benar-benar tertutup rasa untuk para lelaki. Tetapi tidak dengan yang satu ini.

   Mungkin saat itu baru mulai menginjak bulan juni, atau mungkin minggu kedua juni, dan bisa jadi minggu terakhir di bulan yang mendapat imbuhan ceria itu. Aku lupa. Teman-teman selalu memanggilku :

   “Hay Cindy gadis pelupa” sangat menjengkelkan.

   Tapi aku tidak sepelupa itu. Aku masih ingat beberapa hal kecil yang bahkan tak pernah dia sangka akan aku ingat. Aku ingat dimana dia berdiri di hari itu, aku ingat warna baju yang dia kenakan, ingat bagaimana senyumnya tersimpan tanpa sengaja dalam ingatanku untuk pertama kali, aku ingat caranya tertawa hingga matanya membentuk garis yang tak sempurna, aku ingat kata-kata yang dia ucapkan saat dia berdiri memberi arahan. Lihat kan, aku bukan pelupa? Setidaknya aku bukan pelupa yang jahat.

BACA JUGA CERPEN: Nafas Untuk Negeriku

   Sekitar 3 minggu lamanya dia tidak pernah kulihat lagi di kampus. Mataku terus mencari dibalik-balik badan yang sedang duduk makan di kantin favoritnya. Tapi tak kunjung datang pria dengan jaket biru khasnya.

   Waktu terus berlalu, perasaanku campur aduk. Khawatir, cemas, dan tidak bisa dipungkiri rasa rinduku yang teramat besar. Melihatku seperti ini, Vriska sahabatku seketika itu menarikku berjalan ke arah fakultas kak Arif. Sesampai disana Vriska bertanya kepada teman-teman cinta pertamaku itu apa yang terjadi, kenapa sudah hampir 1 bulan dia tidak masuk kuliah. Pasalnya, aku dan Vriska mahasiswi semester dua dan kak Arif sudah semester enam. Mereka mengatakan TIDAK TAU, dan itu membuatku semakin cemas. Tidak biasanya aku seperti ini terhadap lelaki kecuali ayahku. Ahhhh benar-benar membuatku frustasi.

BACA JUGA CERPEN: Pahitnya Menatap Jodoh

   Sesampai dirumah aku merebahkan diri di kamar tidurku tercinta. Semakin rindunya aku melihat senyum pria itu di langit-langit kamar tidurku. Senyum sapa hangat yang menjadi hadiah terindah di hari ulang tahunku ketika itu. Masih teringat dengan jelas aroma parfum yang dia pakai setiap kali aku berpapasan dengannya. Sejenak kupejamkan mata untuk merasakan kembali aura yang sangat kurindukan.

   Pada suatu sore.

   “Cindy, kak Arif telah tiada. Dia meninggal!!!! Kak Dhea sahabat karibnya memposting di medsos kalau ka Arif menderita leukemia dan barusan meninggal pukul 17.30 WITA”

   Itu adalah sms yang baru saja ku terima dari Vriska. Sontak badan ini bergetar tak karuan. Jelas saja, itu adalah sms terburuk sepanjang usiaku.

   “aku tidak percaya, mustahil, jahat, ini tidak benar” air mataku jatuh tanpa sadar.

   Aku berlari kekamar mengambil kunci motor dan langsung menuju ke rumah kak Arif, tanpa bertanya pada mama aku langsung pergi untuk memastikan sms yang barusan aku terima.

BACA JUGA CERPEN: Perkenalan Berujung Penyesalan

   Bendera putih dari jauh!! Oh Tuhannn.. benarkah yang kulihat ini? Motor yang aku kendarai terhenti dipersimpangan jalan. Seperti tertusuk puluhan pisau, lututku pun lemas melihat orang-orang memakai baju hitam dengan wajah yang berduka. Aku menguatkan diri tapi tak cukup kuat sehinngga akhirnya aku terjatuh ke jalan bertumpu kedua lutut ini. Sore itu matahari mulai terbenam dan airmataku mengalir deras. Teringat lagi senyum terakhirnya untukku yang menjadi akhir dari kisah cintaku yang sudah usai. Dadaku sesak tak berarti lagi.

   Aku belum mengatakan perasaanku padanya, tapi dia terlalu cepat menolak dengan pergi. Lagi-lagi aku kehilangan lelaki yang kucintai. Lagi-lagi aku ditinggalkan oleh pria. Setelah lukaku sembuh karena kehilangan seorang ayah, tapi sakitku kembali karena kehilangan cinta pertama.

   Pada akhirnya aku berpikir bahwa :

Cinta pertama itu beda dengan pacar pertama. Pacar pertama belum tentu kita mencintainya. Tapi cinta pertama lebih berkesan walau belum menjadi pacar. Lagi-lagi aku ditinggalkan. Cintaku tidak berhasil !

BACA JUGA CERPEN: Mimpi Sang Gadis

Saat aku kehilangan kak Arif, sepertinya sekarang aku tidak merasakan lagi panasnya matahari. Entah kenapa demikian tapi aku tidak membenci matahari, walaupun dia harus pergi terbenam di tepi pantai yang saat ini ku pandangi bersama orang yang kucintai, setidaknya matahari ini masih berguna untuk semua orang yang masih merasakan hangatnya.

Aku tidak lagi menyesali pertemuan ini. Juga tidak mau menghindari pertemuan ini sekalipun waktu terulang kembali. Aku belajar menghargai cinta. Aku belajar untuk berpasrah diri pada scenario hidup yang diberikan Tuhan kepadaku.

NB: Ditulis oleh: Nabila Sului,  Penerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Impian tak Tersampaikan, Halaman 53 s.d 56 Post Seizin Penerbit.

BACA JUGA ARTIKEL:
1. 10 Fakta tentang Honorer (Nomor 8 Nyesek Bingit Guys)
2. 3 Kunci Sukses & Bahagia Ala Haji Bolot
3. 5 Langkah Mendirikan Usaha Penerbit Mandiri (Self Publishing)
4. Jenis Rempah Khas Kerinci ini menjadi incaran untuk Masakan Berskala Besar
5. Penerbit Landasan Ilmu
6. Manusia Galau, apa itu KAMU?
7. KUNCI SUKSES SEORANG ANAK
8. Cara Layout buku dengan mudah dan cepat 100% bisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × four =