Manajemen Bencana Bukanlah Bencana

Manajemen Bencana Bukanlah Bencana

“Keraguan bukanlah untuk mengerahkan upaya, karena upaya adalah untuk membuktikan bahwa keraguan itu salah.”

            Semester genap telah berakhir, ini salah satu pertanda bahwa mahasiswa Universitas Andalas akan siap menuju kampung halaman mereka masing-masing untuk menikmati liburan. Begitu juga denganku mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat kampus yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan Jati yang hanya berjarak beberapa meter dari lokasi gedung utama. Ini bulan keenam. Semester 4 yang penuh lika-liku telah berhasil kulalui dengan damai. Damai sebatas kata, “Dua puluh empat SKS dalam 12 mata kuliah done.”

Menjadi mahasiswa memang berat, sebagian orang mengatakan bahwa mahasiswa merupakan profesi sumber stress. Mencoba memahami beragam tipikal dosen dengan segala karakternya, bahkan ada seorang dosen yang sulit sekali dipahami gaya mengajarnya. Beliau menganggap bahwa semua mahasiswa memiliki kapasitas pemahaman yang sama. Namun, tidak bagiku. Hari-hari kuliah yang cukup monoton dengan seabrek tugas lengkap dengan presentasi, kuis, dan jadwal kuliahnya yang kadang tak sinkron, jadwal kuliah tambahan, terlebih dengan kegiatan organisasi yang cukup menyita perhatian waktu. Otomatis sebagian waktu kuhabiskan di kampus, berpindah dari gazebo ke gazebo, menginap di kos teman mengerjakan tugas juga hal yang sudah biasa bagiku.

Kali ini aku masih saja diasyikkan dengan dunia tulis-menulis di salah satu Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKM) di kampus. Pena, begitulah namanya. Organisasi, ilmu gratis tanpa dosen untuk mengasah softskill yang bermanfaat tanpa berbatas waktu. Kuliah memang nomor satu, tapi organisasi bukanlah nomor dua.

***

            “Hei, udah cek portal, belum?” tanya teman kosku.

            “Belum, sedari tadi error mulu nih!” jawabku.

Sulitnya mengakses portal saat pergantian semester bukan hal yang biasa lagi. Banyaknya pengunjung, bahkan akhir-akhir ini portal kembali disibukkan dengan aktivitas calon mahasiswa baru yang mendaftar ulang, mahasiswa yang mengambil mata kuliah semester pendek (SP) yang harus mengisi KRS menjadikan portal kadang sulit untuk diakses. Alhasil, mahasiswa sering kali mengeluhkan sulitnya akses ke dalam portal padahal hanya sebatas melihat Kartu Hasil Studi (KHS). Begitu juga halnya, bahwa portal adalah hantu akademis yang sesekali dapat menghancurkan suasana hati sekaligus menghilangkan mood liburan. “Lantaran portal mengalami gangguan ditambah tidak berbekal keberaniaan yang cukup membukanya. Ah, syukurlah kalau portalnya lagi error!” pikirku dalam hati.

 “Kamu udah cek nilai?” aku balik bertanya dengan harapan ia memberikan sedikit gambaran nilai, agar ketika mendengar kilasan darinya, tak lagi gugup dan mengumpulkan keberanian yang cukup untuk membuka portal.

***

Nilai di portal tiba-tiba jadi trending topic di BBM, line bahkan juga di facebook.Ia selalu jadi tokoh utama yang selalu dibahas dengan kompak oleh mahasiswa yang akrab disapa dengan kampus ungu ini, dengan motto promotif dan preventif yang selalu bergaung dalam semangat seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat.

“Gimana kabar nilaimu?” Ah, teman-teman selalu menanyakan hal ini semakin memaksaku untuk memberanikan log in. “Selamat datang di portal akademik sistem yang memungkinkan para civitas akademika untuk menerima informasi dengan lebih cepat melalui internet. Sistem ini diharapkan dapat memberi kemudahan setiap civitas akademika untuk melakukan aktivitas-aktivitas akademik dan proses belajar mengajar. Selamat menggunakan fasilitas ini.” Begitulah kata-kata yang selalu hadir saat pertama membuka portal. Akhirnya, kutekan tombol ‘KHS’ tanpa basa-basi langsung menuju ‘Genap 2014/2015.’

            Hening.

Senang, tak percaya sekaligus membubuhi tanda tanya dipikiranku. Aku lihat secara detail masing-masing nilai yang muncul dan segera menginstropeksi diri tentang kinerja, usaha dan kesungguhan belajarku. ‘Manajemen Bencana.’

“Tidak. Kenapa ini?” lanjutku dalam hati

Aku memutar kejadian sambil mengingat kilas balik apa yang sesungguhnya terjadi. Aku ingat, Amdal dan Kewirausahaan, ujian yang kutempuh bersamaan dengannya. “Tapi ini bukan berarti aku mengesampingkan mata kuliah Manajemen Bencana,” bisikku dalam hati.

 “Diluar prakiraan.”

            “—Eh, kenapa? kok diam?” tanya rekan kerjaku di tim redaksi yang sedang asyik melakukan proses editing, seakan-akan menghentikan gelak tawa dan tiba-tiba suasana berubah menjadi dingin.

            “—Untuk pertemuan hari ini kita sudahi sampai disini ya! Jangan lupa editannya dikerjakan di kos masing-masing! Nanti, kita diskusikan kembali. Dan untuk layouter barangkali bisa dicicil nge-layoutnya. Thanks for today, guys!” ucapku sambil menutup pertemuan yang berakhir rada cepat dari biasanya.

            —Aku berusaha bersikap tenang. Dengan langkah tergesa-gesa aku langsung menuju ruangan dosen pengampu mata kuliah Manajemen Bencana yang tak jauh dari lokasi pengeditan.

“Maaf, Bapak sedang menguji skripsi,” ujar asisten dosen dengan senyum tipis seketika menghentikan pandangannya ke layar laptop.

***

            Aku melihat beliau tampak sedang sibuk dengan laptopnya terlihat pandangan satu arah hanya terfokus ke layar monitor. Tanpa basa-basi yang panjang aku segera mengutarakan maksud kedatanganku untuk mendapatkan penjelasan sekaligus keterangan lebih lanjut, berharap beliau masih menyimpan backup data. Datang menghadap untuk meminta keterbukaan dan kebijaksanaan.

            “Assalamualaikum.”

            “— silakan masuk!”

            “Maaf menganggu, Pak!” ucapku hati-hati.

            “Aku ingin konsul terkait dengan nilai Manajemen Bencana. Bukan complain sebenarnya, Pak………”

            Beliau langsung memotong ucapanku sambil mencari rekapan nilai di lemari, terlihat banyak sekali pengotakan file bahkan tersusun dengan rapi. Respons yang begitu cepat seakan-akan tahu kemana arah pembicaraanku.

            “NIM-nya berapa?”

“071, Pak!”

Alhasil, nilai yang tertera ternyata belum lengkap. Ketidaklengkapan yang bukan berasal dariku, melainkan lahir dari kekhilafan. Singkat cerita, lupa meng-entry nilai UTS. Berujung nilai D selalu menertawakanku akhir-akhir ini. Nilai huruf yang biasanya diekuivalenkan dengan nilai numerik 1, sehingga ketika menghitung indeks prestasi, hasilnya benar-benar down.

“Mahasiswa dapat nilai D?” pikiran orang sungguh beragam akan hal ini, bisa jadi disebut mereka yang jarang terlihat di kampus, anehnya di absen ada, tapi nyatanya tidak ada. ‘Mahsiswa samar-samar.’ Namun, alangkah sedih ketika usaha keras tidak sejalan dengan hasil,” pikirku dalam hati.

 “Bagaimana solusinya kira-kira, Pak?” ujarku mantap. “Ini hanyalah kesalahan kecil, tapi berefek fatal,” lanjutku dalam hati.

“Saya akan proses dan tindak lanjuti segera!”

“Kira-kira ini membutuhkan berapa lama, Pak?” ucapku penuh ragu-ragu

***

Selang beberapa bulan, nilai Manajeman Bencana tak kunjung berganti. Aku kembali mendatangi ruangan beliau, ia memberikan pengertian bahwa pemasukan nilai nyatanya memiliki periode dan batas waktu masing-masing yang menyebabkan nilaiku belum ter-update. Mencoba menghibur diri dan aku hanya bisa yakin.

“—Hidup kadang memang perlu beradu, bergejolak, dan bergesekan. Dari gesekan dan hambatan untuk menanamkan kesabaran ini agar matang. Aku yakin setiap masalah ini punya solusi terbaik dan butuh penantian seperti hakikat yang Allah jelaskan dibeberapa ayat dalam Al-qur’an tentang rezeki, sangatlah luar biasa bahwa rezeki datang dari tempat yang tidak disangka-sangka. Teringat pesan paman, bahwa nilai itu penting, tapi ketahuilah, di dunia luar/nyata, ilmu dan penerapannya jauh lebih penting. Dia memiliki cara yang tak mampu terhitung oleh logika manusia dalam merencanakan dan mewujudkan keinginan hamba-Nya. Aku yakin ada makna tersirat dibalik ini dan akan datang di waktu Maha Penting. ‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’ Nilai Manajemen Bencana ini bukanlah bencana,” kalimat bold ini mengakhiri curhatanku yang kutulis di sehelai kertas.

Setelah membuka pintu kamar aku langsung menyalakan laptop dan menuliskan sebuah cerita yang kuberi judul “Manajemen Bencana bukanlah Bencana.”

“Keraguan bukanlah untuk mengerahkan upaya, karena upaya adalah untuk membuktikan bahwa keraguan itu salah.”

Semester genap telah berakhir, ini salah satu pertanda bahwa mahasiswa Universitas Andalas akan siap menuju kampung halaman mereka masing-masing untuk menikmati liburan. Begitu juga denganku mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat kampus yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan Jati yang hanya berjarak ………………….

Tulisan itu terhenti seketika, saat handphoneku berdering teramat keras membuyarkan heningnya malam minggu saat itu. SMS yang kuterima dari salah seorang tim redaksi Pena, “Kak, besok kita ngeditnya jam berapa?”

***

NB: Ditulis oleh: Yoni Fitri AprillaPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Rahasia Surat Farhan, Halaman 12 s.d 18 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =