Pelabuhan Ulee Lheue

Pelabuhan Ulee Lheue

Memori bisa disebut sebagai album kenangan, tersimpan rapi dalam sebuah kotak dan sebuah album. Kita menyimpanya di tempat yang rapi tetapi ada kalanya rasa rindu itu datang menghampiri, menggerakan jari , merubah naluri dan memutar otak kita untuk berimajinasi kembali. Album yang kini kubuka adalah album yang kusimpan rapat. Album yang suatu saat akan kubuka dikala usiaku sudah memasuki usia senja. 2015 tentang aku, Angin, Wildan dan Rey.

Saat ini usiaku tepat memasuki angka 22 tahun, terbilang usia masih muda tentunya. Tetapi untuk usiaku  haruslah memiliki cinta yang matang untuk menata masa depan. Mencari cinta memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Namun mengajarkanku tentang berbagai cara. Bagaimana cara bertahan hidup dari luka, cinta dan hampa.

Berada pada penghujung tahun, menyudutkan kita pada sebuah cerita masa lalu, cerita tentang apapun yang terjadi di tahun 2015. Cerita yang akan tersusun rapi walau terkadang ada bagian yang hilang. 2014 lebih indah memang daripada 2015, tetapi 2015 mengajarkanku berbagai hal. Tentang cinta, penantian, luka, kesetiaan, tanggung jawab dan rasa bakti kepada orangtua. Rasa yang berjuta tergambar dalam sebuah tulisan, yang sesungguhnya terasa berat hati ini menulisnya.

Tepat di awal tahun 2015, aku kehilangan mimpiku, nadiku dan jiwaku. Sesosok yang ku sebut Angin. Laki laki yang mengenalku sejak setahun lalu. Usia sebaya denganku tetapi memiliki pandangan yang berbeda. Perkenalan kami memang singkat, sesingkat cerita kami. Rasa yang di tinggal seperti rasa yang berjuta. Kenangan yang indah membuatku tak mampu menutup mata bila tertidur dan terlalu berat untuk membuka mata saat sang fajar mulai bangkit.

Angin pergi tanpa jejak, tanpa kata dan tanpa senyuman. Mungkin aku yang tidak bisa menjaganya, atau mungkin Tuhan marah karena aku tidak bisa menjaga titipannya. Hari hariku terasa begitu lelah, tidak ada tempat bercengkrama dan tiada tempat berbagi. Sesosok yang kekar, tegar, kuat, dewasa, bijak dan my superhero. Terkadang aku berfikir apakah aku harus mati? Ataukah aku harus layu?

            Kehidupan memanglah seimbang, kadang sedih kadang senang tapi semua itu juga selalu beriringan dan berdampingan. Ditengah rasa sakit yang menggerogoti hatiku, rejeki yang tanpa kuduga datang kepadaku. Tentunya rejeki yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Semenjak kepergian Angin, aku menyibukan diri dengan mencari kerja, alhasil akupun diterima kerja diterima di salah satu rumah sakit swasta di kota Malang. Ingin rasanya aku berbagi kebahagiaan dengan seseorang yang ku sebut Angin, tetapi hanya lewat doa aku bisa berbagi cerita kepadanya. Disisi lain aku menemukan banyak sahabat, tempatku berbagi keluh kesah tentang Angin dan tentang semua perasaanku kepadanya.

Detik jam semakin hari kian berganti. Tuhan menjawab semua doaku Tuhan  menjawab semua kerguanku dan semua tangisku. Angin meninggalkanku bukanlah karena dia sudah tidak mencintaiku lagi, tetapi karena kedua orangtuanya. Sebuah kepercayaan yang dianut keluarganya. Mereka menentang pernikahan dua anak bungsu, mereka menentang tentang penjumlahan tanggal lahir kami. Angin meninggalkanku tanpa suara dan yang ada hanya keheningan. Mungkin dia memahaminya, bahwa aku akan sangat terluka dan bahkan bisa kehilangan nyawaku karena dia memang denyut nadiku, nafasku dan jantungku. Aku tersadar mungkin memang ini yang terbaik untuku dan untuknya. Ini jalan yang terbaik yang Tuhan berikan kepada kami, meskipun kaki ini lelah untuk melangkah, dalam jiwa ini hanya ada luka.

Hari demi hari yang kurasakan terasa  sepi, meskipun di tempat baru dan di kota baru suasana terasa ramai. Tibalah aku pada perkenalanku dengan seseorang. Wildan adalah temanku, kami bertemu saat terjadi bencana Gunung Kelud tahun 2014.Tubuhnya tidak sekekar tubuh Angin. Laki laki yang memiliki hobi bermain gitar. Persamaan di antara kami membuat kami tidak canggung satu sama lain. Menghabiskan waktu bersama Wildan menyusuri kota Malang dan menikmati dinginya kota batu. Canda dan tawa  kami jalani bersama. Benih benih yang tumbuh antara kami perlahan mulai kami rasakan. Namun kehangatan yang kurasakan adalah kehangatan semu. Hanya sebagai sahabat. Disaat aku mencoba untuk memberikan rasa yang lebih kepada Wildan, seakan bayang bayang Angin melitas dalam otakku. Berulangkali ia menyatakan cintanya kepadaku tetapi semakin lama akupun merasa bahwa hubungan kita hanyalah sebatas teman.

2015 memang berbeda, antara aku dan kisahku. Antara aku dan obsesiku. Antara aku dan hatiku. Antara aku dan cita citaku. Seakan kembali ke dimensi waktu. Seseorang yang pernah hadir dalam hidupku, seseorang yang pernah ku pandang sebelah mata, seseorang yang pernah membuatku kecewa. Rey, teman SMP. Ditahun 2013 aku pernah memadu kasih denganya, tetapi  kisah kami tidaklah berjalan lama. Dia mengecewakanku. Tetapi saat ini tanpa kusadari dia datang membawa sejuta cinta. Awalnya aku hanya merasa bahwa rasa ini mungkin rasa yang sesaat karena hatiku yang sedang tersesat. Berulangkali Rey mengutarakan rasa cintanya tetapi aku selalu mengelak untuk menerima karena aku berfikir bahwa hatiku hanya untuk Angin.

Setelah kedekatan ku dengan Rey. Aku mulai mengenalnya, meskipun perbedaan kita sangatlah besar. Dia adalah seseorang yang melankolis, yang begitu lembut meskipun dia seorang pasukan. Tetapi perbedaan itu membuat cerita bahagia untukku. Dia bisa menjadi sahabatku, menjadi kekasihku dan menjadi pemimpinku. Terkadang dia memiliki sifat kekanak kanakan, tetapi terkadang sifatnya begitu dewasa dan sosok yang sangat romantis. Pada suatu saat Rey bisa menjadi sosok yang menyebalkan, tetapi aku selalu merindukannya meskipun aku selalu bersifat keras dan acuh di depannya. Ada saatnya dia menjadi dewasa bagiku, dia juga bisa mengarahkanku. Tidak bisa kupungkiri bahwa aku mencintainya. Rasa yang berjuta. Kisah cinta yang berbeda. Bersama Rey aku merasakan rasa cinta, benci, marah, sayang dan rindu. Seakan semua berjalan seimbang. Hingga akan banyak kisah yang sayang untuk dilewatkan.

*** 

Hari itu tepat hari besar bagi kaum muslim. Setelah satu bulan menahan hawa nafsu akhirnya sampai juga pada kemenangan. Takbir berkumandang dimana mana. Rasa syukur dan senyum bahagia tampak dari wajah seluruh umat muslim dikala itu. Akupun ikut larut dalam suasana itu. Tepat setelah bekerja, aku segera berkemas dan pergi meninggalkan tempat kerjaku untuk kembali ke kampung halaman. Kakiku melangkah menyusuri jalan kecil di kota Malang, hingga sampailah aku pada tempat dimana aku menunggu angkot pada saat itu. Tidak lama berselang, angkot yang kutumpangi berjalan menuju terminal di kota Malang. Tanpa kuduga hp ku bergetar, tampak di layar hp ku adalah nomer Rey. Segera ku angkat dan tak lupa aku mengucapkan selamat hari raya Idul fitri kepadanya.

“Ajeng, kamu dimana diterminal?”Tanya Rey kepadaku.

“Iya…ini sebentar lagi sampai diterminal.”Jawabku singkat.

“Setelah turun dari angkot, berjalanlah  kearah kantin.” Tiba-tiba suaranya menghilang. Akupun berfikir apa maksut perkataan Rey. Setelah sampai di terminal, akupun berjalan menyusuri jalan dipinggiran terminal. Tanpa sengaja mataku tertuju pada sebuah pemandangan yang begitu menarik. Tampak sebuah sepedah motor terpakir ditengah jalan, di atasnya tampak sebuah boneka lumba lumba memakai mahkota. OH My God ! aku yang sejak kecil senang dengan boneka lumba lumba merasa terkejut dengan semua itu. Tampak dari kejauhan, sosok kurus dengan tubuh yang sedang, berjalan menghampiriku memakai topi dan tanpa kuduga dia adalah Rey. Jantungku berdebar, hatiku pun membisu, entah ini apa. Sejenak akupun terdiam. Tuhan apa yang saat ini aku rasakan.  Hari yang tidak akan ku lupakan, hari yang bersejarah bagiku. Hari dimana aku menemukan diriku yang telah hilang. Selanjutnya kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Awal yang singkat tetapi akan selalu kuingat. Thank’s God telah mendatangkan malaikat untukku.

***

Pertemuan kami saat itu menjadi awal dari kisah yang kujalani saat ini. Hari hariku saat itu selalu kujalani dengannya. Aku menghabiskan waktuku hanya untuk tertawa bersama dan memandangnya. Kamipun pergi kepantai di daerah Pacitan Jawa Timur untuk sejenak bersama sama melepas penat disana. Saat berada dipantai rasa yang berjuta bagai bunga yang bermekaran kurasakan. Antara aku dan dia. Tidak bisa kupungkiri bahwa aku mencintainya. Sepulang dari pantai, kami pun tetap pergi kemanapaun yang kami suka untuk menghabiskan waktu berdua. Hingga kejadian malam itu.

Tepat pukul 23.00 Rey mengantarkanku pulang ke rumah. Jalan didaerah tempat kami tinggal memang sepi. Kanan dan kiri hanya ada sawah yang membentang. Tampah indah dikala senja, sejuk dikala siang dan sunyi gelap dikala malam.

“Kamu kapan kembali ke Aceh?” pertanyaanku itu memecahkan suara hening kala itu. Aku yang saat itu diboncengnya dengan sepada motor miliknya, sambil bertanya kueratkan kedua tanganku dipinggangnya. Dalam benakku, aku berteriak bahwa aku tidak ingin kehilangan orang yang ku cintai untuk kedua kalinya seperti aku kehilangan Angin.Perlahan dia membuka kaca helmnya. Tiba tiba saja kami berdua seperti terseret angin.

“Allahu Akbar…” Diapun berteriak, aku pun menutup mata dan berusaha semakin erat memegangnya, tetapi seperti terkena angin puting beliung, akupun seakan hanyut terbawa angin, dan aku pun terlepas dari Rey pada saat itu.

“Brakk..” Suara sepeda motor yang kami kendarai terseret oleh sebuah mobil. Akupun secara tiba-tiba terbawa angin dan terjun, wajahku menyapu aspal pada saat itu. Berguling guling kesana kemari yang kurasakan pada tubuhku saat itu. Pening dan pusing. Aku mencoba bangkit meraih tubuh Rey, tetapi kakiku tak bisa kugerakkan, hanya sebagian tubuhku yang bisa bergerak  dan ku lihat bahwa Rey tergeletak di tengah jalan tetapi dia masih tersadar pada saat itu.

Beberapa orang menolong kami dan membawa kami ke rumah sakit terdekat.Lalu mereka memanggil kedua orangtua kami. Setelah beberapa lama di IGD. Kamipun diperbolehkan pulang oleh dokter jaga di IGD. Aku hanya mengalami dislokasi pada tulang jari kaki kananku. Orangtuaku merawatku dengan penuh kesabaran begitu juga Rey, dengan sabar hampir setiap hari dia pergi kerumah untuk merawatku. Memang pada kecelakaan itu dia hanya mengalami luka lecet dan luka memar saja. Tuhan memang masih memberi kami kesempatan untuk menjali hidup dan kejadian itu menjadi kejadian yang berharga. Hingga cerpen ini kutulis rasa ngilu pada jari kakiku masih kurasakan.

Dua minggu berlalu, masa cuti yang Rey jalani telah selesai. Tepat di hari minggu dia harus segera kembali ke Aceh, kembali menjalani tugasnya lagi. Ingin hati untuk menahanya pergi, tetapi dia bukanlah miliku, dia juga bukan milik orangtuanya dan sekarang dia milik Negara.

Berjalan terseok seok sambil menahan rasa ngillu pada jari kakiku, aku mengantarkanya ke bandara. Sempat ada rasa takut dalam benakku. Satu tahun lalu hal yang sama ku jalani, aku mengantarkan Angin ke bandara dan melihatnya terbang. Terbang untuk selama lamanya dalam hidupku. Pada saat ini yang ku takutkan adalah kepergian Rey. Apakah ia juga akan terbang seperti Angin? Entah perasan apa ini, yang jelas aku mencintainya.

Selang beberapa lama, akupun harus melepasnya pergi dan berlalu. Saat  ini yang kurasakan hanya sepi dan sepi yang ingin segera ku akhiri. Sementara kaki yang terasa ngilu, saat ini tak bisa kurasakan lagi karena tergerus oleh rasa yang bergejolak dalam hatiku sejak kepergian Rey. Gelisah dan resah saat itu kurasakan.

***

Tiga hari berlalu, sembari beristirahat dikamarku, telfon genggamku tak pernah lepas dariku. Setiap detik kulalui ditemani suara Rey. Hingga tetap pada saat selasa malam, nomer hp Rey tidak bisa dibungi, dan aku mencoba sms tetapi tiada balasan. Berungkali ku telfon nomer itu.

“Halo…Rey mengalami kecelakaan, teman yang membonceng meninggal dan Rey sekarang tidak sadarkan diri. Tolong nanti hubungi lagi.”Seakan nyawaku dicabut pada kala itu. Nadiku berhenti berdenyut, jantungkku berhenti berdebar dan darahku berhenti mengalir.

“Ibu….” Aku berteriak memanggil ibuku, dan entah apa yang terjadi, seakan semuanya menjadi gelap dan ketika aku membuka mata, aku sudah tergeletak di atas tempat tidur.

Setelah sadarakan diri, aku menceritakan semua kepada ibuku. Dadaku terasa sesak seakan tidak bisa bernafas. Air mataku menetes tanpa bisa ku bendung. Tuhan kuatkan aku kuatkan Rey untukku. Semalaman itu ibuku tidak tidur dan menenmaniku serta menguatkanku.

Keesokan paginya, aku memutuskan untuk berangkat ke Aceh dengan kaki yang belum bisa berjalan sempurnya. Ketika di perjalan aku mendapat kabar bahwa hari itu Rey harus di operasi. Dia mengalami patah tulang rusuk. Rusuk ke 6 dan ke 7 mengalami patah dan retak sehingga terjadi perdarahan di paru paru. Ketika berada dalam pesawat hati dan fikiranku terus terbayang tentang Rey.

Delapan jam aku lewati. Perjalanan dari Malang ke Banda Aceh. Tepat pukul 08.00, aku menginjakkan kakiku di Bumi Serambi Mekah. Setelah di jemput oleh beberapa orang, dengan mobil akupun meyusuri jalanan di kota Banda Aceh. Betapa indahnya daerah itu.Bekas tsunami masih tampak jelas disitu. Infrastruktur masih terliahat baru. Masyarakat Banda Aceh kini mulai bangkit pasca bencana tsunami beberapa tahun lalu.

Setelah sampai di RSUD Zainal Abidin di Banda Aceh, tidak sabar aku ingin melihat keadaan Rey dikala itu. Berjalan perlahan lahan dengan kaki terseok seok aku menyusuri lorong demi lorong di rumah sakit itu.. Beberapa menit berlalu sampailah aku di kamar Rey. Kulihat dari jendela, dia tampak lemah dan aku tak kuasa menahan tangisku. Segera ku berlari kembali menjauh dan bersembunyi di balik lorong dan menjerit sepuasnya. Tuhan kuatkan aku dan kuatkan hatiku serta hentikan tangisku.

Kukuatkan hatiku, kuusap airmata yang membasahi pipiku dan dengan beratku berjalan menuju kamar Rey kembali. Ku peluk erat dia.

“Ajeng, maafkan aku yang telah mengecewakanmu.”

Dengan lemah ia mengucapkan kata kata itu di telinga kiriku. Tubuhnya yang lemah, dengan selang infus di tangan kanan dan kiri. Dipasang juga berbagai alat yang melekat di dalam tubuhnya. Tubuhnya hanya bisa berbaring saja. Dia Nampak lemah. Aku  berusaha tersenyum walaupun dalam hatiku berteriak dan menangis.

Tepat lima hari aku tinggal disana, merawatnya, bercanda denganya dan menghiburnya. Kini saatnya aku harus kembali ke Jawa menjalani rutinitas kembali. Berat dalam hati saat aku harus meninggalaknya di Banda. Dia yang kucintai begitu lemah. Tapi akupun harus melanjutkan hidupku di Jawa, semua juga demi dia.

Sore itu aku memutuskan untuk sejenak merefres otak, menikmati keindahan kota Banda Aceh. Setelah selesai merawat Rey, akupun menyusuri jengkal demi jengkal kota Banda Aceh. Pergi ke museum tsunami, ke beberapa situs peninggalan bencana tsunami, sholat magrib di masjid Baiturohman dan pergi ke pelabuhan Ulee Lheue.

Mentari kini tersenyum mengisyaratkan bahwa senja mulai tampak untuk menyongsong malam. Aku duduk diatas batu ditepi pelabuhan Ulee Lheue, pelabuhan penyeberangan menuju pulau We. Tampak diseberang laut hamparan hijau yang ada di pulau We. Semilir angin pada senja itu, membalut suasana damai yang kurasa pada hari itu. Cerita yang tiada pernah ku bayangkan sebelumnya. Hatiku pernah kosong, hatiku pernah pula terisi sesaat dan saat ini terisi harta yang begitu kekal. Tentang aku, Angin, Wildan dan Rey. Tentang Cinta. Entah siapa cinta sejatiku, yang kutahu hanyalah mengagumi dan takut kehilangan. Angin memang telah pergi dariku tanpa jejak, Wildan kini menjadi sahabat dan Rey kini menjadi nyawaku.

Ombak di pantai itu tampak memberikan isyarat bahwa hidup memanglah harus pandai bersyukur. Sesuatu yang benar memang tidak harus dibenarkan. Kebenaran tentang rasa cinta yang ku miliki untuk Rey. Rasa itu tidaklah harus di benarkan karena ia akan berjalan mencari kebenaran itu sendiri. Batu batu yang berjajar di pinggir lautpun juga memberikan isyarat, bahwa seseorang yang hadir dalam hidup kita memiliki porsinya masing masing. Batu memiliki porsi untuk mencegah abrasi ditepi laut. seperti itulah makna kiasan, bahwa dalam hati dan cinta adalah satu kesatuan yang tidak bisa terlepaskan dan saling terkait satu dengan yang lainnya.

Rasa bosan setelah beberapa waktu kurasakan, kini kulangkahkan kakiku menyusuri bibir pantai, tampak para muda mudi kini duduk dengan menyantap berbagi hidangan. Entah jagung bakar atau kopi hangat. Ada yang bercanda dan ada pula yang serius berbincang bincang satu sama lain. Itulah kehidupan yang heterogen. Kadang senang kadang bahagia. Kadang berpandangan ke belakang tetapi haruslah sealu menatap kedepan. Sejenak rindu kepada masa lalu memang sering terlintas dalam benak kita. Sekedar membuka memori lama. Sebuah kenangan hanyalah di tinggalkan tapi tidak patut untuk dilupakan. Tetapi haruslah kita ikhlaskan yang telah pergi karena Tuhan akan mengganti yang baru, yang lebih pantas untuk kita.  Menerima kekurangan pasangan kita adalah wujud keikhlasan dan kesabaran. Terimaksih Tuhan telah kau perkenalkan aku dengan orang orang hebat. Orang orang yang mengispirasiku dan sempat menjadi harta dalam hidupku.

“Happy New Year sayang” suara mengagetkan aku dari belakang dan segera aku berbalik badan dan tersenyum.

Terimakasih Tuhan telah kau turunkan malaikatmu untukku, penyelamatku dan jawaban dari doaku. Terimakasih atas cerita yang kini bisa merubahku. Memberikanku pelajaran tentang keikhlasan dan kesabaran. Semoga cerita ini menjadi inspirasi. Walaupun singkat tapi bagiku ini adalah cerita hidup yang begitu indah bila dilukis dalam sebuah kanvas. I LOVE YOU REY. Sesorang yang melamarku tepat tanggal 06 oktober 2015 di pinggiran pelabuhan Ulee Lheue.

NB: Ditulis oleh: Rachajeng Oky SyailindraPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Rahasia Surat Farhan, Halaman 37s.d 49 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − 8 =