Perjalanan

LANGIT terlihat semakin gelap tanda malam akan hadir, suara yang berkeliaranpun semakin lama semakin tak terdengar. Yang datang hanyalah suara mengaji dibeberapa surau. Lampu-lampu luar mulai hidup, gunung raya tak terlihat lagi, Danau yang membawa udara dinginpun telah mulai tertutup dengan cahaya gelapnya malam. Tak jauh dari tepian danau, terlihat gemerlap kedipan cahaya lampu disebrang sana seakan-akan menandakan indahnya malam meski bintang takan hadir malam nanti. Awan gelap ternyata juga hadir menemani awal malam, suara mengaji terkalahkan oleh gemuruh yang berdatangan silih berganti. Benar, hujan datang malam ini. Suara hujan terdengar begitu keras di rumah tak berloteng. Akankah? Suara yang bercampur dari luar sana begitu mengesankan, meski tak memiliki tujuan yang pasti. Seakan-akan bumi sedang menangis, menangisi seseorang yang akan meninggalkan kampung halaman yang takkan bisa terlupakan, kampung halaman yang akan selalu membayangi sebagai pengantar tidur di malam hari, kampung halaman yang menjadi mimpi ketika sedang terlelap, kampung halaman sebagai tanah tercinta tempat bersuka cita dengan keluarga dan sahabat. Kampung halaman sebentar lagi akan ditinggalkan dan pergi ke kampung orang hidup sebatang kara.

Memang suasana rumah sedang ribut diguyur indahnya hujan, membasahi atap yang sangat sederhana sehingga dari dalam rumah terdengar seperti ada yang berlarian dari atas. Terkadang ada beberapa tetesan air yang sempat singgah kedalam rumah dan membasahi lantai dan tikar tempat berteduh. Setiap jiwa memiliki kisah tersendiri, biarkan hujan membawa kisahnya untuk menemani hati seseorang yang kesunyian tanpa ditemani bulan dan bintang.

Malam itu, mungkin akan sangat terkesan bagi Randa yang akan meninggalkan kampung halamannya. Ia dituntut oleh zaman pergi merantau melanjutkan sekolahnya. Setelah tamat sekolah dasar beberapa minggu yang lalu, tiba masanya untuk melanjutkan cita-citanya dan cita-cita keluarga. Maranta[1], itulah sebuah kata yang tidak setiap orang merasakan dan tidak setiap orang melewatinya, apa lagi merantau hinga bertahun-tahun lamanya.

“mak, langit sedang menangis”. Ucap Randa yang masih berumur 13 tahun kepada emaknya. Dia merasakan malam itu begitu sunyi, meski suara hujan begitu deras berjatuhan diatas atap rumahnya.

Randa yang sedang duduk disamping emaknya yang terlihat sedih mengahampiri wajahnya, mungkin pertanda hati tak kuat untuk berpisah dengan jarak.

“nak, besok kau pergi merantau kepadang panjang, mak dan adik yang akan mengantarmu kesana, seorang laki-laki itu dunianya luas, jangan kau gundah dan jangan pula kau merasa sunyi”. Terang emaknya dengan tujuan meneguhkan hati anaknya, seorang anak yang baru 13 tahun harus pergi merantau dan berjauhan dengan keluarga.

Emaknya tak kuat menahan iba. Sebenarnya air mata  ingin terjatuh dan berlari diatas pipinya. Namun ia tahan supaya Randa tak beriba melihatnya. Seorang emak yang berhati mulia sudahlah suaminya pergi merantau mencari Nafkah di negeri orang, kini ia harus bisa melepaskan si buah hati penghias hidup yang akan pergi merantau pula ke negeri orang.

“nak, kau harus belajar dengan baik disana, disekolah yang Buya Hamka pernah belalajar disana, seorang Ulama yang pernah menulis novel yang berjudul Teggelamnya Kapal Vander Wijck”. Ujar emaknya.

“istirahatlah dulu, besok pagi kita akan berangkat ke Padang Panjang. Lihat adikmu telah terlelap, mungkin ia tidak tahan menunggu esok pagi dan pergi berjalan-jalan ke Padang Panjang mengantarmu”. Sambung emaknya.

Randa pun menyegerakan berbaring disamping adik satu-satunya. Hujan masih terdengar deras, angin dan gemuruh pun menyelingi sepinya malam itu. Hati Randa penuh dengan kesunyian dan kesepian, besok pagi ia akan meninggalkan rumahnya. Dilihatnya loteng rumahnya, mungkin malam ini terakhir ia memandang loteng itu, dilihatnya pula pintu kamar tempat ia tidur, ia pandangi dalam-dalam. Ia terfikir malam besok tak bisa melihat pintu kamar itu lagi. Begitulah gambaran hati seorang yang akan pergi merantau, semua terasa berkesan meski hanya sebuah pintu kamar yang tak bergerak, tapi seakan-akan pintu itu tak kuat berpisah dengannya yang selama ini ia buka ketika hendak tidur menunggu pagi.

Sungguh perasaan yang tak semua orang bisa rasakan. Perasaan yang tak seindah perasaan cinta Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha. Perasaan yang membuat waktu satu malam seperti satu menit. Semua begitu terasa cepat, hingga mimpi tak sempat singgah ditidur malam itu. Karena pagi telah menjelang.

***

“nak, nak, ayo bangun shalat subuh”. ujar emaknya yang terbangun lebih dahulu untuk mempersiapkan sarapan dan beberapa pakaian yang akan dibawa ke Padang Panjang. Randa terbangun dilihatnya jam telah menunjuk pukul lima kurang sepuluh. Hatinya semakin mendebu tak karuan, teringat tak berapa lama lagi ia akan meninggalkan rumah dan kampung halaman yang sungguh bersejarah. Ia pun bergegas mengambil air wudhu’ untuk shalat shubuh.

“jangan lupa do’a buat ayah di Malaya[2], moga sehat selalu dan mendapatkan rezeki yang berkah”. Ucap emaknya yang sedang melipat beberapa baju untuk dibawa.

Sebelum Randa lahir ayahnya sudah pergi merantau ke Malaya untuk mencari rezeki dan hanya pulang satu kali satu tahun, menjelang hari raya idul fitri. Meski setiap bulan ayahnya mengirim sejumlah uang untuk biaya sehari-hari, namun Randa sangat merindukan ayahnya yang jarang sekali untuk bertemu. Kini giliran dia yang akan pergi merantau. Ia sangat merasakan kesunyian di Bumi ini.

Teringat dia akan senyuman diwajah ayahnya, dilihatnya Album foto ayahnya saat menggendongnya diwaktu kecil. Sungguh rindu itu betah dihatinya. Rindu yang akan selalu terkenang diwaktu air mata tak akan jatuh.

“Nda… nda..,” terdengar ada yang memanggil dari luar. Randa sangat mengenal suara itu, suara itu adalah suara neneknya yang datang untuk melihat keberangkatannya. Memang banyak yang harus dirindukan, hati ini sudah terlanjur menjadi sutra yang begitu halus dan mudah merasa iba.

“ndaa, hati-hati dirantau orang. Jaga diri, rajin-rajin belajar, nenek tidak bisa mengantarmu ke Padang Panjang, nenek sampai disini saja”, kata neneknya. Neneknya pun mengeluarkan uang Rp. 5.000 untuk Randa, sebagai belanja tambahan. Randa berniat tidak akan membelanjakan uang pemberian neneknya, akan ia simpan dan akan ia jadikan sebagai kenang-kenangan dari neneknya. Cukup uang itu saja yang akan ia pandang pengobat hati jika ia rindu pada neneknya.

Menit pun berlarian, Tak lama kemudian…

Terdengar suara klason mobil Bus dari jalan, pertanda mobil telah datang dan akan segera berangkat. Hati Randa semakin gelisah, ini pertanda sebentar lagi dia akan meninggalkan kampungnya. Dia, emaknya dan adiknya melangkah dari rumah dan bersegera menuju mobil. Dilihatnya beberapa rumah tetangga yang ia lewati, teringat ketika pulang sekolah dulu melewati rumah itu. Mobil semakin dekat, rindupun tak berhenti dihatinya. Ia naik ke atas mobil, dan duduk didekat pintu disamping emak dan adiknya. Dilihatnya beberapa penumpang yang berwajah sedih yang juga pergi merantau ke Padang, Pekan Baru, Dumai dan Malaisia. Ternyata tak seorang dia yang memiliki hidup seperti itu, masih banyak orang lain yang bernasib sama dengannya. Tapi kenapa hanya dia yang bertubuh mungil, semua penumpang terlihat sudah ada yang berkumis, beruban dan berusia. Mungkin dia terlalu kecil mencicipi hidup seperti itu.

Dilihatnya neneknya yang sudah tua berdiri ditepi jalan menanti mobil bus itu jauh hingga tak terlihat lagi, hilang terbawa jarak. Hingga makin jauh, semua tak terlihat lagi. Hanya ada baying yang terlintas difikarannya dan tak terhapuskan oleh angin yang begitu kencang memasuki sudut-sudut mobil.

“haha, sudah tu kayo[3] ndak usah bersedih, merantau hanya sementara, sebentar lagi hari raya, kan pulang kampung lagi”. Terdengar suara supir yang mencoba menghibur beberapa penumpang yang terlihat bersedih. Mendengar kata-kata supir itu, Randa cukup terhibur dan merasa ia sebentar lagi akan pulang kampung meski mobil baru sekejap meninggalkan kampungnya. Bukan ia terpaksa pergi merantau, tapi itulah serpihan hati anak rantau.

Mobil bus itu melaju cepat, dilihatnya ada beberapa penumpang yang tertidur, dan ada pula yang asyik mengobrol. Dilihatnya sawah-sawah yang ia lewati dari balik kaca mobil, di lihatnya beberapa petani yang asyik mencangkul. Teringat masa-masa dahulu ketika jalan-jalan kesawahnya nenek dan makan bersama di atas Bahung[4] yang anginya sepoi-sepoi, kini angin itu sedang menemaninya di atas mobil pergi ke Padang Panjang.

Randa punya ribuan impian di hatinya, jika ia pulang nanti ia akan menjadi lelaki yang sukses demi membanggakan orangtua dan keluarganya. Ia rela berjauhan jarak demi mencapai cita-cita yang cemerlang dan indah, sungguh impian yang sederhana hanya untuk memberikan kebahagiaan kepada orang yang memberinya kebahagiaan tan mengharapkan balasan.

[1] Bahasa Kerinci “merantau”

[2] Malaisia

[3] panggilan sopan kepada lawan bicara

[4] Nama Gubuk di sawah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − six =