Nenek Misterius

Nenek Misterius

Akan kuceritakan kepadamu kisah yang tak akan pernah terlintas dalam tempurung kepalamu. Mungkin kau akan menganggapnya sekedar bualan belaka bagai angin lalu. Kisah ini aku alami beberapa bulan yang lalu. Seperti biasanya aku menunggu angkot untuk berangkat menuju sekolahku yang jaraknya cukup jauh. Tak terlintas sedikitpun dalam pikiranku akan mengalami kejadian yang tak terlupakan dalam hidupku.

Pagi itu berulangkali kugosokan kedua telapak tanganku untuk sekedar mengusir dingin yang rupanya tak mau bersahabat. Meskipun aku sudah memakai jaket, hawa dingin ini masih belum juga hilang. Tiba-tiba dari arah belakang seorang nenek datang menepuk pundakku. Kontan aku terkejut.

“Nak, antarkan nenek pulang” kata nenek itu dengan nada gemetar. Sekilas kupandangi nenek itu yang menurutku terlihat asing. Sepertinya ia bukanlah penduduk daerah sini karena wajahnya belum kukenal. Lagi pula ia meminta diantar pulang, pastilah ia bukan orang sini, batinku.

Tak ada kesan yang enak dipandang dalam mataku. Begitu kesanku kepada nenek itu. mungkin karena begitu kucelnya dirinya. Pakaiannya compang-camping serta rambutnya acak-acakan tak beraturan. Hampir saja aku akan pergi namun aku merasa kasihan dengan nenek itu karena kulihat usianya sudah sangat renta.

“Nak, nenek mau pulang ke rumah. Tetapi nenek lupa jalannya. Maukah kau mengantarkan nenek?” kata nenek itu lagi. Kali ini ia menatapku. Matanya terlihat bergetar saat menatapku. Bahkan aku bisa melihat gelembir-gelembir kulit tua yang bergelantungan di wajahnya. 

“Baik nek” jawabku agak takut. Kulihat nenek itu tersenyum kepadaku. Ia lalu menggenggam tanganku seperti hendak menujukkan rasa terima kasih. Kurasakan keriput kulitnya seperti gelembir yang ada diwajahnya. Kubayangkan gelambir-gelambir itu seperti daging keriput yang kehilangkan kenyal daging. Mungkin saja kelak aku dapat merasakan gelambir-gelambir itu bergelantungan diwajahku saat aku tua nanti.

Sepuluh menit berlalu. Sebuah angkot berhenti di depanku. Sontak aku segera menuntun nenek itu masuk ke dalam angkot. Gerakan tubuh nenek itu tak seperti yang pernah diterangkan oleh guru biologi. Kordinasi antar tubuh berjalan sangat lambat. Perintah yang dilancarkan oleh otak akan direspon oleh tubuh agak lambat seperti sebuah gumpalan daging tanpa tulang. Mungkin ini merupakan proses alamiah yang kelak akan dialami oleh semua manusia yang ada di dunia. Sebuah fase yang sering disebut manula.

Kaca mobil masih berembun tebal. Mungkin karena cuaca pagi ini yang cukup dingin karena hujan deras semalaman. Jalanan juga masih dipenuhi oleh kabut. Bahkan hanya sorot lampu yang terlihat ketika sebuah bus antarkota melintas dari arah berlawanan. Aku sendiri duduk dekat dengan pintu keluar. Sehingga dapat kau bayangkan jika kabut itu masuk menampar mukaku yang membuatku serasa berada di bagian kutub bumi.

***

“Nenek rumahnya dimana?” tanyaku kepada nenek itu yang duduk termenung. Matanya menatap kosong kaca yang berembun.

“Nenek lupa nak, tapi sepertinya rumah nenek berada di dekat terminal Bumiayu” jawab nenek itu.

“Coba ingat lagi nek, mungkin nenek bisa mengingatnya”tanyaku lagi.

“Lupa nak” jawab nenek itu pelan. Ia lalu menyandarkan punggungnya dengan rapuh. Kulihat punggungnya tak menyangga tubuhnya secara sempurna. Sebuah lengkungan punggungnya membuat ia sulit untuk menyandarkan punggungnya secara sempurna.

“Hmm.. nenek namanya siapa?”

“Lupa nak.”

“Kalau anaknya nenek?”

Tak ada jawaban yang keluar dari rapuh bibirnya. Ia hanya berdesis pelan. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang ditahan oleh gejolak emosi. Aku sendiri memilih diam. Kupikir pertanyaanku membuat diriku merasa bersalah. Kontan, aku langsung meminta maaf kepada nenek itu. Takut kalau pertanyaanku menyinggung perasaanya.

“Nenek tak punya anak” tiba-tiba kata-kata itu meluncur pelan dari bibir nenek itu.

“Sebenarnya dulu, nenek pernah mengadopsi seorang anak yang pernah nenek temukan di depan sebuah ruko pasar. Ia sudah dianggap sebagai anak kandung sendiri. Namun, setelah dewasa ia pergi meninggalkan nenek tanpa mengatakan alasanya. Nenek sudah  mencarinya ke mana-mana namun nenek tak pernah menemukannya” sambung nenek itu.

“Jadi nenek sekarang masih mencari anak nenek?” tanyaku.

“Benar, sekarang nenek mau pulang. Mungkin ia sudah benar-benar tak mau bertemu dengan nenek lagi” kulihat mata nenek itu mulai berkaca-kaca. Kemudian tanpa diduga beberapa tetes airmata meluncur dari kedua bola matanya yang rapuh.

“Sungguh keterlaluan, seharusnya ia menjaga nenek!” ucapku dengan nada marah. Sedangkan kulihat nenek itu hanya terdiam sambil terus menitikan air mata.

***

Aku masih memendam rasa marah yang dalam saat mendengar cerita tentang nenek itu. kau mungkin dapat membayangkan betapa sakitnya nenek itu saat kehilangan anak yang sudah ia rawat dan dikasihaninya itu. Sungguh aku seperti merasakan apa yang dirasakan nenek itu yang masih duduk sambil tersedu.

“Sekarang sudah sampai di terminal Bumiayu nek” kataku pelan.

“Nenek baru ingat, sebenarnya rumah nenek bukan di sekitar sini. Rumah nenek masih jauh nak. Mungkin di daerah Buaran”.

“Masih jauh nek?” tanyaku lagi yang dibalasnya dengan anggukan.

Sudah kuduga nenek itu sudah pikun. Bahkan untuk mengingat hal-hal yang paling sederhana seperti nama saja lupa. Aku ingin sekali membantu nenek itu tetapi aku merasa sangat bingung untuk menolong nenek itu. Kulihat jam ditanganku sudah menujukan tepat pukul tujuh.  Aku baru saja ingat kalau hari itu merupakan hari senin yang biasanya ada upacara di lapangan. Kontan, aku bingung untuk memilih untuk membantu nenek tersebut atau masuk ke sekolah mengikuti upacara.

Tiba-tiba saat angkot berhenti seorang ibu-ibu berperawakan agak gendut masuk ke dalam angkot. Ia menyapaku. Aku sendiri membalasnya. Ia adalah Bi Darsih. Ia merupakan orang yang masih dalam satu desaku. Tanpa diduga entah karena apa aku langsung mengatakan sebuah perkataan yang mungkin tak akan pernah kulupakan.

“Bi, mau membantuku?” tanyaku kepada Bi Darsih.

“Bisa neng, membantu apa yah? Tanyanya balik.

“Gini loh Bi, saya sebenarnya mau membantu nenek ini untuk pulang ke rumahnya tetapi saya harus berangkat sekolah untuk mengikuti upacara sekolah. Jadi, bibi mau membantu mengantarkan nenek ini pulang?”

“Mau sih neng, tetapi rumahnya dimana?”

“Katanya di daerah Buaran”

“Oh, bisa neng. Sekalian saya juga mau ke sana”

“Makasih ya Bi” ucapku kepada bibi. Kulihat nenek itu masih tersedu sambil menutup wajahnya dengan kain panjang. Dengan halus kudekati nenek itu dan meminta maaf tak dapat mengantarkannya pulang karena harus mengikuti upacara di sekolah.

***

Alangkah terkejutnya saat aku masuk ke dalam sekolah. Tak ada barisan siswa yang sering berderet setiap hari senin. Bahkan semua siswa terlihat duduk-duduk di depan kelas seolah tak ada rutinitas seperti yang dilakukan setiap senin pagi. Kata temanku, hari ini tak ada pelajaran. Rasa penuh penyesalan langsung menghantuiku saat teringat nenek itu. Aku sangat menyesal tak membantunya untuk mencari rumahnya. (**)

NB: Ditulis oleh: Wardah AgustianiPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Rahasia Surat Farhan, Halaman 50 s.d 56 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + 4 =