Ku relakan Janjimu

Bersamamu bahagia kurasa

Tanpamu mungkin hatiku resah

Temani aku setiap nafasmu

Karena memang hati ini untukmu

Karena memang jiwa ini untuk mu

Bahagia selalu bersamamu

 Pernah mungkin terteteskan air mata ini

Namun aku sadar itu hanya sepercik tingkah

Yang terkadang membuat luka

 Namun yakin lah itu hanya luka manis

Untuk membuat kita lebih dekat dan saling menjaga

Tak sedikitpun terselip di fikiranku

Tuk mencari cinta selain dirimu pangeranku.

Masih tebayang jelas kertas puisi itu di dinding, tiga tahun sudah karya penghapus luka menghiasi kamar yang penuh dengan hiruk pikuk permasalahan dunia tak tertinggal permasalahan dua hati yang berbeda, namun  luka itu mulai tergores dan membekas lagi.

Tiga tahun yang lalu…

“Fer, tak percaya kah kau kepadaku?”. Ungkap Indah penuh dengan kesungguhan.

“Cukup Indah, ada laki-laki lain dihatimu”. Jawab Ferdian dengan mata yang berkaca-kaca.

Hari itu sudah sekian kalinya Indah menolak permintaan Ferdian untuk segera meminangnya dan bertemu dengan keluarganya. Entah apa yang menjadi alasan bagi Indah, air mata Ferdian tak mampu meluluhkan hatinya. Kata-kata Ferdian belum mampu meyakinkannya. Meski sudah berapi-api ungkapan cinta dari Ferdian.

“malu aku dilihat dunia, laki-laki meneteskan airmata demi perempuan. Cinta yang membuat aku begini”. Ucap Ferdian.

“Fer, kita masih kuliah semester 5, terlalu cepat rasanya untuk membangun bahtera rumah tangga dan orangtua aku pun sudah pasti akan menolaknya meski kita saling menyayangi.

Cinta telah membutakan hati Ferdian, namun baginya tak ada larangan bagi Agama jika memang rasa dihati telah sanggup menjalankan Sunnah Rasul. Lagi pula Allah Swt pasti menjamin setiap jiwa manusia yang memiliki tupoksi rejekinya masing-masing.

“bersabarlah,…. cintaku hanya untukmu.. janjiku takkan terkhianati, jika kita telah meraih mimpidengan gelar sarjana kita akan bisa bertemu di pelaminan”. Ucap Indah sambil memberikan sebuah kertas yang berisikan sebuah puisi.

“kupegang janjimu, sumpah setiaku menjaga hati hingga suatu saat cinta suci yang menyatukan kita”. Ucap Ferdian.

Setidaknya hari itu telah membuat hati Ferdian Cukup Lega, sebagai orang faham tentang Agama tentu ia tidak mau jauh terjerumus dalam lembah pacaran. Niat untuk menikah muda selalu menjadi impiannya. Untuk apa menunggu lama-lama jika cinta dihati telah mendebu-debu.

Hari-hari mereka disibukkan dengan tugas kuliah dan mengikuti organisasi-organisasi kemahasiswaan, meski begitu, hati selalu berbunga-bunga jika mereka saling bertatap mata, memang ada cinta di hati mereka. Janji yang terucap menjadi penyemangat untuk terus berjuang hingga cinta bersatu di jalanNya bukan tanpa tujuan tapi tertuju untuk di jalan Agama.

Namun sesibuk-sibuk apapun Ferdian dan Indah di Dunia kampusnya, tapi mereka tetap saling memberi kabar dan menjaga hati masing-masing berharap memang akan ada pertemuan yang suatu saat akan menjemput mereka yaitu pertemuan di pelaminan.

***

Masa Berlalu…

Benar kata pepatah jika kita menikmati hidup, maka waktu berputar akan terasa cepat seakan-akan tanpa memberitahu. Benar, hari ini Ferdian dan Indah menikmati hari bahagia mereka. Hari bersejarah dalam setiap insan di Dunia karena hari ini mereka akan di Wisudakan dan meraih gelar sarjana.

“Indah, selamat.. hari ini kita akan diwisudakan setalah empat tahun menuntut ilmu”. Ucap Ferdian dengan senyuman terindahnya.

“artinya semakin dekat pula kita menuju cinta yang suci”. Balas Indah dengan senyum pula, hingga gelak tawa menghiasi wajah mereka dengan toga diKepala.

“InsyaAllah Allah mudahkan”…..

Memang wisuda merupakan hari yang penuh dengan kesan setelah bersusah-susah berjuang di dunia perkuliahan yang super sibuk dengan tugas-tugas makalah, skripsi, belum lagi harus kuliah kerja lapangan, begitu melelahkan namun lelah itu terbayar sudah setelah datangnya hari wisuda.

***

Begitulah manusia ketika impian satu terwujud tentu akan ada impian lain yang akan selalu menunggu, karena manusia itu berkembang dan tidak bisa diam kaku bagaikan patung. Janji itu teringat lagi setelah seminggu acara wisuda dikampus berlalu. Janji untuk berkomitmen menyatukan hati secara sah dan sesuai dengan syariat agama.

Pagi minggu itu, suasana cerah menghiasi langit dihiasi dengan suara klason-klason mungil mobil yang lalu lalang depan sebuah taman yang sering digunakan untuk beristirahat diatas rerumputan yang hijau tentu juga dihiasi dengan bunga-bunga yang harum. Mereka bertemu membicarakan janji saat semeseter 5 dahulunya.

“Indah, lupakah kau dengan janji kita dulu?”. Tanya Ferdian.

“tak bisa hilang dari ingatanku, kini aku bersedia menjadi Istrimu dan menjadi makmum disetiap sholatmu”. Jawab Indah.

“berkunjunglah ke Rumahku Ba’da Zhuhur, aku akan membelamu didepan ibu dan ayahku, ungkapkan janji itu kepada mereka”. Sambung Indah.

“Indah, aku siap memperjuangkan cinta kita dengan keberanian tanda aku benar-benar mencintaimu”. Ungkap Ferdian dengan penuh kepercayaan.

Obrolan singkat itu, penuh dengan makna. Begitulah sebuah perjuangan, siang itu juga sesuai dengan rencana mereka, Ferdian berkunjung kerumah Indah meminta restu dari orangtua Indah beharap cinta mereka didukung sepenuh hati.

Kedatangan Ferdian disambut baik oleh keluarga Indah, sikap santun ferdian dengan menyalami kedua orangtua Indah membuat suasana semakin hangat. Mereka pun berkenalan bahkan canda tawa pun menghiasi kala itu. Namun dihati Ferdian masih tersimpan kokoh pesan yang sulit untuk disampaikan. Namun ia berusaha menyampaikan demi cintanya, saat suasana hening ferdian merasa inilah waktu yang pas untuk mengungkapkan.

“ma’af pak, sebenarnya kedatangan saya berkunjung mempunyai maksud dan tujuan”. Ucap Ferdian dengan memulai pembicaraan yang mengarah ke pernikahan.

“owh ya nak Ferdian, kenapa? Ada yang bisa bapak dan Ibu bantu”. Sambut ayahnya Indah dengan nada yang lembut.

“sebenarnya… itu pak//&^@&%

“apa nak Ferdian? Ungkapkan saja”.

“saya sebenarnya mencintai anak bapak dan ingin menikahi anak bapak”. Singkat dan tepat kata-kata itu keluar dari mulut Ferdian.

Terlihat wajah kaget dari ayahnya Indah mendengar kata-kata yang begitu berani dari seorang Ferdian. Namun terlihat ayahnya Indah bersikap bijaksana.

“nak Ferdian, kamu masih terlalu muda untuk mengambil sikap. Bahagiakan orangtuamu terlebih dahulu. Cari pekerjaan yang layak dulu, perjalananmu masih panjang sebagai seorang laki-laki. Berbeda dengan perempuan yang hanya menunggu kedatangan seorang Imam yang sudah sanggup menghidupinya”. Ucap ayahnya Indah.

Indah yang duduk tidak jauh dari ayahnya merasa kaget dengan jawaban itu, ia merasa dihatinya ayahnya tidak menyetujui cinta mereka. Rasa itu makin terasa sebagai seorang anak.

Menit berlalu, kunjungan Ferdian pun usai dengan penuh kekecewaan namum perjuangan sebenarnya belum lah usai. Meski sekarang belum direstui yang terpenting cinta Indah takkan hilang karena itulah kunci untuk meneruskan perjuangan.

***

Malam itu, Indah dipanggil ayah dan ibunya duduk diruangan tamu. Tak biasanya.

“Nak, benar kamu mencintai pemuda tadi?”. Tanya ayahnya.

“Benar ayah”. Jawabnya singkat.

“nak, ayah dan ibu sudah tua. Harapan ayah dan ibumu hanya ingin melihat kamu bahagia dengan seorang laki-laki yang sanggup mensejahterakanmu menaiki darajatmu hanya itu harapan ayah, kamu dan ferdian itu seumuran, sekarang terasa bahagia namun suatu saat belum tentu bahagia”. Dengan mata yang berkaca-kaca ayahnya menyampaikan.

Terharu pula Indah melihat mata ayahnya yang telah tua itu, terbayang sudah perjuangan ayahnya saat bekerja banting tulang.

“nak, harus kamu tau. Ada seorang pemuda yang selalu menanyaimu saat kamu sibuk dalam perkuliahanmu. Pemuda itu gagah, dosen Muda dan lulusan magister Agama, InsyAllah besok ia akan berkunjung, jangan kecewakan kami yang menyangimu”. Sambung ayahnya.

Alangkah kagetnya Indah mendengar hal itu, rasa-rasa terjatuh dalam jurang yang begitu dalam. Tak pernah terfikir sebelumnya hal ini akan terjadi dalam perjuangan cintanya. Menangis ia dalam heningnya malam, resah gelisah pula hatinya mengingat tentang cinta dalam hatinya akan bertemu kerikil yang tajam.

***

Keesokan harinya benar pemuda itu berkunjung, tapi tidak sendiri namun bersama orangtuanya. Mereka berkumpul diRuangan tamu, tak lupa Indah pun ada disana. Selintas pemuda itu memang gagah, terlihat pula sholehnya maklum ia seorang magister Agama.

“Indah, ini nak Reyhan yang ayah ceritakan tadi malam, ia lebih tua empat tahun dari umurmu, insyallah bisa menjadi Imam yang baik dan kedatangan merekapun ingin memingangmu nak”. Ucap ayahnya.

Sesak dadanya bukannya ia tidak menyukai pilihan ayahnya, namun ada cinta dan janji yang sudah terlanjur ada dan harus diperjuangankan. Disisi lain ia ingat harapan yang ayahnya sampaikan dengan mata yang penuh harap, tak mungkin mendurhakai laki-laki yang paling ia cintai dan hormati. Entah lah….

Waktu Pun Berlalu…

Lama tak terdengar kabar, setelah pertemuan itu rasanya suasana datar-datar saja. Apa mungkin janji akan teringkari dan sumpah akan terlupakan. Perjuangan masih panjang dan berkerikil, Ferdian selalu menunggu kabar dari Indah yang sudah seminggu tidak bisa dihubungi. Perasaannya terasa gundah gulana ada yang berubah dari keadaan yang penuh dengan cinta.

Ia selalu membaca al-Qur’an usai mendirikan shalat, berharap hatinya akan tenang dan ada petunjuk yang akan datang. Namun yang namanya hati tak bisa dibohongi, ia tetap bergetar jika teringat senyuman yang manis itu. Impian untuk menikah muda selalu terselip rapi dibenaknya, namun tiada kabar berita dari sang kekasih.

“Indah, dimana tersimpan janjimu dulu?”.  Terucap kata dalam hatinya.

Cinta itu butuh perjuangan, impian butuh aksi nyata bukan khayalan yang berlarut-larut dalam waktu hingga hilang dimakan usia. Siang itu Ferdian bertekad mengunjungi rumah Indah untuk menanyakan perihal janji dulu dan menanyakan kenapa ia tak bisa dihubungi sudah satu minggu ini.

Laksana gemuruh rusuh riuk suasana alam kabut hitam berhambur-hambur, hati siapa yang tidak sakit. Belum sampai ia di depan rumah Indah, Ferdian melihat dari kejauhan Indah bersama kedua orangtuanya ditemani seorang pemuda yang iringi canda tawa, terlihat pula terparkir mobil yang cukup mewah di depan rumahnya. Suasana yang begitu akrab namun tak seakrab hatinya Ferdian, tak sopan rasanya jika ia menghampiri dan menggangu suasana syahdu itu.

Retak sudah hatinya yang keras itu, ini jawaban dari pertemuan itu dan inikah jawaban seminggu tiada kabar. Sudah termakankah ia dengan kemewahaan sudah lupa ia akan janji dan sumpah setianya. Siapa pemuda itu yang sanggup menghapus janji yang tertanam bertahun-tahun lamanya dan menghapus semua kenangan yang telah tergores.

Kecewa sudah hati Ferdian, termenung ia di jendela sambil pandangi pohon kelapa yang menari-nari itu seraya ia patahkan kartu Hp-nya pertanda ia akan melupakan semua kenangan manis itu, ia relakan janjinya yang pernah terucap dan pergi meninggalkan semua cinta yang hadir.

“terimakasih buatmu yang pernah singgah dihatiku meski kau yang pertama, ku ikhlaskan janjimu”. Ucap ferdian dalam hatinya.

Begitulah akhir kisah cinta yang tak bisa ditebak apalagi dipastikan, manusia hanya bercita-cita dan hasil akhir tidak ada yang mengetahuinya. Hanya ikhlas yang bisa terucap agar hidup selalu berjalan sesuai dengan roda yang telah ditetapkam.

Selesai

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − sixteen =