Nafas Untuk Negeriku

Nafas Untuk Negeriku

Di bawah cahaya lilin yang cukup terang Adi mulai membuka bukunya dan mengerjakan tugas – tugas yang diberikan oleh gurunya pagi tadi.

“Di…, ayo makan dulu sini!” teriak ibunya memanggil Adi untuk makan malam.

“Iya bu… tanggung, satu nomor lagi” sahut Adi dari kamar.

5 menit kemudian Adi keluar dari kamarnya untuk ikut bergabung dengan Ibu dan Kakaknya menyantap nasi dengan lauk tempe yang ditemani kerupuk.

“Eits, enak amat lu Di? datang – datang langsung nyantap makanan. Do’a dulu baru makan” kata Roni sambil menahan tangan Adi yang mau mengambil tempe yang ada di atas piring.

“Heheheee… maklum lah kak, cacing dalam perutku sudah kepanasan karena asam lambungku sudah mulai naik karena kelaparan” jawab Adi sambil nyengir ke Roni.

BACA JUGA CERPEN: Sesal di Ujung Senja

Adi lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dan kembali ke meja makan, setelah berdo’a Adi mulai menyantap makanan yang memang sehari – hari hanya itulah yang biasa dimakan keluarganya.

Setelah selesai mengisi perutnya dengan makanan, dia kembali ke kamar dan mulai lagi mengerjakan soal – soal lainnya. Dia membuka buku catatannya dan mencoba mencari rumus yang sesuai dengan soal matematika yang diberikan oleh gurunya pagi tadi.

“Ummmm… mana nih contohnya?” gumam Adi sambil terus membolak – balik buku catatannya.

“Kenapa Di? Can I Help You Brother?” ucap Roni tiba – tiba dari belakang dan mengagetkan Adi.

“Ya nih kak, kakak bisa gak soal ini? Tentang aplikasi differensial fungsi.” jawab Adi sambil menunjukkan PR-nya kepada Roni.

“Ooooh… Ini? Ini sih tinggal kamu turunin aja fungsinya dan cari nilai x nya untuk f’(x) = 0 lalu substitusikan ke fungsi awal” jelas Roni kepada adiknya yang sangat dia cintai itu.

“Emmm… yah, aku ngerti kak. gak rugi punya kakak guru matematika. Hehehe…” jawab Adi sambil meneruskan tugasnya.

“Yaudah, kakak tinggal tidur dulu yah? Kamu juga jangan terlalu malam kalau tidur biar besok gak kesiangan!” ucap Roni sambil mengelus rambut Adi lalu melangkah pergi keluar dari kamar Adi.

BACA JUGA CERPEN: Pahitnya Menatap Jodoh

“Siap boss!!! Laksanakan!!!” sahut Adi dengan posisi hormat pada kakaknya.

Setelah menyelesaikan tugasnya Adi pun pergi naik ke atas kasurnya dan tertidur pulas.

Keesokan harinya saat adzan subuh Adi terbangun dan langsung pergi ke mushollah bersama Ibu dan Kakaknya untuk sholat subuh berjamaah. Saat keluar dari mushollah Adi melihat Ratna yang saat itu juga keluar dari mushollah, gadis yang disukai oleh kakaknya.

BACA JUGA CERPEN: Trotoar Berdebu

“Mbak Ratna…” teriak Adi memanggil gadis itu.

“Cie – cie… ada Mbak Ratna ni yeee….” goda Adi pada kakaknya sambil mengedipkan matanya pada Roni.

“Hemmm… dasar. Awas lu yaaaa!!!” ujar Roni gemas melihat Adi yang memang sering menggodanya seperti itu setiap bertemu dengan Ratna.

Sambil terus menggoda kakaknya Adi lari ke jalanan dan Roni terus mengejarnya. Ibunya yang melihat kedua anaknya seperti itu hanya tersenyum dan berteriak “Sudah Di, jangan digodain terus kakakmu! Nanti nangis lho… kan malu ada kak Ratna.” goda Ida pada anak bungsunya itu sambil tersenyum.

“Ibu…. Ibu juga malah menggodaku” jawab Roni yang berhenti di tengah jalan dengan nafas yang tersengal – sengal karena kejar – kejaran dengan adiknya itu.

Tiba – tiba “BRUAKKK!!!” suara tabrakan terdengar oleh Adi yang saat itu masih lari dan diapun langsung menoleh. Dia sangat kaget dan seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dalam beberapa saat dia terdiam dengan melihat ibunya yang menangis sambil berlari menuju ke arah Roni yang saat itu bercucuran darah. Seolah dia tak mampu menggerakkan tubuhnya, dia hanya terdiam melihat ibunya menangis dan meneriakkan nama Roni sambil memeluk tubuh Roni yang terbaring lemas dan Ratna pun tak mampu menahan tangisannya melihat orang yang dicintai dalam keadaan yang seperti itu. Beberapa saat kemudian suara ambulan terdengar dan Roni dibawa ke rumah sakit.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Roni mencoba membuka matanya dengan sisa – sisa tenaga yang dia miliki dan dia mencoba menggenggam tangan Adi.

“Di, ingat kata ayah kita. Tak perlu menjadi jutawan jika hanya mendatangkan keserakahan. Tak perlu menjadi Ilmuwan jika hanya mendatangkan kesombongan. Dan tak perlu menjadi Pahlawan jika hanya mendatangkan keangkuhan dalam diri kita. Kita hanya perlu melakukan apa yang seharusnya kita lakukan untuk bangsa ini, berguna bagi semua orang yang membutuhkan kita tanpa perlu mengharap apapun.” Ucap Roni dengan nada lemas.

BACA JUGA CERPEN: Perkenalan Berujung Penyesalan

“si. siap b.bos. laksanakan” jawab Adi sambil menangis dan memberi tanda hormat pada kakaknya yang saat itu seakan sudah tak bernyawa.

Matahari mulai terbit saat itu, tapi dalam perjalanan seiring terbitnya matahari di dalam ambulan Roni telah meninggalkan dunia dan orang – orang yang dicintainya.

Adi dan Ibunya pun menangis sejadi – jadinya seakan seakan mereka merasakan sakit berjuta kali lipat rasa sakit yang dirasakan Roni karena tabrakan tersebut.

Haripun mulai petang kembali dan disambut dengan adzan maghrib yang berkumandang di mushollah tempat terakhir Roni melaksanakan sholat subuh dengan keluarganya.

BACA JUGA CERPEN: Nenek Misterius

Setelah sholat maghrib, dari rumah Bu Ida terdengar bacaan surat yasin yang memang ditujukan untuk mengantar kepergian Roni.

“Bu, sudah jangan menangis terus. Adi gak sanggup kalau kehilangan kakak dan harus melihat Ibu menangis tanpa henti seperti ini.” Ujar Adi seraya mengusap air mata Ibunya yang saat itu menangis sambil memegang foto Roni yang tersenyum memegang piala.

“Ibu, aku janji aku akan jaga Ibu dan menjadi orang yang berguna bagi bangsa ini seperti yang dicitakan Ayah dan Kakak.” Lanjut Adi sambil memeluk Ibunya yang tak juga berhenti menangis.

“Iya Di, Ibu yakin kamu bisa mewujudkan impian Ayah dan Kakakmu. Tapi kepedihan ini tak bisa Ibu sembunyikan. Ma’afin Ibu karena membuatmu semakin sedih.” Balas Bu Ida sambil membalas erat pelukan anak satu – satunya saat itu.

Setelah kejadian tersebut Adi menjadi semakin giat belajar demi mewujutkan keinginan Ayah dan Kakaknya. Setiap pulang sekolah dia membantu Ibunya menjual gorengan sambil membawa buku dan membacanya dikala tidak ada pembeli. Saat malam pun dia tak pernah tidur tanpa ditemani bukunya bahkan ketika dia sedang di kamar mandi pun bukunya tak pernah jauh darinya. Dia menggosok gigi, keramas, dan menyabun tubuhnya juga tetap dengan membaca buku yang dibuka di depannya.

BACA JUGA CERPEN: Pelabuhan Ulee Lheue

10 tahun kemudian

Dengan mengenakan jas abu – abu, celana dan sepatu hitam serta tas ranselnya Adi turun dari atas pesawat. Dengan membawa gelar Ph.D yang diperolehnya di National University of Singapore  dia berjalan ke arah pintu keluar bandara udara. Dia berlari saat melihat sosok Ibunya yang sangat dia rindukan saat itu, dengan meneteskan air mata kebahagiaan Adi langsung merangkul Ibunya.

“Sudah sudah jangan nangis disini. Malu tuch dilihat orang banyak” ujar Bu Ida menenangkan putra kebanggaannya yang sedang merangkulnya itu.

“Biarin, aku gak perduli dengan semua orang. Biar semua orang tau bahwa Ibu adalah duniaku” jawab Adi sambil melepas pelukannya dan menatap Ibunya.

“Tapi emang kamu gak kangen ama masakan Ibu? Ibu udah masakin makanan kesukaanmu lho, spesial buat kamu.” balas Bu Ida sambil tersenyum.

“Emmmmm…. gimana ya? Pastinya kangen banget pengen disuapin Ibuku yang paling paling paling pallliiiing aku sayang ini!” Adi menjawab dengan nada manja sambil mengedipkan matanya.

“Uh, dasar kamu dari dulu gak berubah” balas Bu Ida lagi sambil mencubit tangan Adi.

Setelah itu merekapun pulang ke rumah dimana semua ini berawal.

Sesampai di rumah, tepat di ruang tamu Adi berhenti memandangi setiap foto yang menghiasi ruang tamu tersebut. Mata Adi mulai menyusuri foto – foto tersebut dari fotonya dengan piagam penghargaan ONMIPA PT bidang matematika, fotonya dengan medali emas IMC (International Mathematic Competitions) di Bulgaria dan akhirnya pandangannya terhenti pada sebuah foto yakni foto Roni yang tersenyum sembari membawa piala.

BACA JUGA CERPEN: Mimpi Sang Gadis

“Kak, lihatlah aku! Aku berhasil kan mengalahkan kakak? Dan sekarang aku akan mulai mewujudkan impian Ayah,impian Kakak, impian Ibu, impian menjadi orang yang tak mencari kekayaan jika hanya memberi kita keserakahan, impian menjadi orang yang tak mencari kepandaian jika hanya memberi kita kesombongan, dan aku tak akan menjadi seorang pahlawan jika belum bisa melawan keangkuhan. Aku hanya akan menjadi orang yang dapat berguna bagi negeri ini, membanggakan Ibu, Ayah, dan Kakak tanpa mengharap apapun lagi dari orang lain.” Ucap Adi yang memegang foto kakaknya seolah orang yang ada di dalam foto itu dapat mendengar dan menjawabnya. Dan dia tersadar bahwa ada beberapa tetesan air yang mengalir dari matanya dan dibasuhnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya kembali memasang foto tersebut di dinding ruang tamu dimana tempat foto itu sebelumnya dipasang.

BACA JUGA CERPEN: Gagal LDR

Adi pun mulai berjalan ke meja makan dan melihat sepiring nasi dan ayam goreng dengan sambal yang sangat disukainya.

“Bu… Ibu dimana? Adi usah lapar pengen disuapin nih… cacing dalam perutku sudah mulai kepanasan karena asam lambungku sudah naik Bu…” Teriak Adi memanggil Ibunya seolah dia ingin tetap diperlakukan seperti anak kecil oleh Ibunya.

“Iya… nih ibu bikinin teh dulu buat anakku yang paling tampan se-Indoneisa ini” jawab Bu Ida sambil mengaduk teh dan berjalan ke arah Adi.

Adi disuapi Ibunya seperti anak balita yang belum bisa makan sendiri.

Keesokan harinya Adi mulai berjalan – jalan keliling desa untuk melihat keadaan desanya yang sekarang.

“Ternyata tak ada yang berubah dari desa ini” gumamnya sambil memegang dagunya yang mulai sedikit ditumbuhi oleh jenggot tipis itu.

“Hei, Di” suara perempuan yang sepertinya tidak asing baginya.

“Oh, Mbak Ratna ya? Gimana kabarnya Mbak?” balas Adi pada Ratna yang dulu sempat dekat dengan Kakaknya.

“Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, Mbak dalam keadaan sehat dan masih komplit dengan dua mata, dua telinga dan satu hidung” balas Ratna dengan nada becanda

BACA JUGA CERPEN: Kenangan Terindah Dalam Seragam Putih Abu-Abu

“Waaah… Mbak Ratna ini. Masih tetep aja yah kayak dulu, tapi tambah cantik” puji Adi pada Ratna yang saat itu mengenakan busana muslim berwarna kuning dengan kerudung merah muda.

“Hahahaaaa… kamu bisa saja. Trus, kamu dari tadi muter – muter itu ngapain? Nyasar ya?” ledek Ratna pada Adi yang sekarang sudah terlihat dewasa.

“Enggak kak, ini Aku sedang melihat keadaan desa karena aku pengen bangun sekolah alam disini” tegas Adi dengan melihat ke arah sekitarnya.

“Emmm… Kalau itu aku setuju sama kamu karena kalau disini memang masalah pendidikan sangat kurang diperhatikan. Trus Mbak bisa bantu apa?” tanya Ratna pada Adi.

“Mbak mau bantu aku? Oke, pertama kita ke rumah Kepala Desa untuk meminta ijin mengumpulkan para kepala rumah tangga di Balai Desa lalu kita beritahu semua rencana kita” jelas Adi kepada Ratna.

Setelah itu Adi, Ratna, dan warga desa pun mulai membangun sekolah alam yang direncanakan oleh Adi. Delam beberapa minggu sekolah tersebut selesai dan Adi mulai mencari beberapa siswa yang akan dibina langsung olehnya untuk merancang, mengembangkan, dan mempergunakan alat – alat sains.

BACA JUGA CERPEN: Standing In The Dark

15 tahun kemudian

Sekolah yang dibangun oleh Adi telah menjadi sekolah yang sangat besar dan mendapat beberapa penghargaan karena beberapa karya yang diciptakan oleh para siswa di sekolah tersebut. Sekolah itu telah dikenal bahkan di tingkat Internasional.

“Ayah, Kakak, lihatlah ini! Inilah impian Ayah, impian Kakak, impian Ibu, dan juga telah menjadi impianku. Aku bukanlah orang kaya dengan segala keserakahanku, aku bukanlah seorang ilmuwan dengan segala kesombonganku, dan aku bukanlah pahlawan yang angkuh. Disini aku hanya ingin melihat senyum setiap orang, setiap anak bangsa, dan senyum untuk segala harapan negeri ini di masa depan. Kini aku hanya bernafas untuk menjaga Keluargaku, untuk menjaga Agamaku, dan memberi nafas untuk negeriku” ucap Adi dalam hati yang saat itu mengayuh sepeda tuanya yang melaju meninggalkan sekolah ke arah rumahnya. Di rumahnya yang tetap seperti gubuk dia disambut oleh putranya yang membawa medali juara olimpiade sains di Singapura.

NB: Ditulis oleh: Akhmad Mujayyid,  Penerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Impian tak Tersampaikan, Halaman 1 s.d 8 Post Seizin Penerbit.

BACA JUGA ARTIKEL:
1. 10 Fakta tentang Honorer (Nomor 8 Nyesek Bingit Guys)
2. 3 Kunci Sukses & Bahagia Ala Haji Bolot
3. 5 Langkah Mendirikan Usaha Penerbit Mandiri (Self Publishing)
4. Jenis Rempah Khas Kerinci ini menjadi incaran untuk Masakan Berskala Besar
5. Penerbit Landasan Ilmu
6. Manusia Galau, apa itu KAMU?
7. KUNCI SUKSES SEORANG ANAK
8. Cara Layout buku dengan mudah dan cepat 100% bisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + 10 =