Pahitnya Menatap Jodoh

Pahitnya Menatap Jodoh

Tak ada raga yang abadi dan tak ada pula cinta yang abadi. Tapi, bolehkah cinta dan raga itu menetap sebentar di dunia ini, agar aku tahu bagaimana nikmat sayang yang Engkau titipkan pada dirinya yang kukagumi.

   Pagi ini Matahari begitu menyengat, akan tetapi cahayanya sama sekali tidak merubah keadaanku. Pancaran sinarnya seakan hampa dan tanpa makna. Walau begitu, raga ini haruslah tetap berdiri melangkah menyusuri misteri kehidupan selanjutnya. Aku beranjak dari kamar berjalan menuju ruangan demi ruangan. Tak terasa hampir lima tahun diri ini meninggalkan rumah tercinta, rumah yang menjadi saksi bisu kisah kecilku hingga berumur 22 tahun.

   “Aisyah, ayo sarapan dulu nak!!”. Suara ibu memanggil terdengar dari meja makan. Kubelokkan badan kearahnya, senyum manis ibu yang begitu memesona terpancar dari wajah yang sudah tak muda lagi.

   “Ia Bu.!”. Jawabku padanya.

   Di meja makan, ayah, ibu begitu pun dengan diriku sangat menikmati sarapannya. Betapa bersyukurnya kami kepada Allah yang masih memberikan rezeki untuk disantap pagi ini. Terkhusus bagiku , sarapan pagi ini memang  sangat spesial. Setelah 5 tahun aku meninggali rumah sangat jarang bisa makan senikmat sekarang. Kebersamaan bersama mereka berdua memang sangat kurindukan dan sekarang rasanya terbayar sudah rindu yang begitu besar dalam hatiku. Hari ini adalah hari pertama diriku berada di kota malang sekaligus hari pertama kerja setelah perusahaan di Makassar memindahkanku tugas disini. Aku tidak menyangka bakal kembali kesini lagi. Saat itu, niatku merantau ke Makassar bukan tanpa alasan ataupun pindah tugas, melainkah ikhtiar diriku untuk melupakan segumpal harapan dalam kenangan hidup yang hampa.

   “Ibu, ayah, Aisyah berangkat kerja dulu ya!”. Pamitku padanya sambil mencium tangan mereka berdua.

   “Ia nak, hati-hati!!”. Ayah menimpali perkataanku.

BACA JUGA CERPEN: Trotoar Berdebu

   Tempat kerjaku lumayan jauh dari rumah, yakni sekitar 30 menit jika hari masih pagi. Walau begitu aku tidak merasa keberatan karena kendaraan motor yang dulu ayah belikan telah menolong perjalanan menuju kantor. Kulalui jalanan dengan suasana hati yang ceria dan semangat membara. Tempat kerjaku sekarang sangat berbeda dikala aku bekerja di Makassar. Yah perbedaan itu terletak dimana diriku ditempatkan, jika dulu bekerja dipabriknya namun sekarang bekerja di kantornya.

   Setiba di tempat kerjaku yang baru, sambutan hangat menyapa seiring langkahku memasuki kantor yang megah ini. Seorang lelaki datang menghampiri, lalu mengajak ke sebuah ruangan dimana banyak sekali meja dan komputer diatasnya.

   “Ibu Aisyah, perkenalkan nama saya Andrea Rivaldi, asisten presdir kantor ini. Selamat datang di tempat kerja anda yang baru semoga bisa menjalankan tugasnya dengan baik ya, bu. Silahkan masuk dan meja itu tempat anda bekerja.”. Sergap lelaki berkulit putih nan jangkung disampingku menjelaskan siapa dirinya dan apa tujuannya mengiringku ke ruangan ini. Aku pun langsung menuju ke meja yang Bapak Andrea tunjuk tadi.

   Ruangan kerja terasa begitu dingin sebab AC yang berjumlah 3 buah tertempel di dinding ruangan. Tiba seorang OB memberikan secangkir teh kepadaku dengan sikap yang begitu santun. Sambil mendapatkan pengarahan dari seorang yang berada di dekat mejaku mengenai apa yang harus dikerjakan, sedikit demi sedikit aku meneguk teh yang tadi diberikan.

   Tidak terasa langit sudah gelap saja dan adzan maghrib pun sudah berkumandang. Teman-teman kantor terlihat mulai membereskan mejanya lalu bersiap untuk pulang. Diriku sendiri telah keluar dari kantor untuk segera pulang setelah shalat maghrib kukerjakan. Kota Malang akan tetap ramai meski hari telah menjelang malam, karena itulah aku memberanikan diri pulang dengan menaiki kendaraan motor.

   Kali ini perjalanan pulang menuju rumah kutempuh dengan waktu lebih dari 30 menit. Badan ini terasa sangat letih, akan tetapi letihnya akan hilang seketika, saat dua manusia yang telah membesarkan diriku menyambutnya dengan senyuman hangat.

BACA JUGA CERPEN: Perkenalan Berujung Penyesalan

   “gimana hari pertama kerjanya, Aisyah?”. Tanya ibu padaku dengan nada suara yang begitu lembut terdengar.

   “Alhamdulillah bu, nyaman dan tentram. He..!.”. Dengan candaan aku menjawab pertanyaan darinya.

   Di dalam kamar, kuistirahatkan badanku sejenak sembari mengetik nomor telepon yang tertera di buku kecil tempat semua catatan pentingku dari mulai SMA dulu.

   “Halo, assalamualaikum, apakah benar ini dengan saudari Tania”. Kucoba mengerjai sahabatku yang sudah lama tak saling komunikasi.

   “ya benar, mba siapa ya kalau boleh tahu dan apa keperluannya”. Jawaban Tania terdengar mulai penasaran dan sedikit ketakutan.

   “Tania!!! Sahabat terbaikku, apa kabarnya sekarang?”. Sergapku dengan Suara yang mungkin akan terdengar sangat keras ditelinganya melalui gelombang suara yang akan ia dengar pada telepon genggamnya.

   “oh kamu to Aisyah, ngagetin saja. Wes sudah lama tidak menghubungi aku, nomormu kutelpon sudah nggak aktif lagi, ada apa denganmu sahabat!! Alhamdulillah kabarku baik Syah, gimana denganmu? Kapan nih kita bisa bertemu, aku sudah kangen banget sama kamu sahabatku!!”.

   “tidak ada apa-apa kok Tan. Alhamdulillah kabar aku baik. Ia nih aku juga ingin bertemu kamu. Gimana kalau besok, bisa gak?.

   “bisa Syah, besokkan hari kamis, Insya Allah tidak ada halangan. Jam berapa dan dimana?”. Perkataan Tania dari telepon seluler membuatku berprasangka bahwa ia begitu bersemangat untuk bertemu dengan diriku.

   “Kita ketemuan di cafe Mall Indah Malang aja Tan, itu kan tempat kita biasa nongkrong dulu. Sekitar habis maghrib mungkin aku sudah disana karena jam segitu aku baru pulang kerja, tahulah perusahaan gula jadwal pulangnya, gimana?’

   “Ok setuju sahabatku, udah ga sabar nih ingin ketemu  kamu!!”. Jawaban Tania terdengar begitu semangat ditelingaku.

   Kami pun mengakhiri obrolannya dengan kalimat selamat malam yang kompak kami ucapkan. Kulihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Wajar saja mataku mulai terasa sangat  berat, hingga diriku tak  sadar bahwa raga ini terlelap begitu  cepat.

   Allahhu Akbar Allahhu Akbar….. Kumandang azan subuh kembali menyambut hariku disini. Segeralah aku merapikan tempat tidur kemudian mempersiapkan diri untuk melakukan berbagai aktivitas hari ini. Langit Malang di pagi hari terlihat cerah nan sejuk. Bola mata ini seakan bersinar melihat keindahan tempat lahirku yang tetap terjaga keasriannya. Aku pun segera pergi menuju kantor setelah berpamitan dengan ayah dan ibu.

   Saat tiba di kantor, seorang wanita dengan sepatu higheels 5 cm yang ia gunakan melangkah menuju diriku. “Ibu Aisyah tolong anda cek kesamaan data yang ada di map ini dengan yang ada di flashdisk ya. Jika ada perbedaan tolong samakan dengan yang ada di flashdisk. Nanti kalau sudah selesai taruh di ruangan Pak Andrea ya bu.”. Ujar wanita itu.

   “Oh ia baiklah ibu Lita.”. Aku pun langsung menyambut kedua map serta flashdisk dari tangannya dan bergerak menuju ruang kerjaku.

   Sejenak aku berdiri di depan pintu ruangan, pemandangan orang-orang sibuk dengan pekerjaannya merupakan hal yang biasa di kantor ini. Aku akui  semua orang disini  bekerja bukan tanpa arti mereka di bayar  oleh perusahaan ini, sehingga apapun yang mereka kerjakan  tidak  boleh ada  yang merugikan. Setelah mengamati keadaan kantor yang riuh dengan hentakan kaki dan jari jemari, aku pun mulai mengerjakan pekerjaan yang tadi diperintahkan oleh Ibu Lita. Dengan penuh hati-hati dan teliti diriku mulai menyamakan data yang ada di flashdisk dengan kertas yang ada dalam map. Dua jam berlalu, aku pun tuntas mengerjakannya. Akan tetapi pekerjaan ini tak langsung kuberikan ke ruangan Pak Andrea karena leher dan pinggangku terasa sangat pegal.

   Tak berapa lama aku rilekskan badan, Pak Andrea ternyata telah berada di depan mataku. “Oh maaf pak, baru saja ini mau saya berikan ke ruangan anda.”. Dengan rasa takut, aku langsung berbicara dengan Pak Andrea. Aku merasa menyesal atas keteledoran ini, mengapa bisa terjadi di hari kedua aku bekerja.

   “tidak apa Bu Aisyah, disini saya ingin memberikan berkas yang harus diperbaiki lagi sebab banyak kesalahan di dalamnya. Tadi saya ingin menyuruh Ibu Lita memberikannya, tapi dia lagi keluar. Oh yang tadi sudah selesai ya bu, ya sudah yang ini tolong secepatnya ya bu.”. Muka datar Pak Andrea ternyata bukan untuk memarahiku melainkan menambah pekerjaan lagi dengan berkas yang baru saja ia berikan.

   “baik pak, secepatnya akan saya kerjakan.”. jawabku padanya sembari senyum memaksa yang aku tampilkan.

   Hari sudah pukul 4 sore, aku teringat janji dengan sahabatku, Tania, bahwa hari ini kami akan ketemuan. Hatilku tak sabar lagi untuk bertemu dengannya, banyak yang ingin aku dan Tania bincangkan apa lagi  saat ini dirinya telah bersuami walau saat pernikahaannya aku tidak datang. Kondisi tubuh yang sehat membantuku bersemangat untuk menyelesaikan segala pekerjaan kantor hari ini.

   “Permisi, Ibu Tania ini ada kiriman?”. Seorang OB atas nama Anto memberikan sebuah amplop berwarna putih kepadaku.

   “Oh ia pak, dari siapa ya?”. Tanyaku kepadanya  dengan penuh penasaran.

   “Kurang tahu juga saya bu, kata pengirimnya dia  dari perusahaan pengiriman barang apa ya bu saya lupa.”. Dengan lugunya Pak Anto memberi tahu sumber surat ini.

   “Oh ya sudah pak terimakasih”

   Setelah kuterima amplopnya, aku langsung menyobek bagian atas amplop untuk mengetahui isinya. Sebuah surat atas nama Adnan Putra  Mahardika tertulis di bagian depan surat. Hatiku berdetak tak karuan ketika melihat nama pengirimnya. Aku pun langsung membuka surat itu dan membacanya.

BACA ARTIKEL: 3 Kunci Sukses & Bahagia Ala Haji Bolot

   “Assalamualikum Aisyah Famelia Azahra, bagaimana kabarmu sekarang? Kamu tidak perlu bertanya bagaimana aku bisa tahu tempat kerjamu karena nanti kamu akan segera tahu. Aku mengirim surat ini untuk meminta maaf kepadamu tentang kejadian 5 tahun lalu. Maafkan saya Aisyah saat itu tidak bisa menjawab pesanmu karena kondisiku sendiri akan menikahi wanita yang ayah dan ibu jodohkan untukku. Aku berharap bisa langsung bertemu denganmu dan menyampaikan maaf saya ini. Namun saya tidak tahu apakah kamu mau bertemu saya. Mungkin itu saja ya Aisyah, semangat kerjanya wassalamualaikum.”

   Tetesan air mata membasahi pipiku. Surat Kak Adnan membuat luka lama yang aku alami kembali. Sungguh diriku tidak pernah marah padanya bahkan akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah menggangu pikiran dirinya yang saat itu akan memperistri wanita yang ia cintai. Aku merasa menyesal atas perbuatan itu, akan tetapi diri ini tak berani untuk meminta maaf kepadanya lagi.

   Kerjaanku di kantor pun telah selesai, bayang-bayang Kak Adnan terus mengusik perjalananku menuju Mall Malang untuk bertemu Tania. Air mata tak hentinya mengalir hingga aku sampai di parkiran Mall. Sudah berkali-kali kuusap mataku agar Tania tidak mengetahui apa yang saat ini aku alami. Sesampai di Cafe, aku segera memesan minuman serta makanan untuknya. Walau sudah lama diriku tidak bertemu dengannya, aku akan selalu ingat apa yang ia suka karena kami telah bersahabat sejak SMA.

   “Hai Aisyah!!”. Seorang wanita menggunakan gamis biru dongker bermotif bunga di bagian bawah dipadukan jilbab segiempat berwarna putih melangkah menujuku. Tania melambaikan tangannya, dirinya tidak begitu banyak berubah akan tetapi perutnya sedikit mengembung. Mungkinkah ia sedang mengandung.

   Aku pun bangkit dari tempat duduk untuk menyambutnya, lalu kami pun saling berpelukan. Pelukan ini seakan telah memutus jarak antara aku denganya yang sudah lama tidak bertemu.

   “Wah Tania kamu sedang hamil ya. Maafkan aku ya sahabatku kalau tahu kamu lagi hamil aku tidak akan mengajakmu ketemuan.”

   “Tidak apa Syah, tenang saja Mas Zaid kok yang ngantar aku dan nanti dia akan kesini lagi menjemputku Syah.”

   “Oh begitu… syukurlah. Kukira kau sendirian Tan.”. Aku pun tersenyum padanya.

   “Syah sekarang aku ingin kamu dengarkan aku. Pertama aku ingin bertanya kemana kamu pergi selama 5 tahun ini, dan mengapa kamu tidak memberitahuku. Aku tahu Syah kamu mengagumi Kak Adnan dan kutahu kepergianmu saat itu bertepatan dengan Kak Adnan yang akan menikah. Tapi kamu harus tahu Kak Adnan gagal menikah karena calon Istrinya lebih memilih lelaki yang ia cintai dan perjodohan pun batal. Tapi, apakah benar kepergianmu itu ada hubungannya dengan Kak Adnan, Syah?”.

BACA JUGA CERPEN: Pelabuhan Ulee Lheue

   “Ia Tan, maafkan aku tak pernah cerita padamu. Selama 5 tahun ini aku berada di Makassar dan baru 2 hari aku disini. Aku meninggali Malang karena ingin melupakan segala hal tentang dia Syah, tapi hatiku belum mampu. Aku tahu ini salah Syah bahkan dosa mungkin telah melumuri hidupku karena cinta pada manusia yang berlebihan. Kak Adnan adalah orang pertama yang bisa memberikan rasa pada hatiku. Kamu tahu kan Tan, aku tidak pernah mengagumi seorang lelaki apalagi pacaran karena kita sama-sama tahu itu dilarang dalam agama kita. Tapi Tan, untuk perasaan ini aku tidak bisa membuangya, semakin aku mengelak, rasa itu semakin besar.”. Aku pun mengambil tisu di tangan Tania. Ia mengelus pundakku guna mengurangi rasa sedihku.

   Pertemuan aku dan Tania pun usai karena hari sudah pukul 8 malam. Akan tetapi aku dan dia masih sangat ingin berbincang lagi. Tania pun pulang bersama suaminya sedang diriku mampir dahulu ke gramedia untuk membeli buku yang sangat ingin aku beli dari kemarin. Setiba di kawasan gramedia aku langsung mulai memburu buku yang kuincar, yah buku dengan judul The Perfect Muslimah itulah yang ingin kubeli. Kususuri setiap rak buku yang ada di toko ini, hingga terlihat olehku buku dengan sampul berwarna ungu muda bertuliskan The Perfect Muslimah di bagian samping buku. Setelah kuambil bukunya, aku langsung menuju kasir untuk membayarnya, akan tetapi seorang lelaki mencegah langkahku.

   “Aisyah, kau disini juga?”. Tanya lelaki yang memakai kaos panjang hitam dihadapanku.

   “ia Kak, Kak Adnan juga?”. Bibirku terasa terkunci, jantungku berdetak tidak normal. Mengapa hari ini aku seperti dihantui kesedihan, setelah surat darinya yang aku terima sore tadi sekarang raganya tepat berada dihadapanku itu membuat jiwaku sangat lemah sekarang.

   Ia pun mengajakku duduk sebentar di sebuah tempat makan Mall ini. Aku hanya tertunduk tak berdaya untuk menatapnya, karena kutahu kami memang tak boleh saling memandang.“Aisyah, aku bersyukur bisa bertemu denganmu dan kamu mau berdialog sebentar denganku. Mungkin langsung saja Aisyah, disini aku ingin meminta maaf pada mu tentang kejadian 5 tahun lalu, karena kutahu hatimu terluka ketika sms mu yang memintaku untuk menjadi imam dalam keluargamu namun saat itu pula kau tahu aku akan menikah dengan wanita lain. Dan mungkin kau sudah tahu pula bahwa aku gagal menikahi wanita itu, karena dari kantor tadi aku terus mengikutimu. Aku mendengar pembicaraanmu dengan Tania tadi dan suami Tania lah yang memberitahuku kau telah kembali dan bekerja di perusahaan gula. Zaid mengetahuinya setelah ia diceritakan oleh istrinya dan ia pun langsung memberitahuku saat itu juga, karena Zaid tahu aku menunggu kedatanganmu.”. Kak Adnan seakan telah menyemburkan rasa penasaran pada diriku atas penjelasannya yang bertubi-tubi.

   “Tunggu, apa maksud Kak Adnan Menungguku?”. Kupotong kalimatnya lalu kuberanikan diri bertanya, walau air mata seakan telah membasahi pipiku sejak tadi.

   “Yah aku menunggu kamu kembali Aisyah, ada permintaan yang ingin aku ajukan padamu?”

   “Permintaan apa kak?”. Aku mulai penasaran tentang maksud pembicaraan keduanya setelah minta maafnya padaku.

   “Aisyah Famelia Azahra, maukah kamu menjadi pendamping hidupku yang halal di mata dunia dan akhirat, pelengkap pada tulang rusukku dan menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anak kita kelak. Jika kau mengiakan permintaanku ini, aku akan menikahimu 2 hari lagi.”.

   Dug, jantungku berhenti sejenak, nafasku tak lagi berjalan dengan benar, air mataku tumpah riuh, seakan-akan kejadian yang mengerikan baru saja terjadi. Tidak ada kalimat lagi yang bisa aku katakan, rasa sedih dan bahagia bercampur jadi satu menemani perasaan hatiku saat ini, mendengar lelaki yang kukagumi kini memintaku untuk menjadi istrinya. Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan yang tak karuan. Sesampai di rumah, aku langsung menghadap kedua orang tuaku dan membicarakan apa yang telah terjadi pada diriku hari ini khususnya tentang perkataan Kak Adnan tadi. “Ayah, ibu, Aisyah ingin ngomong sesuatu.”. Pintaku pada mereka dengan hati yang was-was

   “Ia sayang, silahkan saja”. Jawab ayah padaku.

   “Ayah, ibu, ada seorang lelaki bernama Adnan Putra Mahardika yang ingin menikahiku dua hari lagi, apakah ayah ibu menyetujuinya?”

   “Alhamdulillah, ayah sama ibumu akan merestui pernikahanmu nak.”. Perkataan ayah barusan telah membuat air mataku kembali menetes, rasa bahagia begitu terpancar dari wajah mereka berdua.

   “Ya Allah aku yakin segala ketentuanMu untukku adalah yang terbaik bagiku karena Engkau adalah Penciptaku”. Lirih suara dalam hatiku

   Dua hari terasa begitu lama bagiku, mungkin karena rasa tak sabarku ini membuat waktu berjalan sangat lamban. Semua orang mulai memasuki rumahku dan ku lihat sosok Kak Adnan telah berada di depan ayah. Wajahnya terlihat segar dan sangat siap untuk melakukan ijab qabul hari ini.

   “Saya nikahkan anak saya Aisyah Famelia Azahra binti Muharto dan Adnan Putra Mahardika bin Supomo dengan mas kawin 10 gram emas..”

   “Saya terima nikahnya Aisyah Famelia Azahra binti Muharto dengan maskawin 10 gram emas…”. Sahut Kak Adnan yang begitu lantang mengucapkannya.

   Semua orang di rauangan ini termasuk diriku pun langsung membaca Surah Alfatihah setelah ijab qabul selesai dilaksanakan. Aku pun melangkah menghampirinya lalu mencium tangannya dengan rasa yang masih sedikit janggal.

   Acara pernikahan pun telah usai, aku berpamitan dengan ibu dan ayah karena kami akan berpisah untuk hari ini. Menurut adat keluargaku, seorang wanita yang telah menikah akan dibawa sang suami menuju rumahnya, sebab aku telah menjadi tanggung jawab dirinya lahir dan batin.

   “Ayo Aisyah naik ke mobil.”. Ajak Kak Adnan padaku dengan ramah.

   “Ia Kak Adnan!”. Ucapku pelan.

   “Istriku, apakah kamu masih malu pada suamimu ini, kau tidak ingin mengganti panggilan untukku dengan Mas?”. Rayu Kak Adnan yang membuat mukaku memerah tersipu malu.

   Kami pun masuk ke dalam mobil, terlirik olehku mata Kak Adnan yang terus saja menatapku, namun diriku tidak mampu menatapnya kembali. Hingga mobil telah jauh dari rumah, aku masih saja terpaku tanpa kata yang terucap.

   Duar, terdengar suara mobil tabrakan di belakan kami. Ragaku tiba-tiba mati suri tak berdaya ketika melihat sosok lelaki yang baru saja menjadi suamiku telah tergeletak di luar mobil. Kepalanya terbentur di aspal jalan dengan darah yang berlumuran. Sebuah mobil puso gagal menyalip kami, sehingga menumbur mobil yang aku dan Kak Adnan tumpangi. Kerusakan paling parah terjadi di sebelah kanan, tepatnya di bagian Kak Adnan duduk. Raganya terhempas ke luar mobil setelah puso itu menabraknya. Ketika suara yang mengatakan jantung Kak Adnan tak berdetak lagi, saat itu juga seluruh tubuhku terasa sangat lemas bagai tak bertulang. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, suara orang yang menyaksikan kecelakaan ini begitu hampa bagiku. Bahkan panca indra yang kumiliki seakan mati rasa dan tak berfungsi dengan baik. Betapa pahit hati ini melihat lelaki yang kuyakini adalah jodohku pergi begitu cepat dari hidupku.

BACA JUGA CERPEN: Mimpi Sang Gadis

   “Kak Adnan ketika aku tidak mendapatkan balasan cintamu saat itu, sekarang kau memberikannya, bahkan cintamu lebih besar dariku. Akan tetapi, ketika cintamu telah kumiliki, ragamulah yang akan menghilang untuk selamanya. Raga yang aku harapkan menjadi penopang ketika aku sedih dan sandaran untuk segala masalahku kini telah sirna. Maaf karena keegoisanku yang ingin memiliki cinta dan ragamu. Mungkin karena itulah Allah memanggilmu karena Dia sangat menyayangi dirimu tanpa pamrih. Namun, aku tidak tahu bagaimana dengan diriku saat ini, apakah memilih pasrah atau bertahan dengan sisa kekuatan yang kumiliki. .”. Ucapku lirih dalam hati yang masih merasakan perih kesedihan.

NB: Ditulis oleh: Ida Nurjelita Sani,  Penerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Trotoar Berdebu, Halaman 116 s.d 127 Post Seizin Penerbit.

BACA JUGA ARTIKEL:
1. Mau tidak Mau, KITA adalah PEMIMPIN
2. Manusia Galau, apa itu KAMU?
3. KUNCI SUKSES SEORANG ANAK
4. Mencari Ilmu Kepenulisan di Skill Academy
5. 5 Langkah Mendirikan Usaha Penerbit Mandiri (Self Publishing)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten − 2 =