Rahasia Surat Farhan

Rahasia Surat Farhan

Adalah rindu yang selalu datang saat semua terasa jauh. Dan rindu yang mencoba menggali seberapa dalam rasa yang ada dalam hati. Karena waktu, yang entah kapan berakhirnya teka-teki kisah ini. Menanti datangnya cinta yang indah, seindah cinta di negeri dongeng. Yang perannya selalu membawa kemenangan di akhir cerita.

“Bentar ya, Fa..” Tubuh yang agak gemuk dan berhijab itu segera berdiri dan menjauh dari tempat duduknya, sambil terburu-buru mengangkat telfon yang sedari tadi berbunyi dan berjalan menuju pintu kelas.

2 menit lebih 50 detik kemudian.

“Dari siapa, Din? Kayaknya serius banget” Tanya Syifa, gadis berwajah cantik, tinggi dan berhijab merah muda. Siapa yang tak senang memandangnya. Rumput layu pun akan menjadi segar ketika ia lewat dihadapannya. Parasnya pun mampu menundukkan segenap hati kaum Adam. Tapi, Syifa tak menyadari kesempurnaannya.

“Biasa, keluarga sayangku.. Sudahlah, lanjutin ini tugasnya, ditutup dulu Al-Qur’annya, Fa, keburu dosennya masuk” Mereka tidak nampak seperti teman bahkan sahabat. Hampir seluruh orang yang melihat akan mengira bahwa mereka adalah saudara kembar. Yang hanya dibedakan oleh tinggi badan, dan postur Dinda yang sedikit berisi dan Syifa yang ideal.

“Keluarga atau calon keluarga hayooo.. haha.. “ Dan akhirnya gelak tawa mereka pun keluar. Seluruh isi ruangan ikut tersenyum ketika memandang kebahagiaan yang ditimbulkan dua gadis berhijab itu.

* * *

Berseragam putih dengan rok abu-abu kebiru-biruan.Ia kayuh sepeda kesayangannya. Terlihat keranjang besi berlapis putih di depan, dengan corak karat yang jelas terlihat bahwa sepeda itu sudah cukup tua.  Tunggu. Bibirnya tak hanya diam bungkam. Ya. Ia berdzikir sembari mengayuh sepeda dan menelusuri jalan yang sesak akan debu. “Subhanallah.. Walhamdulillah.. Walaa ilaa haillallah.. Allahuakbar

Senja itu, ia lewati dengan hamparan lelah yang menjalar di tubuhnya. Sesekali tiupan angin menerpa sehelai jilbab putih yang menutupi kepalanya. Sampai ia berbelok dan berhenti pada sebuah rumah sederhana yang rindang akan dua pohon mangga di halamannya.

“Assalamu’alaikum” Ucapnya sambil menyandarkan sepedanya di dinding teras. “Wa’alaikumsalam nduk[1]. Eh, tumben jam segini baru pulang?” Teriak ibunya dari dapur yang sedang mengaduk sayur sop.

“Iya bu. Tadi Syifa ditunjuk bu Nurul untuk mengikuti lomba khitobah arabiyah[2]bu..” Dengan raut wajah yang nampak lelah, ia tetap santun dan bersikap lembut terhadap ibunya. Auranya yang selalu terlihat cantik, membuat ibunya semakin menyayanginya.

“Lalu? Kamu terima, nduk?” Lanjut tanya ibunya.

Injeh[3] bu,” Meraih tangan ibu dan mengecupnya, “Syifa bersedia mengikuti lombanya. Syifa juga langsung mendapat bimbingan dari bu Nurul” Jelasnya dengan santun.

“Ibu selalu mendo’akan yang terbaik buat kamu, nduk.”

“Terima kasih bu, Syifa sayang sama ibu” ia tersenyum penuh kegirangan sambil melingkarkan kedua tangan ke tubuh ibunya dari belakang, dan belum sempat ibunya menjawab Syifa pun menyela ucapannya, “Kalau begitu, Syifa mandi dulu ya bu, sudah gerah ini” Gumamnya sembari mengibaskan jilbabnya.

“Gerah tapi peluk-peluk ibu kamu ini, nduk. Setelah mandi kamu makan. Ibu siapkan di meja” Ibunya pun berjalan menuju meja makan sambil menoleh ke tempat Syifa masih berdiri. Ia pun mengangguk dan tersenyum, tanda mengiyakan perintah ibunya. Dan tanpa banyak bicara lagi, Syifa menyambar handuk yang ada di belakangnya, tepat di depan kamar mandi.

* * *

“Astaghfirullah..” teriak lelaki yang meloncat ke tengah jalan secara tiba tiba itu. Ia pun bergerak cepat dan segera meraih kucing yang tengah ditabrak oleh mobil. Dengan sigap, ia menggendong kucing berbulu putih keabu-abuan itu dan kembali menyeberang ke pinggir jalan,“Syukurlah kamu selamat. Sana pergi main, jangan nakal lagi ya pusss..” Sambil melepaskan kucing bermata biru itu dan melihatnya berlari menuju pada seorang gadis kecil.

“Kau tidak apa-apa Kitty?” gadis itu bertanya dan mengendong kucing kesayangannya dengan penuh cinta, “Hem? Baiklah. Kak, terima kasih ya. Kalau kakak tak menyelamatkan Kitty, apa jadinya aku.” Gadis kecil itu pun membelai bulu lembut kucingnya sambil memasang wajah gembira kepada lelaki bertubuh ramping dan tampan itu. Namun, ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu ia bergegas memalingkan pandangan dan seakan akan mencari sesuatu yang dari tadi ia nanti. Ia segera meninggalkan gadis kecil itu sendiri dan berlari kecil untuk mengejar seseorang. Entah.

“Ah.. Telat lagi” gumamnya sendiri, “Sayangnya ku hanya dapat memandangmu dengan cara seperti ini” Ia masih terlihat mencari-cari seseorang yang ada di seberang jalan, “Hati-hati, Syifa”Ucapnya dalam hati sambil berjalan kembali membawa tas di punggungnya.

* * *

Setelah satu pekan sudah terlewati. Inilah saat-saat yang dinanti Syifa. Dengan hati yang penuh percaya diri dan tentu saja tak lepas dari rasa gugup, ia mencium tangan ibunya sebelum berangkat.

“Jangan lupa baca do’a, banyak-banyak sholawat nduk.” Tutur ibu Syifa.

“Insyaallah bu, Syifa berangkat. Assalamu’alaikum..” Syifa pun menuntun sepedanya keluar halaman.

“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya nduk.” Sambil melambaikan tangan pada anak gadis semata wayangnya itu. Syifa pun membalas lambaian tangan ibundanya.

            Sedari kecil, Syifa terbiasa hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya sudah tiada saat Syifa masih dalam kandungan karena kecelakaan yang menimpa ayahnya. Beruntung Syifa memiliki ibu yang tidak hanya menyayanginya, tapi bagi ibunya, Syifa adalah satu-satunya permata yang sangat berharga yang dimiliki ibunya.

            Di tengah keramaian jalan, Syifa terus mengayuh sepeda warna merah muda miliknya. Tak henti-hentinya lantunan dzikir yang keluar dari bibir manisnya. Sesekali ia melafadzkan khitobah yang akan ia sampaikan. Matanya yang bening, berkali – kali ia usap karena terpaan debu di sepanjang jalan. Mata eloknya pun berhenti pada satu arah. Dan tiba-tiba “Masyaallah..” dengan tangan yang mencekram rem begitukuat, ia pun berhenti. Syifa segera turun dari sepedanya dan bergegas untuk melangkah ke tengah jalan. Seekor kucing kecil berada di tengah jalan yang kebingungan mencari celah untuk menyebrang. Hati Syifa terhentak ingin menyelamatkan kucing mungil itu. Namun, langkah Syifa terhenti sejenak.“Alhamdulillah, kucingnya selamat. Semoga Allah membalas kebaikan pemuda itu” Gumamnya lirih sambil kembali memegang kemudi sepedanya dan melanjutkan perjalanan paginya.

            Terlihat dari gerbang sekolah, sesosok gadis yang sebaya dengan Syifa menghampiri dirinya. Ia sedikit lebih pendek daripada Syifa. Tubuhnya yang agak gemuk, membuatnya menjadi terengah-engah ketika berlari menghampiri Syifa yang baru saja sampai di sekolah.

“Syifa.. Semangat ya! Tunjukkan kalau MA Rahmatul Huda bisa!” teriaknya kepada Syifa

“Iya Din, do’akan aku ya..” sahut Syifa sambil menuntun sepeda ke tempat parkir sekolah dan sesekali membenarkan lipatan kerudungnya yang sedikit berantakan karena angin di perjalanan tadi.

“Pasti, Fa..” Ia pun merangkul pundak Syifa penuh bangga.

Ketika usai menyandarkan sepedanya di tembok parkiran, Syifa tertunduk dan sedikit terkejut saat bu Nurul sudah berada di dekatnya.

“Syifa, sudah siap?” Tanya bu Nurul kepada Syifa dengan tatapan ramah.

“Insyaallah bu..” dengan raut wajah yang terlihat gugup, Syifa mengikuti bu Nurul ke mobil sekolah untuk menuju ke Pondok Pesantren Al – Kautsar yang jaraknya sekitar 17 km dari sekolahnya. Dinda pun mengantarkan Syifa. Hingga Syifa pun masuk ke dalam mobil. Dua sahabat itupun melambaikan tangan hingga di depan pintu gerbang MA Rahmatul Huda.

* * *

“Alhamdulillah.. Farhan,Ibad, kita sudah sampai. Setelah ini, bapak akan mengantarkan kalian ke tempat daftar ulang dan kalian bisa langsung masuk ke aula” Ucap pak Imron selaku guru pembimbing.

“Baik pak..”Mereka pun mengangguk dan menjawab serentak. Mereka segera turun mengikuti langkah pak Imron.

* * *

“Syifa, nanti setelah selesai khitobah, kamu bisa langsung ke kantin pondok. Ibu tunggu di sana. Banyak-banyak baca do’a ya nak..” Sambil membelai kepala Syifa yang tertutup jilbab putihnya.

“Iya bu, terima kasih. Kalau begitu Syifa masuk ke aula dulu. Mohon do’anya bu” sambil mengecup tangan bu Nurul. Dan ibu gurunya pun hanya mengangguk dan tersenyum bangga.

            Dalam rangka menyambut tahun baru islam, kali ini banyak berbagai macam lomba yang diadakan di Pondok Pesantren Al-Kautsar. Khitobah Arabiyah, tilawatil quran[4], muhafadzah juz amma[5], qiro’atul kutub safinatun najah[6]dan Festival Al banjari.

            Setelah beberapa menit mendapat pengarahan, Syifa pun segera menuju ke sebuah ruangan yang telah ditentukan oleh panitia untuk khitobah arabiyah. Kartu tanda peserta sudah ia dapatkan, tinggal menunggu namanya terpanggil. Syifa sedikit kurang percaya diri saat melihat penampilan peserta lainnya yang memukau para juri. Dan kini tibalah saatnya giliran Syifa menunjukkan kemampuannya. Dengan suara yang tegas, kefasihannya dalam mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa arab membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut tercengang dengan keluarbiasaannya. Terlebih saat ia menyelipkan sholawat dalam pidatonya. Semua ikut hanyut dalam lantunan sholawatnya. Subhanallah..

            Akhirnya ia dapat bernafas lega. Ia mendapatkan standing applause dari para audiens. Syifa bersyukur, khitobahnya kali ini begitu baik. Setelah selesai, Syifa diperkenankan meninggalkan ruangan. Ternyata ia melewati satu ruang yang digunakan untuk tilawatil qur’an. Ia berhenti sejenak dan mengingat-ingat kejadian tadi pagi. Syifa masih ingat benar wajah seorang pemuda yang sedang tilawah adalah pemuda yang ia lihat tadi pagi. Ya. Dia yang menyelamatkan seekor kucing itu. Suaranya, subhanallah.. Jiwa Syifa ikut larut dalam bacaannya. Syifa menunggu pemuda itu sampai selesai, hingga pemuda itu keluar. Syifa tak sempat membaca nama yang tertera di kartu tanda pesertanya ”Andai aku..” batinnya.

            Setelah menemui bu Nurul di kantin dan makan bersama, Syifa pun menuju ke mobil. Ketika itu tiba – tiba ada sesosok yang menghentikannya.

Syifa pun menoleh ke belakang dan..

“Syifa? ” panggil Farhan dengan mendekap Al – Quran.

“Anda mengenal saya?” tanya Syifa dengan penuh heran.

Farhan hanya tersenyum dan menundukkan kepala. “Saya hanya hendak memberikan ini” lanjut Farhan sambil menyodorkan Al-Qur’an bersampulkan kulit berlapis biru yang berukuran kecil.

“Tapi, ini..” tak sampai melanjutkan perkataannya, Ibad sudah meninggalkan Aila. Lalu ia pun bergegas masuk ke dalam mobil.

            Begitu sampai di sekolah, Syifa sudah dinanti oleh Dinda. Syifapun menceritakan kejadian yang ia alami tadi. Dinda hanya tersenyum saat Syifa bercerita tentang seorang pemuda yang memberikannya sebuah Al-Qur’an. “Aku masih bingung. Apa maksud dia memberikanku Al-Qur’an ini ya Din?” Tanya Syifa  kepada Dinda yang sedari tadi tersenyum melihat kepolosan sahabatnya itu. “Mungkin. Itu penggemarmu Fa.. Hahaha..” Mereka pun tertawa lepas sambil sesekali saling mencubit tangan. “Kau akan tahu setelah kau membuka Al-Qur’an itu..” Batin Dinda dalam hati.

* * *

            Yang tak pernah dikira, yang tak pernah diduga. Jarak tak pernah berubah, yang berubah hanyalah perasaan dan keyakinan. Sejauh apapun, sedekat apapun, bila debu tak menyentuh mereka, apa yang bisa insan perbuat.

Di kamar tidur yang sangat sederhana, Syifa hendak membaca Al Qur’an pemberian Farhan yang tak ia kenal selesai menunaikan sholat Ashar. Ketika ia membukanya, jatuhlah sepucuk surat dari halaman awal mushaf suci itu. Perlahan ia mulai membaca

“Ketika mata ini terhenti, dan menatap kelembutan At Thariq

Terlintas bidadari yang menepuk hati

Dan saat itulah ku sebut namamu dalam tilawah malamku

Telah Tuhan kirimkan cinta yang terpendam

Kini ku akui, ku ingin kau tahu isi cinta itu, itulah hatiku”

            Tanpa Syifa sadari, ia menitihkan air mata. Ia terharu seakan tak percaya bahwa seseorang telah mengagumi  dirinya. Ia larut dalam bacaan surat At Thariq. Syifa berdiri mengambil sesuatu dan mencoba menulis diatas meja belajarnya tanpa melepas mukenah yang ia kenakan. Ia masih terbayang sosok yang memberikannya Al-Qur’an itu. Hingga tak terasa mega merah membangkitkannya untuk segera menghadap kepada Sang Maha Cinta.

* * *

“Syifa sedang bersamaku, kau tak ingin berbicara dengannya?  Kau tak ingin dia mengetahui dirimu? Baiklah.. Tapi, dia tetap mengira bahwa Farhan yang telah memberikan Al-Qur’an dan surat kecil itu. Sudah sejak 1 tahun yang lalu kau tak ingin Syifa tahu siapa lelaki dibalik mimpinya itu. Ia hanya membayangkan pemuda itu adalah Farhan, bukan kau Ibad. Sejak saat itu, ia hanya ingin bertemu dan memberikan balasan suratnya untuk Farhan, seharusnya kan kamu yang menerima balasan dari Syifa.Andai Syifa tahu lelaki yang sedang tilawah Al-Qur’an saat itu adalah yang memberinya surat. Andai Syifa tahu kau yang selalu menunggunya di tepi jalan saat ia berangkat sekolah. Semua terserah padamu, tapi ingat, jangan bawa mimpi Syifa terlalu jauh. Iya, sama-sama. Wa’alaikumsalam”

Nada bicaranya yang terlihat begitu kesal seusai menutup telfon, membuatnya menjadi pusat perhatian oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang lewat di depan kelasnya. Ia segera menciptakan seuntai senyuman saat menoleh ke arah Syifa. “Apa yang telah Ibad lakukan padanya, ampuni aku Ya Rab..” Ucapnya lirih. Ia pun segera berjalan cepat menuju bangku yang tadi ia duduki di dekat Syifa.

* * *

“Gadis yang mana?”

“Kau lihat? Dia yang berjilbab putih disana.”

“Tapi mengapa kau tidak memberikannya langsung atau menitipkannya pada sepupumu yang cerewet itu?”

“Dinda maksudmu? Jika Al-Qur’an dan surat ini aku berikan padanya, Syifa pasti akan bertanya panjang tentang siapa, dan apa maksud dari pemberianku ini lewat Dinda. Biarkan diriku mencintainya dengan caraku. Kau masih mau membantuku?”

“Kau tak perlu menanyakannya sobat..”


[1] Panggilan adat jawa orang tua kepada anak perempuan

[2] Pidato berbahasa Arab

[3]Iya(bahasa Jawa)

[4]Membaca indah Al Quran

[5]Menghafal Juz Amma

[6]Membaca kitab ‘Safinatun Najah’

NB: Ditulis oleh: Lailul Muthiah, Penerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Rahasia Surat Farhan, Halaman 1 s.d 11. Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 5 =