Standing In The Dark

Standing In The Dark

Disudut kota, terdapat pohon tua yang tengah diterjang angin kencang.Daunnya berguguran ke segala arah. Ranting-ranting rapuh turut jatuh dan patah. Diam-diam sosok gadis remaja bersembunyi dibalik jendela. Keringatnya bercucuran bak air terjun diatas dahi. Tubuhnya gemetar mendengar petir bersahut-sahutan. Ia menutup telinganya kuat-kuat.

            Gadis itu, gadis yang ketakutan itu adalah aku. Bukan takut karena badai akan datang atau pohon yang akan tumbang. Tetapi karena pertengkaran yang baru saja terjadi dihadapan. Kedua orangtuaku, tak jelas masalah apa yang sedang mereka hadang. Sebab aku berusaha keras untuk tidak mendengar apapun yang mereka ucapkan.

            Ku lihat Ibu duduk bersimpuh sambil menangis. Namun ketika aku menghampirinya, sontak ia menghapus airmatanya.

            “Sudahlah, Ibu tidak apa-apa. Berangkatlah ke sekolah dan ini uang untuk membayar bukumu. Bilang pada gurumu, sisanya akan dilunasi bulan depan” katanya dengan nafas memburu.

            Aku hanya mengangguk. Meski hatiku sembilu, aku tidak menanyakan apapun pada Ibu. Seusai mencium punggung tangannya, aku berangkat ke sekolah. Tak banyak yang kulakukan disana. Hanya mendengar penjelasan guru, mengerjakan apa yang disuruh dan sesekali melamun memikirkan Ibu. Benar-benar hari yang berat untuk diriku.

            Dalam hidup, manusia akan selalu dibanjiri dengan masalah. Tak terkecuali, keluarga kecilku ini. Sampai larut malam, Ayah tak kunjung pulang. Ibu hanya diam menahan hatinya yang remuk redam. Namun tak lama kemudian, seseorang telah mengetuk pintu.

            Ayah pulang dan akan memperbaiki keadaan. Tetapi semua itu hanya ilusi belaka. Ayah pulang dengan mata sedikit sembab, berjalan cepat menuju kamar. Beberapa menit kemudian, semua mata tengah beradu. Ayah keluar dengan menenteng tas besar.

            “Ayah akan pergi ke Medan. Jangan berhenti untuk mendo’akan Ayah dan jagalah Ibumu” ujarnya seraya mengusap ujung matanya.

            Aku memeluk Ayah begitu erat. Entah sedalam apa luka yang mereka buat hingga hatiku pun turut merasakannya. Sesekali Ayah melirik Ibu yang tengah menangis dibalik kedua telapak tangannya.

            “Tolong jaga Nisa! Aku akan pergi sesuai keinginanmu!” Ayah menatap mata Ibu nanar.

            Bagaikan perahu yang berlayar ditengah laut. Dihantam ombak, diterjang badai namun harus tetap melaju. Perahu itu tak tahu, arah mana yang akan membawanya berlabuh. Sama sepertiku, kepergian Ayah membuatku seakan kehilangan petunjuk kehidupan.

            Satu bulan telah berlalu. Kadar kesedihanku semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Selama ini aku berpura-pura tertawa. Seolah-olah bahagia didepan sahabat-sahabatku. Tetapi sesungguhnya, aku sudah tak mampu. Ingin rasanya aku mencairkan hati yang terlanjur beku. Aku ingin mencurahkan segala keluh kesahku

            “Nisa, kau kenapa? Ada masalah?” bisik Raya, teman sebangku ku.

            Aku menatapnya dalam, sejurus kemudian aku mengangguk. Aku mengisyaratkan padanya bahwa aku ingin menceritakan semuanya tetapi tidak sekarang.

            Bel sekolah berdering. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Mereka bergegas pulang, tetapi tidak denganku. Perlahan aku memasukkan buku ke dalam tas. Ku lirik Raya yang tengah mencatat tulisan di papan.

            Aku menghela nafas panjang, “Ray, aku ingin cerita sekarang”

            “Ceritalah. Aku akan setia untuk mendengarkanmu, Nis” ujarnya.

            Belum sempat aku membuka mulut, tiba-tiba seorang lelaki berjalan dibalik pintu. Ia menghampiri kami berdua.

            “Ray, kita diminta menghadap kepala sekolah sekarang untuk membahas persiapan pentas seni. Dan Nisa, kau ditunggu teman-teman di secretariat OSIS. Ayo cepat kesana, semangat ya kawan-kawan” ucap Wisnu dengan senyum sumringah.

            Sontak Raya memukul pelan lengan Wisnu. Kemudian ia menatapku sendu. Aku hanya terdiam kemudian berlalu. Aku melangkah gontai. Aku tak marah ataupun kecewa pada Raya, hanya saja aku bingung harus mencurahkan hati pada siapa.

            Sesampainya di ruang sekretariat OSIS, semua orang terlihat sibuk disana. Ada yang berkutat dengan laptopnya, berlarian kesana kemari mengatur letak panggung pentas seni. Ada pula yang makan cemilan diatas berkas-berkas penting milik sekolah. Hampir tak ada yang menyadari kehadiranku. Kalau pun ada, mereka hanya sekedar menyapa kemudian beralih pada dunianya.

            “Andika! Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku.

            “Tolong ambilkan pita itu! Eh, wajahmu pucat sekali. Pulang dan istirahatlah. Biar aku dan teman-teman yang mengurus persiapannya” jawabnya sembari menyentuh keningku.

            Aku berjalan menuju cermin. Memang benar, tubuhku lebih kurus dari sebelumnya. Wajahku pucat tak bergairah. Aku menundukkan kepala.

            “Pulanglah. Sungguh, aku ingin mengantarmu tetapi maafkan aku, Nis. Aku harus menyelesaikan tugasku dulu” Andika.

            Aku mengusap pundaknya. Sekali lagi, aku gagal untuk berbagi duka yang kurasakan. Tadinya aku ingin membicarakan banyak hal pada Andika, termasuk tentang Ayah. Apalah dayaku, mereka sama sekali tak paham akan maksudku.

            Ketika sampai dirumah, pandanganku terasa kabur. Kepala begitu pening, hingga tubuhku tersungkur ke lantai. Samar-samar kulihat Ibu berlari ke arahku. Sejurus kemudian aku tak sadarkan diri.

            Aku mengerjapkan mata. Mencari-cari cahaya yang sempat hilang entah kemana. Ku tebarkan pandangan ke seuruh sudut ruangan. Begitu asing. Ku dapati selang-selang infuse menempel di tangan kanan. Dan kudapati sosok Ibu yang berdiri disebelah kiri ku.

            “Kau sudah sadar? Kau terkena demam berdarah, Nak. Jangan khawatir, Ibu bersamamu” kata Ibu sembari mencium keningku.

            Airmataku meleleh.

            Hampir tiga hari aku berada di ruang bernuansa putih ini. Setelah kemarin kondisi ku membaik, aku mencoba berjalan beriringan dengan infus ditangan. Aku hanya mencari matahari yang hendak kembali ke peraduan. Aku tersenyum saat mendapatinya.

            “Sudah tiga hari aku disini. Mengapa tak satupun sahabatku datang menghampiri? Sesibuk apakah mereka hingga melupakanku?” gumamku.

            Walau dilanda kecewa, aku mencoba memahami mereka. Besok adalah hari dimana pentas seni akan digelar. Dan mulai besok pula aku akan mengubur dalam-dalam harapan yang telah ku tanam. Biarlah mereka berkutat dengan dunianya. Aku akan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

            Aku memutuskan untuk kembali ke ranjang neraka. Kaki ku terlalu lemah untuk berdiri. Aku memejamkan mata, sekuat tenaga mencoba untuk tidur dengan segudang tanya. Aku terlelap sepanjang malam.

            Tangan seseorang tengah mengusap rambutku. Tangan lainnya memegang pergelanganku begitu eratnya. Aku mendengar jerit tangisan. Sesekali namaku diteriakkan oleh orang-orang yang juga tak asing bagiku.

            “Ayah? Raya, Wisnu, Andika? Kalian kah itu?” batinku menjerit.

            Suara tangis mereka semakin mengeras. Namun sial, aku tak dapat membuka mataku. Mereka terus menyebut namaku. Sebisa mungkin aku membelalakkan mata, tetapi tetap saja aku tak bisa. Tubuhku-sekonyong-konyong terasa nyeri. Dan suara-suara mereka semakin melemah.

            “Nisa? Ini Ayah, Nak!” kata Ayah.

            Entah berapa lama aku terlelap. Perlahan-lahan mataku terbuka. Sosok Ayah berada tepat dihadapan. Namun aku tak percaya, mana mungkin dalam waktu semalam Ayah bisa datang untukku? Untuk anak yang pernah ia tinggalkan sebulan yang lalu. Ku arahkan pandangan ke sekelilingku. Semua sahabat-sahabatku berdiri disamping kanan dan kiriku.

            “Kalian? Tolong katakana, apakah aku telah bersama Tuhan?” aku menangis.

            Ibu memelukku. Memberitahuku bahwa ini kenyataan. Aku sedang bersama malaikat-malaikat Tuhan. Aku baru percaya ketika airmata Ayah menetes di keningku.

            Suasana tak lagi membeku. Andika menghampiriku dengan senyuman yang begitu ku rindu. Rindu akan kehangatan persahabatan yang pernah ada dalam hidupku.

            “Kau wanita yang hebat, Nis. Kau mampu melewati jalan yang gelap walau harus berkali-kali memasuki jurang. Sungguh, aku malu padamu. Maafkan sahabatmu ini, Nis” Andika menundukkan kepalanya.             Aku memeluknya. Sontak semua orang beralih memelukku. Inilah kehidupan. Siapapun yang mengharapkan cahaya-Nya, maka harus berani melewati kegelapan yang sewaktu-waktu dapat melenyapkan kita. Sungguh, semua ini adalah suatu peristiwa yang takkan pernah ku lupakan. Tuhan menuliskan takdirku dengan tinta hitam dan dengan sekejap, semuanya berubah menjadi warna-warni kebahagiaan.

NB: Ditulis oleh: Leony Setia RahmitaPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Standing In The Dark, Halaman 1 s.d 6 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + six =