Senyuman Terakhir

Senyuman Terakhir

Puing-puing kehidupan menyapa dengan sejuta angan. Memandang lelah pada takdir yang bergeming. Mengukir sejarah dan sejuta cerita kelam yang dibaluti harapan yang tak kunjung pudar. Bersama ombak kuberlari mengejar pelangi. Berjuang menegakkan bendera kehidupan hakiki yang penuh kedamaian.

            Satu tekad untuk selalu bersama, berbagi setiap keping persoalan yang membingungkan. Janjipun terucap di sudut ruangan yang panjang dan penuh misteri. Sebuah janji persahabatan yang kokoh. Itulah mereka yang selalu menghiasi hari-hariku. Sahabat seperjuangan ibarat keluarga. Bunga, Ifa, Meri, mereka adalah sahabat terhebat yang pernah aku temui. Sahabat bermain dan belajar. Kemana pergi selalu berpapasan. Bahkan tidak jarang jika ada salah satu diantara kami yang ingin ke toilet, maka yang lainpun juga ikut. Memang sangat konyol jika dibayangkan. Ke toilet saja harus bersama. Tapi begitulah kenyataannya. Kami tidak ingin kehilangan moment kebersamaan.

            Jurusan Ilmu Bahasa di Madrasah Aliyah Negeri 2 Payakumbuh. Disanalah aku dipertemukan dengan sahabat-sahabatku. Saling berkenalan, tegur sapa hingga menciptakan satu ikatan persahabatan. Ifa sangat suka bahasa Korea, penggemar berat artis Korea, apalagi artis yang terkenal dengan nama Taemin. Jika teman-teman sekelas bercerita tentang drama Korea terbaru, Ifa dengan semangatnya yang selalu ceria sentiasa mendengarkan. Selalu  mengajarkanku bahasa-bahasa Korea dan memberi pengetahuan tentang negara Korea. Aku yang tidak begitu suka Korea hanya berusaha mendengarkan dengan antusias.

            Berbeda dengan Ifa, si pemberani yang handal ini lebih menyukai bahasa Arab dan jago berbahasa Arab. Itulah dia, Meri. Selain menyukai bahasa Arab, ia juga mahir dalam berpuisi. Berbagai lomba puisi pernah diikuti. Aku bangga memiliki  sahabat yang berprestasi seperti Meri. Tapi si cantik dan pintar ini juga tak kalah jago berbahasa Inggris. Dialah Bunga, yang senyumnya selalu mekar tanpa putus asa. Menggoreskan semangat perjuangan yang tiada henti. Bunga yang selalu unggul jika berurusan dengan Mr. Petto, guru bahasa Inggrisku. Guru yang paling ditakuti di madrasah. Jika sudah berurusan dengan Mr. Petto, aku, Ifa dan Meri pasti langsung mundur. Bunga yang selalu berada di depan mendahului kami. Sangat takut jika dimarahi Mr. Petto, begitulah keluarga MAN 2 Payakumbuh biasa memanggilnya. Padahal sebenarnya Mr. Petto bukanlah guru pemarah. Hanya saja guru yang disiplin. Patuh akan peraturan-peraturan yang ada di madrasah. Menghukum setiap siswa yang melanggar. Itulah mengapa beliau sangat ditakuti. Namun lebih tepatnya beliau sangat disegani dan dihormati bagi siswa. Satu hal dari Mr. Petto yang tak pernah aku lupa hingga sekarang. Beliau selalu memanggilku dengan sebutan Cipy. Padahal jauh berbeda dengan namaku, Silvi. Begitulah masa-masa SMA. Masa-masa yang  indah dan menyenangkan.

            Aku sangat menyukai dunia kepenulisan. Mengarang berbagai cerita, menggoreskan tinta kehidupan mengikuti skenarioNya. Selain menulis, aku juga sangat suka belajar bahasa Jepang. Di kelas Ilmu bahasa aku belajar tentang menghargai setiap perbedaan. Semua masalah dihadapi bersama. Pernah suatu ketika, saat itu bertepatan dengan tahun baru. Aku menghadapi masalah yang begitu rumit. Berada diantara sahabatku dan sahabatku. Jika diharuskan untuk memilih, aku yakin tidak akan mampu memilih karna sahabat-sahabatku adalah orang pilihan yang Allah kirimkan untukku. Aku tahu Allah akan memberikan orang-orang yang baik pada kita jika kita selalu menebar kebaikan kepada sesama.

            Bermenung sendiri dirumah, menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Aku merasa bosan tidak ada kerjaan. Sedang asyknya melihat layar televisi, tiba-tiba ada panggilan telepon dari Bunga. Katanya Bunga dan Meri akan datang ke rumahku untuk bermain. Kebetulan rumahku berada jauh dari kota Payakumbuh. Mereka menyuruhku mempersiapkan makanan kesukaannya. Dengan senang hati aku langsung menyiapkan apa yang mereka inginkan.

            Tiga jam berlalu, aku terus menunggu kedatangan sahabat-sahabatku. Tepat usai shalat ashar hpku berdering. Dengan segera aku mengangkat telepon dari nomor yang tak dikenal.

“Assalamualaikum, Dik, maaaf ya mbak gak jadi ke rumah.” Terdengar suara Bunga diujung sana dengan penuh kesayuan.

“Lho, kok gak jadi mbak? Kenapa? Adik udah siapin makanan kesukaan mbak nih” ucapku dengan semangat memamerkan masakanku.

“Maaf dik, mbak sama Meri kecelakaan, sekarang lagi dirumah sakit, dekat rumah Meri.” jawab Bunga yang menahan rasa sakit, karna terdengar jelas ditelepon.

            Mendengar kabar yang mengerikan itu, aku langsung meminta izin pada mama untuk pergi ke Batusangkar. Secara diam-diam ternyata Bunga dan Meri pergi jalan-jalan ke kampung Meri. Diantara kami, hanya Bunga dan Ifa yang berasal dari Payakumbuh. Mereka tidak pernah memberitahuku saat pergi ke Batusangkar. Rencananya mereka akan ke rumahku yang berada di Suayan setelah bermain di Batusangkar. Betapa khawatirnya aku akan keselamatan mereka. Karna bagiku mereka ibarat saudara. Kakak yang selalu mengajarkanku banyak hal. Diantara mereka, akulah yang paling kecil. Aku merasa sangat disayangi dan dimanja. Mendapatkan perhatian yang tiada terkira.

            Sebelum Isya aku sampai di rumah sakit, akan tetapi aku tidak menemukan Bunga maupun Meri. Aku mencoba untuk menelpon orang tua Bunga dan katanya Bunga sudah dibawa ke Payakumbuh ditemani Meri dan seorang teman laki-lakinya. Karna kekhawatiranku, tanpa peduli keadaan dan udara malam yang dingin aku langsung mengendarai motorku menuju rumah Bunga.

            Di Ngalau Indah tepatnya, aku memarkirkan motor di halaman. Berlari masuk tanpa permisi karna kami sudah kenal akan keluarga masing-masing. Orang tua kami sudah sangat memahami bagaimana persahabatan kami yang begitu dekat. Aku dapati Bunga yang tengah terbaring. Hatiku terasa ditusuk jarum yang runcing. Wajah sahabatku tak lagi seperti sedia kala. Bibirnya luka parah dengan darah yang terus mengalir. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan jadi seperti ini. aku memeluk Bunga erat, mencoba menguatkan semangatnya.

            Aku bersyukur Meri tidaklah begitu parah, hanya tangannya yang sakit karna terhimpit motor ketika jatuh ke jalan. kakiku terasa berat untuk melangkah. Tidak tau harus berbuat apa. Begitulah kehidupan, kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di hari esok. Semuanya sudah berada pada garis skenario Tuhan yang Maha Kuasa. Jika Dia sudah berkehendak, maka tidak ada yang dapat menentangnya.

            Hari demi hari berlalu, detak waktu terus berjalan. Ifa, Meri dan aku tetap sekolah seperti biasa, sedangkan Bunga harus beristirahat di rumah. Hariku terasa hampa karna kami tidak lengkap. Setiap hari kami hanya bertiga. Hingga seminggu setelah kecelakaan itu, aku menerima telepon dari Bunga yang sudah beberapa hari aku tidak berkunjung ke rumahnya karna sibuk sekolah.

“Assalamualaikum, dik,” terdengar suara Bunga yang tengah menangis.

“Waalaikumussalam mbak, gimana kabarnya? Maaf adik belum sempat ke rumah karna banyak tugas, mbak kenapa kok nangis?” aku mulai merasa ada yang tidak beres dan mencoba menanyakan apa yang terjadi.

“Dik, kamu memanglah yang terbaik, jangan tinggalin mbak ya dik?”

“Aduh mbak, jangan bikin dik penasaran gini, mbak kenapa? Cerita dong mbak.” Ucapku memohon.

            Dengan panjang lebar aku berbicara dengan Bunga tentang masalah yang terjadi. Kecelakaan kemarin membuat semuanya menjadi kacau. Papa dan mama Bunga tidak lagi mengizinkannya untuk dekat dengan Meri. Bunga menjelaskan padaku bahwa orang tua Meri datang melihat dirinya yang masih terbaring sakit. Menceritakan tentang Meri yang pergi dari rumah karna dimarahi kakaknya.

            Saat senja menyapa, aku termangu menatap langit, mencoba menerima segala ketentuannya. Memang benar sahabat sejati hanyalah titipan Illahi yang menemani dikala suka dan duka. Allah bisa mengambilnya kapan saja. Lamunanku terhenti ketika sosok itu datang, wajah laksana pahlawan yang pemberani, Meri. Aku tersenyum melihatnya. Aku bersyukur karna Meri masih ingat padaku.

“Dik.” Meri memelukku erat sambil menangis.

“Mbak ? kenapa kok nangis? cerita dong mbak.” Ucapku prihatin.

“Dik, maafkan mbak dik, mbak udah ngecewain semuanya, maafkan mbak, mbak janji akan berubah dik, kamu bantu mbak ya dik? Jangan tinggalin mbak.”

“Aduh mbak, emng ada apa sebenarnya? Dik jadi gak ngerti.”

            Menangis dipelukanku, Meri bercerita tentang kepergiannya dari rumah. Satu hal yang mengejutkanku, ternyata laki-laki yang diajaknya ke rumah Bunga saat kecelakaan itu ialah pacarnya. Laki-laki berwajah sayu dan polos. Memiliki tubuh yang tinggi. Sedikitpun Meri tidak pernah memberitahuku. Sedangkan pada orang tua Bunga ia mengaku kalau laki-laki itu abang kandungnya. Aku tidak menyangka betapa Meri begitu tega membohongi orang tua sahabatnya sendiri. Padahal orang tua Bunga sudah menganggap kami seperti anak kandungnya. Tak pernah terbayangkan bagiku betapa marahnya mereka karna dibohongi.

            Nasi sudah menjadi bubur. Masalah besar sudah berada di depan mata. Ingin sekali rasanya aku marah, marah tanpa tujuan yang jelas, marah akan kejamnya kehidupan. Aku menangisi kenyataan pahit persahabatanku. Entah mungkin aku yang lalai sebagai sahabat, sebagai adik yang tak pernah memberikan perhatian pada kakak-kakakku. Adik yang hanya ingin mendapatkan kasih sayang tanpa peduli pada orang lain. Itulah akibatnya jika kita tidak berfikir dahulu sebelum bertindak. Persahabatan kami menjadi retak karna ulah kami sendiri. Aku yang tidak tahu apa-apa mencoba mencari jalan keluar agar kami bisa bersama lagi.

            Semenjak perselisihan itu hariku bertambah kacau, hatiku menjadi tidak tenang. Persahabatan yang selama ini dibina dengan baik, sekarang hancur begitu mudahnya. Meri memintaku untuk menjelaskan pada orang tua Bunga. Ia mengaku menyesal karna telah berbohong. Aku berusaha mempersatukan semuanya kembali. Menyambung tali yang telah putus. Tapi apa daya, semuanya berakhir sia-sia. Semenjak hari itu, Meripun menghilang dari kehidupan kami. Tak pernah memberi kabar, hilang tanpa jejak.

            Beberapa bulan berlalu, tepat pada tanggal 14 Mei 2015, tak sengaja aku bertemu Meri di sebuah taman di pinggiran kota. Aku mengajaknya untuk berfoto dan makan bersama. Melepas kerinduan yang beberapa bulan terpendam. Mengembalikan moment kebersamaan yang pernah retak. Meri dengan lembut menolak karna ia tidak ingin aku meninggalkan Bunga sendirian. Aku tau Meri amatlah menyayangi Bunga. Sedangkan aku lebih menyayangi Ifa karna ia adalah gadis yang amat kuat. Gadis yang ditinggal semenjak kecil oleh ayah dan ibunya yang sudah pergi menghadap sang Khaliq. Diantara mereka, memang aku lebih dekat dengan Ifa. Berbagi masalah pribadiku padanya.

            Tanpa aku sadar bahwa pertemuanku dengan Meri di taman siang itu merupakan perpisahan yang sebenar-benarnya. Berpisah untuk waktu yang belum tentu akan bertemu. Berpisah dengan si pemberaniku. berpisah dengan sosok yang selalu aku banggakan. Berpisah dengan kakak keduaku. Karna dengannya aku belajar berbahasa Arab, karnanya aku mencoba untuk menghafal Al-Qur’an ayat demi ayat. Tanpa aku tau kalau hari itu ialah hari terakhir aku melihat senyuman polosnya. Senyuman yang melahirkan kedamaian dan kenyamanan dihati. Aku rindu bertemu Meri. Aku rindu berkumpul kembali bersama mereka. Sahabat-sahabat terhebat. Semangatnya yang selalu membara. Semua hanya tinggal kenangan, tersimpan indah dalam ingatan.

“Cintailah sahabatmu selagi ada. Bangunlah persahabatan yang kokoh dengan penuh kejujuran. Persahabatan yang akan menuntunmu ke SyurgaNya yang mulia.”

NB: Ditulis oleh: Silvina Nugrashifa RukmanaPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Rahasia Surat Farhan, Halaman 19 s.d 27 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten − 3 =