Perkenalan Berujung Penyesalan

Perkenalan Berujung Penyesalan

Entah kenapa aku ingin mengecek handphoneku saat itu.  Aku berpikir mungkin ada yang menghubungiku  saat aku memasak tadi.  Saat aku melihat isi handphone, aku tak lupa membuka aplikasi bbm yang ada di  handphoneku. Ternyata aku menerima satu undangan pertemanan baru dari seseorang yang tak ku kenal. Tanpa berpikir panjang aku terima saja permintaan pertemanan di bbm tersebut. Untuk semakin menambah banyak teman pikirku. Saat seseorang itu secara resmi menjadi teman di bbm, aku berpikir dalam hati,”oh cowok ya, kok gak pernah kenal ya sebelumnya, anak mana ya, sepertinya dilihat dari gayanya sih kayak mahasiswa olahraga”. Aku terus berusaha mengamati teman baruku tersebut. Namun, aku tak berani menyapa duluan.  Biarlah kan dia yang meminta pertemanan padaku. Dia dong yang seharusnya menyapaku duluan pikirku.

Tak berapa lama kemudian, aku menerima pesan baru dari seseorang melalui bbm, eh! Ternyata dia, teman baruku di bbm. Di pesannya dia berkata, “hai, salam kenal ya J”. Aku pun langsung membalas pesannya, “ iya, salam kenal juga”. Kemudian kami pun mulai bertanya satu sama lain. Layaknya dua orang yang baru saling kenal. Dari perkenalan itu aku mengetahui bahwa dia bukanlah mahasiswa olahraga seperti dugaanku sebelumnya. Ternyata dia adalah seorang anggota salah satu pasukan kebanggaan negeri ini. Dia bercerita kalau dia sedang bertugas di seberang pulau. Saat aku bertanya darimana dia mendapatkan pin bbmku, dia menjawab bahwa dia mendapatkannya dari temannya yang notabene merupakan kawan satu ranjangku di kos.

Sejauh ini berinteraksi dengan dia sangatlah menyenangkan. Dia pintar mencairkan suasana. Ngobrol dengan dia melaui bbm tidak pernah membosankan. Saat itu dia sempurna mengisi hatiku yang lagi membutuhkan teman untuk berbagi. Apalagi saat itu aku lagi tidak mempunyai pacar alias jomblo. “Apa salahnya”, pikirku. Bahkan, saat itu aku mulai berpikir tentang hubungan yang lebih sekedar dari teman. Entahlah.

Hubungan kami kian hari semakin dekat saja, dari yang awalnya hanya berkomunikasi melalui bbm, berlanjut melalui saling tukar nomor handphone. Hampir setiap saat dia mengabariku, menanyakan keadaanku, bertanya banyak hal. Serperti ”udah makan belum?”, “ udah sholat kan?”, “lagi ngapain?” atau dia melaporkan semua kegiatan yang dilakukannya padaku. Terkadang dia juga mengirimkan fotonya padaku. Saat itu, dia terlihat sangat sempurna di mataku.

Disuatu malam minggu, akhirnya dia mengungkapka perasaan cintanya padaku, melaui telepon ia berkata, “ada sesuatu yang pengen abang sampaikan sama adek” katanya. “apa itu bang?”, tanyaku penasaran. “gini, abang punya satu pertanyaan”, lanjutnya. “yaudah Tanya aja, gak usah buat adek penasaran bang”, kataku tak sabaran. “oke, abang mau nanyak, adek punya pacar gak?”, tanyanya. “sudah berapa kali adek bilang kalau adek gak punya pacar bang, gak percaya kali sih jadi orang”, omelku. “bukan gak percaya, abang cuma memastikan aja”, katanya. “oh gitu, adek memang gak punya pacar bang. Memang kenapa rupanya? Kalau aku punya pacar apa untungnya sama abang? Dan kalau aku gak punya pacar apa efeknya sama abang?”, tanyaku. “abang pengen mengungkapkan perasaan abang sama adek, kalau abang suka sama adek. Abang udah tertarik sama adek semenjak pertama kali kita komunikasi. Abang pengen hubungan kita ini lebih dari yang sekarang”. Aku pura-pura tidak tahu dengan maksud dari kata-kata dia. Aku pun bertanya lagi, “ maksudnya apa bang? Kalau ngomong yang jelas dong. Biar adek ngerti”, padahal aku ngomong seperti itu sambil senyum-senyum sendiri. “oke, abang mau tanya, mau gak adek jadi pacar abang?”, akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Aku hanya senyum-senyum saja mendengar ucapannya. “adek jawab dong! Kok Cuma diam aja”, katanya. Saat itu, disatu sisi aku merasa sangat senang dengan pengakuannya. Tetapi, disatu sisi entah kenapa aku merasa ragu, menurutku ini semua terlalu cepat. Akhirnya aku menjawab pertanyaan dia, “maaf bang, untuk saat ini adek belum bisa jawab, adek harap abang gak marah ya”, kataku. “okelah kalau itu udah jadi keputusan adek, abang bakal terima. Abang bakal nunggu jawaban dari adek. Yang penting abang udah lega bisa mengungkapkan perasaan abang ke adek”, katanya. “maaf ya bang, udah dulu ya. Assalammualaikum”. Dia pun menjawab,“ iya dek gak apa-apa kok. Walaikumsalam”.

 Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB, aku baru menyadari kami sudah bertelepon ria sejak dua jam yang lalu. Aku kembali memikirkan kembali isi percakapan kami tadi. Kuakui kalau aku memang tertarik dengan dia. Namun, entah mengapa ada rasa keraguan didalam hatiku. Aku rasa ini terlalu cepat. Mungkin lebih baik kami menjalin pertemanan dulu pikirku. Daripada jika dipaksakan bakal kandas seperti kisah cintaku sebelumnya.

Aku bukanlah tipe orang yang mudah untuk menjalin hubungan baru dengan seseorang. Terbukti aku baru sekali pacaran. Tapi, sayangnya hubungan itu harus berakhir disaat satu hari menjelang genap hubunganku dengan kekasihku yang dulu enam bulan. Ada trauma tersendiri. Karena, saat itu dia yang memilih memutuskan hubungan kami. Rasa sakitnya itu masih terasa sampai sekarang. Bukannya aku tidak berusaha membuka hatiku kepada orang lain, tapi setiap aku dekat dengan orang yang baru ada saja rasa tidak cocok di hati ini. Hal yang berbeda terjadi padaku saat ini. Aku merasa jatuh cinta lagi, aku bisa merasakan perasaan seperti tiga tahun yang lalu. Semuanya terasa indah. Tapi, biarkan sajalah dulu hubungan kami ini seperti ini. Liat saja kedepannya.

Semenjak dia menyatakan perasaannya di malam minggu itu, dia semakin intens memberi perhatiannya padaku. Hampir setiap ada kesempatan dia mengabariku. Tapi, bila malam tiba aku sedikit merasa janggal dengan sikap dia. Jika menjelang jam 20.00 WIB, dia pasti pamit untuk apel malam, “abang apel dulu ya dek”, katanya. Aku tahu pekerjaannya menuntut dia untuk melaksanakan apel hampir setiap malam. Setahuku apel itu dilaksanakan hanya sekitar 30 menit. Toh, kalaupun lama aku rasa tidak lebih dari satu jam. Namun, dia pasti kembali mengabariku paling cepat pada pukul 23.00 WIB. Lama sekali pikirku. Jika aku bertanya, “abang darimana kok lama kali?”, dia selalu menjawab, “abang baru saja habis apel dek”. Walaupun aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya, namun aku tak pernah bertanya lebih jauh lagi. Aku bukan siapa-siapanya kan?

Pertanyaanku tentang sikapnya yang aneh setiap malam itu akhirnya terjawab.Saat itu hari jum’at. Sekitar pukul 11.00 WIB dia mengabariku untuk sholat jum’at. Tak ada yang aneh sejauh ini. Namun, bagai disambar petir disiang bolong, aku mendapatkan kabar yang luar biasa membuatku kecewa. Tiba-tiba saja aku mendapatkan pesan dari temanku yang mengenalkanku padanya. Awalnya dia bertanya,”Ika masih dekat sama Riki?”. Tanpa merasa curiga aku menjawab, “masih, hubungan kami sejauh ini baik-baik saja. Emang kenapa?”, tanyaku penasaran. “aduh, gini deh coba buka facebook, cari akunnya Rio Smanja”, katanya. “ada apa sih ini? Aku gak ngerti?”, tanyaku bingung. “ udah buka aja. Nanti Ika tahu sendiri kok”, katanya.

Aku menuruti apa yang disarankan oleh temanku. Aku membuka facebook dan mencari aku seperti yang dibilangnya tadi. Ya, aku menemukan akun facebook atas nama Riki Smanja. Nama yang aneh pikirku. Aku buka akun tersebut. Jantungku rasanya mau copot tatkala aku mengetahui bahwa laki-laki yang mendekatiku intens selama beberapa hari ini, yang memperlakukan aku layaknya kekasihnya ternyata sudah memiliki kekasih. Apa maksud semua ini. Terlihat di akun itu foto-foto yang dikirimnya ke aku ternyata diunggahnya ke facebook juga. Terlihat adanya interaksi dia dengan seorang perempuan yang kalau dilihat dari cara mereka berinteraksi adalah kekasihnya. Aku penasaran dengan perempuan itu. Kemudian aku buka akunnya. Benar, mereka memang pasangan kekasih. Terlihat bahwa semenjak bang Riki mendekatiku hubungan mereka renggang. Apa maksud bang Riki dengan semua ini? Tanyaku. Oke, berarti dia hanya mempermainkanku. Terbukti, dia sudah mempunyai kekasih kan. Rasanya harga diriku hancur saat itu. Aku paling pantang ada diantara hubungan orang lain. Seperti tak ada laki-laki lain saja. Tak ada gunanya hubungan ini diteruskan. Dimana perasaanku sebagai perempuan. Bagaimana bila ini terjadi denganku.

Aku berusaha menghubungi dia, berkali-kali aku mengirim pesan. Tak ada jawaban. Aku tak putus asa. Bagiku urusan ini harus segera selesai. Setelah aku mengirim pesan yang kesekian kali. Akhirnya, dia membalas pesanku. Dia mengatakan kalau dia tidak punya hubungan yang spesial dengan perempuan itu. “abang gak punya pacar dek. Dia itu cuma cewek yang suka sama abang. Tapi, abang gak suka sama dia. Abang kan sukanya sama adek”, rayunya. Aku tak percaya begitu saja. Bukti sudah didepan mata. Apalagi yang mau disangkal. “tolong jujurlah bang, adek gak marah kok. Kalau memang abang sudah punya pacar, akuilah bang. Adek minta maaf karena udah ganggu hubungan orang”, kataku. Hatinya akhirnya tersentuh. Dia mengakui semuanya. “ iya abang memang udah punya pacar. Kami udah pacaran hamper 3 tahun. Abang yang salah karena abang yang mendekati adek. Adek mau kan maafin abang? Adek mau kan temenan sama abang?”, tanyanya. “yaudahlah bang semuanya udah terjadi kok mau gimana lagi. Untuk sementara waktu kita gak usah ada komunikasi ya. Pesan adek, abang tolong setia sama pacar abang. Kasihan dia”. Kataku. “iya dek, abang bakal setia sama dia, abang bakal jagain dia”, jawabnya. Aku memutuskan tak membalas pesannya lagi.

Aku sangat menyesali kejadian itu. Kenapa aku tidak meneliti dulu siapa sebenarnya dia. Beginikan jadinya. Rasanya aku malu sekali. Aku benci. Sangat benci kepadanya. Aku tak ingin mengenal pembohong sepertinya lagi. Semuanya sudah cukup. Semuanya sudah berakhir. Aku berharap di lain waktu aku bisa menemukan laki-laki yang benar-benar baik.

NB: Ditulis oleh: Dwi WulandariPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Standing In The Dark, Halaman 19 s.d 25 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 3 =