Kenangan Terindah Dalam Seragam Putih Abu-Abu

Kenangan Terindah Dalam Seragam Putih Abu-Abu

Tiada terasa laun sang waktu kian cepat bergulir bak anak panah melesat dari busurnya. Hari berganti minggu dan minggu pun berganti bulan. Bulan demi bulan pun silih berganti sehingga tidak terasa sampailah kita di penghujung tahun 2015 masehi. Tahun 2015 masehi yang akan segera berlalu dengan meninggalkan berjuta kenangan terindah yang mengesankan untuk menyongsong datangnya fajar tahun baru 2016 masehi. Semuanya kurangkum dalam kalaidoskop diary kehidupanku yang tidak terlupakan.

Di ambang sore ini sayup terdengar alunan merdu tembang kenangan yang diputar dari radio tetangga mengusik anganku menerawang jauh ke masa silam yang begitu indah kala masih dalam balutan seragam putih abu-abu. Tatkala suara merdu Obbie Mesakh melantunkan tembang Kisah-Kasih di Sekolah membangkitkan nostalgia masa lalu yang tidak akan pernah terlupakan di bangku SMA sepuluh tahun yang lalu.

Sang surya perlahan bangun dari peraduan menyapa penghuni alam dengan senyum manisnya, disambut oleh nyanyian merdu kicau burung seakan bertasbih memuji kebesaran-Nya. Walaupun alam pedesaan tempat kelahiranku masih diselimuti kabut pagi dan embun yang menetes membasahi dedaunan namunn tidak menyurutkan semangat dan langkah tegap anak sekolahan bergegas menuju sekolahnya menimba ilmu demi masa depannya.

Di ambang pagi itu, seperti biasa rutinitas kumulai dari bangun pagi, sholat, jogging, mandi dan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah.

“Ibu sudah buatkan nasi goreng kesukaanmu di meja makan, sarapan dulu ya nak.” Ujar ibu ketika aku siap berangkat ke sekolah.

“Iya bu, makasih banyak tapi Faisal buru-buru takut terlambat dan terjebak macet.” Jawabku seraya memakai sepatu.

Ibu lalu menghampiriku seraya berucap “ Tenanglah nak tidak baik terburu-buru dan menolak rezeki-Nya yang telah diberikan kepada kita. Sarapanlah dulu supaya kuat mengikuti pelajaran dan bisa mencerna pelajaran dengan baik.”

“Iya maafkan Faisal bu, Faisal akan menuruti nasehat ibu.” Kataku sambil menuju ke meja makan.

Denting jarum jam menunjukkan pukul 06.00 wita membuatku bergegas mengambil tas dan berlari menuju motor yang setia menemaniku menuju ke sekolahku. Di ujung lorong perempatan jalan kulihat seorang gadis cantik berjilbab berseragam SMP sedang menunggu mobil pete-pete. Aku pun segera berhenti dan menawarkan jasa kepada gadis yang masih tetangga lorong tempat tinggalku.

“Assalamu alaikum. Maaf adek lagi menunggu mobil pete-pete ya?” Tanyaku dengan sopan sambil mengukir senyum manis.

“Wa’alaikun salam. Iya kak, lagi menunggu mobil pete-pete” Jawabnya sambil tersenyum manis pula.

“Perkenalkan saya Faisal tinggal di lorong II dan sekolah di SMA Negeri 1 Sengkang. Maaf kalo boleh tahu adek namanya siapa dan dimana sekolah?” Ujarku sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan.

“Nama saya Anita tinggal di lorong III dan sekolah di SMP Negeri 1 Sengkang kak.” Katanya memperkenalkan diri.

“Wah.. Kebetulan sekolah kita bertetangga hanya jalanan kecil dan tembok sekolah yang memisahkan. Maaf kalau tidak keberatan ayo ikut sama kakak aja ya?” Ucapku menawarkan jasa.

“Tidak usah kak, nanti Anita tunggu mobil pete-pete aja kak.” Kata Anita menolak sambil tersipu malu.

“Ayolah kalau menunggu mobil nanti terlambat loh sampai di sekolah” Kataku dengan membujuk.

“Iya kak tapi tolong jangan ngebut di jalan ya kak takutnya Anita jatuh” Katanya sambil naik ke atas motor.

Sejak perkenalan pertama, aku dan Anita kemudian tukaran nomor HP pada pertemuan berikutnya serta kami pun janjian kalau mau berangkat atau pulang dari sekolah. Oleh karena setiap hari bertemu dan antar jemput Anita pulang pergi sekolah, diam-diam di lubuk hatiku yang paling dalam virus merah jambu menggerogoti kalbuku sehingga tumbuh bersemi bunga-bunga cinta kepada Anita sejak bertemu pada pandangan pertama.

Keakraban antara aku dan Anita membakar api cemburu Dicky yang merupakan teman sekolahku hanya berbeda kelas dengannya. Secara diam-diam ternyata eeh.. ternyata Dicky naksir juga sama Anita yang bisa kubaca dari tatap mata dan sikapnya setiap bertemu denganku dan Anita. Kecemburuan Dicky berlanjut hingga akhirnya melaporkan kepada pak Bahar ayahnya Anita mengenai kedekatanku dengan Anita dan selalu antar jemput Anita.

Lembayung senja merona di ambang sore menambah indah panorama Maha Karya-Nya. Sore itu sepulang dari kantornya pak Bahar memanggil Anita ke ruang santai keluarga.

“Anita, tolong kesini bapak mau bicara sesuatu yang sangat penting nak.” Ujar pak Bahar memanggil Anita.

“Iya pak, ada apa memanggil Anita?” Tanya Anita begitu keluar dari kamarnya.

“Duduklah dulu nak, bapak ingin bertanya kepadamu apa benar kamu setiap hari diantar jemput oleh Faisal tetangga lorong kita?” Selidik pak Bahar.

“Iya benar pak, tapi bapak tahu dari mana? Tanya balik Anita yang penasaran.

“Sudahlah bapak tahu semuanya dari Dicky yang menceritakan kepada bapak. Bapak hanya ingin menjagamu nak agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Bapak malu apa kata tetangga melihatmu berduaan naik motor sama yang bukan mahram yang mungkin berpikir bapak tidak mendidik kamu dengan baik sebagai kepala keluarga.” Ujar bapak dengan panjang lebar.

“Maafkan Anita pak tapi Anita hanya menghargai kebaikan hati kak Faisal apalagi kak Faisal itu kan anaknya pak Ustadz Mansyur jadi tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak apalagi menjerumuskan Anita ke lembah pergaulan bebas pak.” Jawab Anita membela diri.

“Iya bapak tahu, tapi bapak sayang banget Anita sehingga khawatir sama kamu nak. Mulai besok bapak akan sewa pak Nanang tukang ojek tetangga sebelah yang bapak percaya untuk mengantar jemput kamu ke sekolah.” Kata bapak Bahar lagi.

“Tapi pak…” Ujar Anita dengan nada sedih.

“Pokoknya itu keputusan bapak dan kamu harus menuruti kata-kata bapakmu ini.” Ucap pak Bahar dengan nada yang sedikit lebih tinggi.

“Benar apa kata bapakmu nak, itu semua demi kebaikanmu dan menjaga nama baik keluarga kita di mata tetangga nak” Ujar ibu yang tiba-tiba keluar dari dapur mendengar suara tinggi bapak.

“Iya bu, Anita mengerti dan maafkan Anita ya pak.” Kata Anita sembari pamit ke kamar untuk mengerjakan PR dari sekolahnya.

Alunan merdu adzan subuh dari mesjid yang memecah kesunyian di ambang fajar membangunkanku dari lelap mimpi indah. Aku pun bergegas bangun, shalat subuh, jogging, mandi dan sarapan pagi dengan nasi goreng kesukaanku seperti biasanya kemudian menjemput Anita berangkat ke sekolah.

Begitu tiba di ujung lorong rumah Anita, terlihat olehku sudah ada pak Nanang yang sangat kukenali menjemput Anita. Anita pun menceritakan pembicaraannya dengan bapaknya kemarin sore.

“Maaf ya kak Faisal, dengan sangat terpaksa Anita menuruti kata-kata bapak. Mulai hari ini dan seterusnya, kak Faisal tidak perlu repot-repot lagi antar jemput Anita sebab sudah ada pak Nanang.” Ujar Anita seraya naik motor meninggalkanku seorang diri di ujung lorong jalan itu.

Walaupun Anita tidak kuantar jemput lagi namunn komunikasi dengan Anita tetap berjalan dnegan lancar  melalui sms dan telepon serta masih sering bertemu di saat jam istirahat sebab sekolahku bertetangga dengan sekolahnya Anita sehingga sesekali makan bersama di kantin sekolah tanpa sepengetahuan Dicky dan bapaknya Anita.

Laun sang waktu begitu cepat berlalu dan hari demi hari pun terus bergulir hingga tidak terasa aku pun sudah lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Aku pun ingin melanjutkan pendidikanku di bangu kuliah demi masa depanku yang cerah dengan meninggalkan Anita bersama kisah-kasih di sekolah bersama Anita yang begitu indah dan sulit kulupakan. Sebelum berangkat ke kota Makassar melanjutkan kuliah di Universitas Hasanuddin Makassar, aku pun menemui Anita untuk berpamitan.

“Maaf ya adek Anita, kakak tidak bisa lagi menemani dan mencerahkan hari-harimu sebab kakak harus pergi meninggalkanmu menimba ilmu di kota Makassar dan kakak berharap adek Anita jaga diri baik-baik serta belajar yang lebih giat lagi semoga sukses dalam sekolahnya dan kita bisa bersua lagi nanti di bangku kuliah” Ucapku dengan nada sedih sebab akan berpisah dengan Anita.

“Iya kak Faisal, terima kasih banyak atas kebaikan kak Faisal kepada Anita selama ini dan mohon maaf jikalau Anita banyak salah dan menyusahkan kak Faisal. Kejarlah cita-cita dan impain kakak semoga kakak sukses serta tidak melupakan Anita ya kak Faisal.” Ucap Anita yang sedih juga tidak ada lagi yang memberinya semangat belajar.

“Iya sama-sama adek Anita, kakak pun meminta maaf atas segala khilaf dan kesalahan kakak selama ini kepada adek Anita dan kakak janji tidak akan melupakan Anita. Sesibuk apapun kakak akan selalu berusaha luangkan waktu buat sms dan telepan adek Anita.” Kataku menutup pembicaraan sambil melangkah dengan lambaian tangan terakhir kepada Anita.

Mobil bus yang akan membawaku mengejar impian dan cita-citaku sudah menjemputku berangkat ke kota Makassar. Aku pun berpamitan sambil mencium tangan ayah dan ibu kemudian menaiki mobil bus sembari memasang headset mendengarkan alunan merdu suara Obbie Messakh melantunkan lagu Kisah-Kasih di Sekolah sambil mengenang kembali nostalgia SMA dan kisah-kasih di sekolah yang begitu indah dan akan kukenang selalu sepanjang hidupku.

Kumandang adzan Maghrib sayup terdengar dari mesjid tidak jauh dari rumah membuyarkan lamunanku. Aku pun segera bangkit menuju ke kamar mandi mengambil air wudhu dan menunaikan kewajiban sholat Maghrib seraya berdo’a semoga Anita yang jauh di mata namun dekat selalu di hati sehat wal’afiat dalam naungan rahmat dan lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin

NB: Ditulis oleh: Muhammad GusriPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Standing In The Dark, Halaman 7 s.d 13 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − two =