Mimpi Sang Gadis

Mimpi Sang Gadis

Kakiku perpijak berpindah tubuhpun mengikuti setiap langkah, dengan tatapan kosong namun berarah, aku mengikuti setiap jalur sekolah. Tiba-tiba terlintas lamunan tentang seseorang yang sejak pandang pertama telah aku kagumi dan kini mungkin telah aku cintai. Adzin ya Adzin, aku selalu memuji-muji dia. Bagai mana tidak, sosok berakhal mulia, mengerti agama, dan bertingkah bak Arjuna ini, mana mungkin bisa kulupakan.

Lamunku seketika buyar, mendengar suara panggilan sholat. Akhirnya ku putuskan melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah dulu. Ya…walaupun kalau dirumah aku jarang-jarang sholat berjamaah kaya gini, sholat aja kalau ingat.

Kebetulan aku masuk kloter kedua berjamaahnya. Tiba-tiba “Waw…” kukatakan itu dengan terkejut dan nada gembira. Kata itu langsung tertuang dari bibirku, karena ternyata Adzinlah yang akan menjadi imam dari sholat kami.”Kebetulan banget yah…apa ini yang namanya jodoh?” lamunanku dalam senyum-senyum tak jelas. Tiba-tiba “Plak” tanganku reflek menepuk pipi kananku. “Woy ! sadah Tes, banyak anak yang ikut berjamaah juga kali, bukan cuma kamu” dalam batin aku menegur diriku sendiri. “Allahuakbar” suara merdu Adzin ini tanda bahwa sholat telah dimulai, dan akupun bergegas mengikuti gerakan sholat itu dengan melepaskan semua lamunanku. Tap, tap,tap sholat telah dilalui hanya tinggal gerakan terakhirku, yaitu gerakan salam “Assalamu’alaikumwarahmatullah”  kutolehkan kepalaku kekanan, dan “Assalamu’alaikuwarahmatullah” kutolehkan kepalaku kekiri. Akhirnya kuusapkan tanganku kewajah ini.

Aku bergegas melepaskan kain lebar yang suci ini dari tubuhku, walaupun jamaah yang lain belum ada yang membuka mukenanya, karena sibuk berdoa sendiri-sendiri.”Ah, masa bodo, orang aku udah gerah” aku memang suka kepanasan sendiri kalau kelamaan memakai mukena atau jilbab. “Rabbana atina fiddunya khasanah” tiba-tiba telingaku yang sudah tak tertutupi mukena ini mendengar lantunan do’a yang sangat indah. “Eh….eh…eh, siap tuh yang lagi do’a?” aku bertanya-tanya dengan nada pelan dan mukaku yang mengintip-ngintip rotan pembatas antara kaum Hawa dan kaum Adam dalam surau sekolah kami. “Itukan Adzin kataku pelan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengenakan kembali mukena yang tadi sudah kulepas dan langsung kutadahkan  tanganku  dan  mengamini setiap doa-doa Adzin yang penuh dengan hikmat itu. Kupejamkan mataku dan kuhayati ayat-ayat suci ini. Aku merasakan sebuah getaran dalam hati, getaran yang sangat menggugahku. Terlintas sebuah tanda tanya dalam benakku, apakah ini getaran dari sang Ilahi?. Ataukah ini adalah getaran cintaku pada Adzin ?. aku terus bertanya-tanya dalam pikiranku yang terbelenggu.

Detik dan menit telah kulalui, mungkin hampir seperempat jam aku bertahan dealam deretan nada-nada Al Quran, si Adzin belum juga menyudahi do’anya itu. Aku tertegun dan semakin kagum padanya. Sampai-sampai guru-guru dan siswa-siswi yang sedang mengantri untuk melaksanakan sholat  dibuatnya melongo dan terkagum-kagum. Mereka memuji-muji kefasehan Adzin dalam melantunkan doa-doa yang sangat panjang itu. Menurutku hal itu adalah sebuah rekor dalam sekolah kami, karena sejak sekolah disini belum pernah ketemu siswa SMK seperti itu. Gurupun apabila melantunkan doa tidak sepanjang itu.

“huft, akhirnya selesai juga” aku lega karena doanya Adzin telah selesai, akupun segera melepas pukena dari tubuhku. Kuluruskan badanku vertikal dan bergegas memakai sepatu untuk kembali ke kelas. Saat aku mengenakan sepatu, mataku terus berusaha mencari wajah indah Adzin, namun belum juga ketemu. “Ah mungkin dia udah kekelas, mendingan aku juga kekelas” pikirku dalam batin. “Srek, srek….srek” suara gesekan langkahku dengan paving hijau terus menuju kekelas. Tiba-tiba ditengah perjalanan aku melihat Adzin tengah jalan sendirian.

“Adzin….Adzin !” sontaku memanggil namanya.

“Iya, eh Tessa..” jawabnya sambil menundukan kepalanya sejenak dan meletakan tangannya diperutnya.

“Hai…”sapaku.

“Hai juga” jawabnya dan langsung membalikan badanya sembari melanjutkan langkahnya.

“Eh Adzin, Adzin !”

Entah karena apa dia sama sekali tidak menyahutku, akhirnya kupanggil ulang dia.

“Addzin…Adzin” dia belum juga menyahutku.

“Hah…apan sih dia, belagu banget, dipanggil aja gak jawab” kesalku sambil memanyunkan bibirku.

Saat itu aku merasa sangat kesal padanya. Apakah dia tidak mendengarku ? ataukah pura-pura tak mendengar ?. aku takut kalau dia memang pura-pura tak mendengar. Mungkin dia lakukan itu karena ilfil melihat tingkahku yang terlalu agresif, memang sih aku kalau ketemu dia selalu bersikap salting dan agak agresif gitu. Apalagi Adzin kan pandai beragama sudah pastilah dia menyukai wanita yang beragama pula. Sedangkan aku, apakah mungkin dia bisa menyukaiku ?, mungkin saja khayalanku terlalu tinggi. Bagaimana mungkin gadis sepertiku. Tessa Diyanti, seorang anak yang lumayan pemalu tetapi sedikit agresif, pemalas dan ilmunya tentang agamapun bisa dibilang masih cetek. Yah semoga saja ada keajaiban.

“Aah akukan sedang kesal padanya, mengapa aku jadi mikir kaya gitu”kataku menghentikan lamunanku.

Tiba-tiba dari arah yang takku sangka-sangka terdengar suara memanggilku “ Tessa….Tessa tunggu !” aku seperti mengenal suara itu. “Iya  “ Kutolehkan kepalaku kepadanya kulihat matanya, hidungnya, mulutnya dan ternyata itu Setia. Setia itu teman sekelasku yang sikapnya baik gitu sama aku, mungkin bisa dibilang sahabat.

“Eh Setia ada apa kamu lari-lari panggil aku ?”

“Ituloh, tadi ada pengumuman, katanya besok ada lomba perpasang-pasangan gitu” jawabnya dengan nafas terengah-engah.

“Pasangan-pasangan gimana ngomong yang jelas dong!”

“Hah…hah, gini loh setiap kelas mengirimkan 2 orang, laki-laki dan perempuan, untuk mengikuti lomba lepas tali “

“Lepas tali maksudnya ?”

“Maksudnya nanti sepasang itu tangannya akan diikat dengan tali dan siapa yang tercepat melepaskannya jadi pemenangnya”

“Owh…terus apa hubungannya denganku ?” tanyaku sedikit nyolot

“Ya…menurutku, kamu aja yang mewakili kelas kami, dengan Adzin mau yah”..

“Hah ! dengan Adzin, mana mau dia denganku, tadi aja aku panggil-panggil dianya gak nyaut” jawabku dengan nada berat.

“Udah deh kamu mau aja, nanti aku bantuin kamu ngebujuk Adzin”

“Kamu bujuk aja dia sendiri, aku sih ogah ngemis-ngemis kedia”

“Ya, ya okedeh aku akan bujuk dia, tapi kamu mau yah…”

aku hanya tersenyum menanggapi kata-kata Setia.

Aku langsung membalikan badanku seperti semula, menuju ke kelas. Saat aku melangkahkan kakiku aku terus saja memikirkan sikap Adzin padaku. Aku melanjutkan kesalku padanya. Saat itu tuh aku merasa malu, tengsin, dan gak bangat padanya. Kenapa dia harus berbuat seperti itu ?, tinggal jawab aja apa susahnya. Okey kalau memang gak mau jawab, senyum aja, itu udah bikin aku seneng.

Tapi, masa sih dia sengaja bersikap seperti itu, diakan orang baik. Aku gak boleh terlarut-larut dalam kekesalan ini  padanaya. Aku harus selalu positif thinking padanya. Mungkin saja dia memang benar-benar tak mendengar. Aku terus berusaha meredam kekesalan itu. Tetapi tetap saja aku kesal padanya.

Besoknya aku tiba disekolah. Kumantapkan langkahku tuk menuntut ilmu, dengan hati bersih dan fikiran jernih aku yakin mampu. Kuletakan tas berisi buku diatas bangku yang bermeja dari kayu. Tiba-tiba “Brughg” seseorang jatuh menabrak mejaku. Dengan sigap aku langsung membantunya berdiri. “Kamu gak apa-apa?” tanyaku sambil membangunkannya. “Ayo cepat ikut aku !” tanpa menjawab pertanyanku. Setia langsung menarik tanganku dan membawaku kelapangan sekolah. “Kenapa, kenapa kamu bawa aku kesini ?” tanyaku bingung pada Setia. “Kamukan harus siap-siap buat lomba lepas tali, tuh Adzin udah nungguin” jawabnya sambil menunjuk kearah Adzin. Akupun mengikuti arah tangan Setia, dan ternyata memang benar itu Adzin. Aku tersenyu-senyum dan gak percaya kalau itu memang benar-benar Adzin. “Eh Set, Set cobadeh kamu tepok pipiku !” pintaku pada Setia untuk lebih menyakinkanku. Tiba-tiba “Plak” si Setia menepok pipiku. “Eh sakit, apaan sih?”, “tadi katanya suruh nepok “ Setia sedikit marah. “Oh iya…sorry Set”  jawabku dengan senyum-senyum malu. OMG, benar-benar aku ngga percaya ini kenyataan kalau Adzin benar-benar mau ikut lomba denganku.

Tiba-tiba lamunanku buyar karena mendengar suara memanggilku dengan lambaian tangan tetap didepan mukaku. “Tessa….Tessa, hey !”. ternyata itu Adzin yang menghampiriku dan aku makin ngga percaya dengan semua ini. “Eh…oh…..oh, iya, iya Zin”. “kok bengong gitu sih, nanti disambar jin loh ?” jawabnya heran. “Ah kamu bisa aja, aku ngga kenapa-kenapa kok, ngomong-ngomong kamu beneran mau ikut loma sama kau ?”. “Iya beneran lah, oh iya maaf kemarin aku buru-buru jadi gak jawab kamu”. “O ya gak apa-apa” jawabku sangat lega. Ternyata semua dugaanku tentangnya salah. Maafkan aku Ya Allah aku telah berprasangka buruk tentang Adzin. Aku bersyukur, ternyata Adzin memang benar-benar anak yang baik.

“Udah ayo ! kita udah ditunggu “ Ajak Adzin”

“Iya, iya, Setia duluan ya…., eh Setia mana?

“Dia tadikan udah pergi, memangnya kamu gak lihat ?”

“Enggak “

“Oh iya, tadi kamukan lagi bengong melompong gak jelas “

“He…he…he”

Kami segera menuju ke lingkaran lomba, dan disana semua peserta memang sudah berkumpul, Tinggal aku dan Adzin saja yang belum. Kamipun bergegas menempatkan diri dan panitia lomba langsung mengikat tangan kami berdua dengan tali yang cukup besar dan kuat. Saat itu Adzin berada persis didepan mukaku, akupun terus memandangnya dengan jantung yang sudah tak terkontrol dan nafas yang hampir sesak. “Prit” suara peluit telah dibunyikan, tanda bahwa lomba telah dimulai. Kami berdua mulai melepas tali yang mengikat pergelangan tangan kami. “Ayo Tessa, Adzin cepat !” suara sorak-sorak suporter dari kelas kami. Namun aku sama sekali tidak menghiraukan suara itu, aku haya fokus pada tali yang mengikatku dan Adzin.”Ayo Tessa yang kuat dong,ini talinya sudah hampir lepas” pinta Adzin  dengan kata-kata yang gugup. “Iya ini aku udah paling kuat kok” jawabku sambil menarik-narik tangan keluar ikatan. “Praakh “ tiba-tiba aku dan Adzin terjatuh dengan arah berlawanan. Kulihat tanganku dan tangannya talinya telah terlepas. Aku langsung bersorak histeris “Yeee…..” sembil berdiri. “Tessa ! kita menang“ nada gembira Adzin padaku, dan dia langsung memelukku, seketika akupun ternganga dan bingung, “Adzin…. Adzin… kenapa kamu peluk aku “ tanyaku heran. “Eh…iya maaf, aku reflek….” Adzin tersadar dan langsung melepas pelukan gembira itu, mukanya juka nampak malu. Aku hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Adzin dan berfikir “ Ternyata Adzin bisa khilaf juga,…ha….ha”. tapi aku merasa senang dengan semua ini. “Tess aku ngambil hadiahnya dulu ya” kata Adzin sambil melangkah menuju ruang panitia. “Iya” jawabku singkat.

Aku langsung menemui Setia yang tengah duduk di tepi lapangan.

“Setia !” panggilku

“Iya…. cie yang menang”

“Ah kamu bisa aja, semua inikan juga berkat kamu, kamu udah mau susah-susah ngebujuk Adzin.

“Biasa aja kok, gak usah terlalu memuji. Sebenarnya ngebujuk Adzin itu gak susah, orang dianya juga seneng bangat waktu aku bilang lombanya sama kamu”

“Hah seneng !”… memangnya kenapa dia seneng gitu ?” tanyaku dengan muka  merah dan mulai salting.

“Dia kan su…” dia memutuskan kata-katanya.

“Su,su apa? Ngomong yang jelas dong ! jangan bikin aku penasaran gini”

“Kamu beneran mau tau ?… mau tau aja apa mau tau bangat ? kalau mau kejar aku sini !” ledeknya dan langsung lari menjahui aku.

“Eh, kamu ngeledek aku yah?… sini kamu, jangan lari!” akupun berlari mengejar Setia.

Sambil berlari aku terus berfikir, apa yang akan dikatakan Setia itu ?. Awalnya su…ee…apa apa mungkin suka,suka?, ah tapi tidak mungkin. Tapi mungkin juga, batinku terus bertanya dengan hatiku yang tengah berbunga-bunga. Sejak saat itu hubunganku dan Adzin semakin dekat, tetapi tetap dalam syahwatnya. Aku semakin pandai beragama, karena hampir setiap akhir pekan aku diajari ngaji oleh Adzin. Bukan cuma ngaji, namun hampir semua hal tentang agama, huruf, tajwid, hukum-hukum islam, dan masih banyak lagi tentang islam. Karena setiap hari aku sekolah memakai kerudung, dan apabila liburpun aku belajar ngaji,otomatis aku jadi selalu memakai kerudung. Akhirnya aku jadi nyaman menutup aurat, walaupun aku belum memutuskan untuk berhijab. Aku bersyukur hidupku yang sekarang telah jauh berbeda dari yang dulu. Semoga ini adalah langkah awal yang baik untuk menjadi wanita yang shalihah.

NB: Ditulis oleh: Mia AdiartiPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Rahasia Surat Farhan, Halaman 28 s.d 36 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − 9 =