Kehilangan Ponsel? Don’t Worry!

Kehilangan Ponsel? Don’t Worry!

Mata Ais tak lepas dari benda kotak gepeng di tangannya. Entah apa yang sedari tadi menjadi fokusnya. Mimiknya dari melas, senyum-senyum geli, marah, sampai ketawa sendiri. Ibunya bahkan harus memanggil beberapa kali untuk menyadarkan Ais.

Bibirnya mengerucut begitu ibu memintanya meletakkan benda itu. Pun selama memotong wortel, menggoreng tempe, sampai mencuci piring, mulutnya tak kunjung normal. Sedang matanya kerap melirik ke ibunya. Benda kecil berlayar datar itu masih stay di kantung daster ibu.

BACA JUGA CERPEN: Mimpi Sang Gadis

“Ibuku sayang… sekarang pekerjaanku sudah selesai. Apa ibu akan terus menyita ponselku itu? ” Tanya Ais tak sabar begitu ia meletakkan peralatan dapur terakhir yang ia pegang.

BACA JUGA CERPEN: Perkenalan Berujung Penyesalan

“Ini. Tapi jangan lupa mandikan adikmu!”

“Ah, Ibu…. “

Terpaksa Ais menurut saja, daripada benda kotak gepeng itu menjadi sasaran lagi.

“Ais!” Tegur ibunya pelan setelah dehaman ayahnya beberapa kali tak ia gubris.

Mungkin ayahnya sudah bosan, mengingatkan putri sulungnya itu untuk tidak memainkan ponselnya saat makan.

“Ais ke kamar dulu ya, Bu, Ayah!”

“Tidak ada, cuci piring dulu! “

“Ya, Ayah… Ais kan harus belajar.”

“Sudah, pergi sana!”

“Ah… Ibuku memang ibu terbaik di dunia.”

“Ibu …” Ayah mencoba memprotes.

“Sudahlah, Ayah! Ais sudah banyak membantu hari ini.”

BACA JUGA CERPEN: Nafas Untuk Negeriku

Ais segera menyelipkan benda yang menjadi pusat perhatiannya di jepitan halaman buku begitu mendengar suara ibu sudah berada di dalam kamarnya.

“A… ada apa, Bu? Ada yang bisa Ais bantu, ibuku sayang?” Ais segera menutupi kepanikannya.

“Tidak, apa kamu butuh camilan kecil? Ibu akan ambilkan kacang atau keripik kentang?”

“Oh, tidak usah, Bu. Mm… camilan-camilan itu akan membuatku tidak fokus.”

“Tumben?”

“Ya …, kalau mau Ais akan ambil sendiri nanti.”

“Ibu tidak keluar? ” Tanya Ais setelah beberapa detik ibunya masih berdiri di dalam kamarnya.

“Baiklah.”

Ais menghembuskan nafas lega, setelah menutup pintu dan memastikan kalau ibu atau siapapun tidak ada di sekeliling kamarnya.

Ayah dan ibu dibuat heran dengan ekspresi suntuk Ais pagi itu. Ditambah lagi teriakan kecil setelah beberapa detik mengutak-atik ponselnya di meja makan.

“Harus berapakali Ayah bilang, jangan mainkan ponselmu saat makan.”

“Tapi ayah, makannya saja belum dimulai.”

“Memangnya ada apa, sampai Ais berteriak seperti itu?”

“Lihatlah, Bu! Baru tadi pagi follower di instagram berkurang satu. Dan sekarang… twitter-ku kehilangan empat pengikut sekaligus. Empat Bu, empat… dan itu banyak!”

Ibu menepuk jidatnya, sedang ayah hanya menggelengkan kepalanya.

“Ibu kira, kau resah karena ibu tidak membangunkanmu untuk sholat subuh.”

“Hem… ternyata perjuanganku mengedit foto semalam tidak membuahkan hasil.” Ucap Ais lemas.

BACA JUGA CERPEN: Sesal di Ujung Senja

“Semalam?”

“Jadi? “

“Semalam ….” Ucap ayah dan ibu bersahutan.

“Tentunya setelah belajarlah.” Jelas Ais setelah memandangi wajah ayah dan ibunya yang penuh tanda tanya bergantian.

“Aisyah Idris.” Pak Mail manurunkan sedikit kacamatanya. Menatap penuh ancaman ke arah Ais. “Mana buku tugas kamu?”

“Eh… tugasnya sudah saya kerjakan kok, Pak.”

“Kuping itu dipasang! Yang Bapak tanyakan kemana buku tugas kamu?”

“Anu, Pak… itu… bukunya ketinggalan. Tapi sudah dikerjakan kok, Pak.”

“Halah, Alasan. Paling-paling kamu sibuk upload foto ke instagram.”

“Kok Bapak tau sih?”

“Tuh kan?”

“Huuu…. ” Sorak teman-teman sekelasnya.

“Ada apa?” Tanya ayah yang merasa heran. Kenapa putrinya ini masih tetap duduk di kursinya setelah makan malam? Bahkan setelah ditanya mimiknya semakin terlihat mencurigakan. Yang ditanya hanya diam. Sedang matanya terus saja berkelana. Siapapun dapat membaca wajahnya dengan jelas.

BACA JUGA CERPENPahitnya Menatap Jodoh

“Kenapa? Follower berkurang lagi?” Sahut ibu setelah selesai dengan urusan mencuci piring.

Ais menyodorkan buku setebal satu ruas jari balita ke arah ayahnya. Buku bersampul merah marun itu semakin membuat ayah dan ibu bingung. Dibukanya perlahan buku itu. Pelan tapi pasti Ais membuka halaman yang harus dibaca dan ditandatangani orangtuanya.

Dan benar saja dugaannya, bukan tandatangan yang ia dapat. Amukan ayahnya tak dapat lagi ditahan. Meski hampir tak ada nada tinggi yang dikeluarkan ayah, namun itu sudah sangat membuat Ais takut. Sebenarnya ia bisa saja menirukan tandatangan ayahnya. Namun Ais masih tahu batasan. Ia tidak bisa bertingkah lebih jauh lagi.

BACA JUGA CERPEN: Nenek Misterius

“Mulai besok kamu tidak boleh pegang handphone. Tidak juga sekarang!” Tandas ayah dengan inti kalimat yang sudah diduga Ais. Namun masih saja membuatnya lemas.

Di halaman buku tugas yang seharusnya dikoreksi Pak Mail tadi pagi, malah diisi dengan kalimat-kalimat peringatan akibat sudah kesekiankalinya Ais tak mengerjakan pekerjaan rumah. Lucunya, Pak Mail meminta orangtua Ais untuk membatasi anaknya dalam mengupload foto di media sosial dan berhenti stalking yang tidak berguna. Bagaimana ayah tidak marah besar, kalau gurunya saja sampai tahu anaknya ini doyan sekali main ponsel.

Ais membolak-balik bukunya di ruang tengah. Tak ada satupun materi yang masuk ke otaknya. Pikirannya masih tidak fokus untuk belajar meski ponsel tak lagi di tangannya. Bahkan tak terlihat matanya. Ditambah lagi tingkah adiknya yang membuat ia jengah. Merengek-rengek ke ibu meminta sesuatu. Namun, dengan alasan apapun ia tak diizinkan untuk belajar di kamar.

Kali ini gantian tubuhnya yang dibolak-balik. Kasur empuk itu nampak tak nyaman lagi. Keresahannya tak dapat disembunyikan. Bantal guling ia pukul,  udara ia tendang. Mungkin ketergantungannya dengan benda kotak gepeng itu sudah mencapai stadium akut.

BACA JUGA CERPEN: Pelabuhan Ulee Lheue

“Ibu… kenapa ponselku dipegang Abil?” Teriak Ais begitu menemukan Abil tengah asik memainkan ponselnya.

“Assalamualaikum. Ini kok malah teriak-teriak?” Tegur ibu.

“Wa’alaikumsalam. Habisnya kenapa ponselku dikasih Abil?”

“Ibu nggak kasih. Dia ambil sendiri.”

“Kenapa dibiarin?”

“Sudahlah, Is! Jangan pelit-pelit ah! Sama adik sendiri ini.”

“Ibu, bukan masalah pelit atau tidak. Bukan masalah adik sendiri atau bukan. Tapi, kalau nanti ada problem sama ponsel Ais, pasti yang disalahin Ais.” Gerutu Ais.

“ABIIIL…! Kamu apakan ponsel Kakak?” Pekik Ais setelah berhasil merebut ponselnya dari tangan Si Bungsu. Lagaknya sudah seperti kebakaran jenggot. Kedua tangannya menggenggam kuat benda kotak gepeng itu, kakinya jingkrak-jingkrak tidak keruan, dahinya berkerut, alisnya sampai bertaut, hidungnya kembang kempis, dan mulutnya sampai tidak berbentuk. Berbagai mantra pun ia komat-kamitkan sampai ibunya muncul dengan panik.

“Ais! Apa-apaan kamu?” Sentak ibu begitu mendengar Ais berbicara kasar pada adiknya.

“Habis aplikasinya di hapus semua. Malah diganti games tidak penting.”

“Jaga bicara kamu! Abil ini masih terlalu kecil.”

“Kenapa tadi Abil dibiarkan saja? Kalau sudah begini Ais yang disalahkan.”

“Ibu bilang jaga bicara kamu. Dan sekarang kamu berani bicara seperti itu pada Ibu?”

BACA JUGA CERPEN: Gagal LDR

“Iya. Maaf, Bu.”

Tangisan Abil membuat panik seisi rumah. Ayah yang baru datang pun segera membuang tasnya dan menghampiri Abil yang tengkurap di halaman dengan tangis kencangnya. Ayah semakin emosi mendapati Ais yang duduk di kursi teras hanya diam saja dan asik dengan kuku-kukunya.

“Dimana mata kamu, telinga, kaki dan tangan kamu, sampai-sampai Abil jatuh kamu tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Dimana hati kamu, Is? Anak menjerit seperti itu kamu biarkan saja?” Cerca ayah setelah memberikan Abil pada ibu.

“Kamu masih marah sama Abil?” Sahut ibu.

“Marah? Marah kenapa, Bu?” Tanya ayah yang tidak tahu apa-apa.

Ibu menjelaskan apa yang terjadi tadi siang. Mendengar itu ayah semakin geram dan semakin menguatkan keputusannya adalah benar untuk tidak mengizinkan Ais memegang ponsel.

“Tapi, Ayah…. Tidak bisa seperti itu. Ais juga butuh ponsel.” Ais membela diri. “Itu adalah privasi Ais. Jadi wajar saja jika Ais marah.” Tambahnya.

“Tapi kamu tidak harus sampai berkata kasar pada adikmu yang baru empat tahun. Apalagi sampai tidak mempedulikannya seperti tadi. Itu tidak baik, Ais. Apa yang kamu lakukan itu sudah keterlaluan.” Ucap ibu penuh prihatin.

“Ponsel benar-benar telah mengubah kepribadianmu.”

“Ayah jangan berpikir berlebihan seperti itu. Ais masih Ais yang sama. Tidak ada yang berubah.”

“Itu menurut kamu, Is. Bahkan kamu berani membantah nasihat Ibu tadi. Kamu semakin sering mengakhirkan waktu sholat, bahkan tidak sholat kalau tidak diingatkan. Kamu tidak pernah belajar, mengerjakan tugas. Kamu masih bisa bilang, kamu tidak berubah?” Semakin jelas kepedihan dalam kata-kata ibu.

BACA JUGA CERPEN: Kenangan Terindah Dalam Seragam Putih Abu-Abu

“Jadi, apa ponsel lebih penting dari itu semua bagimu, Nak?” Tohok ayah akhirnya.

“Ayah mengizinkanmu menggunakan ponsel, tapi jika kamu bisa mengendalikan ponsel itu. Dan tidak jika ponsel akan menghilangkan jati diri kamu, keimanan kamu, dan menghilangkan kamu dari kami keluargamu, Is. Dewasalah, Nak! Tak apa jika kamu kehilangan ponsel dan tetek-bengeknya saat ini. Ayah rasa itu akan lebih baik. Pada saatnya nanti Ayah akan memberikan lagi ponsel ini. Bahkan jika perlu akan Ayah ganti yang lebih bagus. Sembari itu kamu renungkan kesalahan kamu!”

NB: Ditulis oleh: Diah Wulandari  Penerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Impian tak Tersampaikan, Halaman 163 s.d 169 Post Seizin Penerbit.

BACA JUGA ARTIKEL:
1. 10 Fakta tentang Honorer (Nomor 8 Nyesek Bingit Guys)
2. 3 Kunci Sukses & Bahagia Ala Haji Bolot
3. 5 Langkah Mendirikan Usaha Penerbit Mandiri (Self Publishing)
4. Jenis Rempah Khas Kerinci ini menjadi incaran untuk Masakan Berskala Besar
5. Penerbit Landasan Ilmu
6. Manusia Galau, apa itu KAMU?
7. KUNCI SUKSES SEORANG ANAK
8. Cara Layout buku dengan mudah dan cepat 100% bisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + seventeen =