Istiqomah di Jalannya

Terang jalan itu, kedap kedip dalam langkah yang penuh sesak merajai tapak kehidupan berduri yang tiada lagi tempat tuk berpijak. Senang tidak senang harus terluka telapak kaki terinjak duri yang begitu tajam, sanggupkah atau harus terhenti dalam lumuran darah penuh dosa. Badai terlalu tinggi sedangkan dayung terlalu kecil tuk menganyuh Tiada lagi yang harus terfikir selain harus istiqomah meski kan terasa sakit bahkan bertambah sakit.

Tahun ini sungguh sangat berbeda, Marcell begitu orang memanggilnya. Ia buang namanya yang membuat ia terjerumus tanpa mengenal sang pencipta alam semesta. Setelah 28 tahun hidup menjadi seorang non Muslim dan memuaskan segala perihal duniawi, bermain dengan minuman keras, obat-obat terlarang bahkan bermain dengan kupu-kupu malam. Tepat 1 bulan sebelum bulan ramadhan hidayah datang padanya. Kini Marcell berganti menjadi Khalid, akankan ia bisa bertahan dengan nama barunya.

Sebagai seorang yang baru masuk Islam, setiap sore Khalid mengunjungi Masjid An-Nur dan membawa al-Qur’an untuk belajar bersama ustadz Daud untuk mendalami Islam.

“ustadz, bolehkah saya menyembunyikan Islamku kepada keluargaku?”. Tanyanya pada ustadz Daud.

“sementara waktu tidak apa-apa, namun secara berlahan bawa keluargamu menuju jalan yang benar agar mereka pun bisa bersama-sama menggapai ampunan Allah”. Jawab Ustadz Daud.

Memang menjadi beban baginya memasuki keyakinan yang baru, namun ini adalah rintangan dan tantangan untuk selalu menjaga hidayah yang sudah dianugrahkan kepadanya.

***

Sabtu Malam….

Marcelll, cellll…. terdengar teriakan dari luar rumah.

Ia tau itu adalah teriakan teman-teman sejawatnya untuk mengajaknya pergi nongkrong di cafe-cafe tentu dengan pesta al-kohol. Namun hatinya telah mati untuk bisa bermain dengan alKohol lagi.

“ma.. Bilang saja aku tidak ada di Rumah ya ma”. Pesannya pada Mamanya.

“Lho, tumben. Biasanya kamu tidak bisa diam di Rumah”. Ucap sang Mama.

Terlalu berat baginya untuk jujur, belum waktunya. Ia takut orangtuanya belum bisa menerima karena kedua orangtuanya merupakan penganut agama kristen yang sangat ta’at, bahkan ayahnya adalah seorang pastor pengurus gereja Bethel tidak jauh dari rumahnya.

***

Minggu Pagi….

Seperti biasa hari minggu adalah hari sembahyang  di Gereja. Sejak kecil ia selalu bersama kedua orangtuanya melakukan sembahyang di Gereja. Satu bulan ini Khalid tidak pernah lagi mengunjungi gereja, ia selalu mencari alasan untuk menolak ajakan orangtuanya.

“Cell, ayo siap-siap kiat menuju gereja”. Ucap mamanya.

“ma’af ma, aku kurang enak badan”. Ucapnya singkat. Mendengar jawaban itu merahlah muka ayahnya.

“Cell, sudah satu bulan ini bapak lihat kau tak pernah kunjungi gereja lagi. Selalu ada alasan, bersusah payah kami ajarkan nilai-nilai agama kristus kepadamu kenapa semakin besar kau semakin durhaka.”. ucap ayahnya dengan nada yang begitu marah.

“ayoklah ma, kita tinggalkan saja anak durhaka ini”. Lanjut ayahnya seraya berangkat menuju gereja.

Khalid hanya bisa terdiam sambil menahan tangis, ia tau ayahnya kecewa namun keyakinan dihatinya bahwa Islam adalah Agama yang ia yakini kebenarannya. Hanya bisa sabar, biarlah waktu yang akan menjawab. Tidak mungkin selamanya ia akan sembunyikan Islam dihatinya. Ia sadar ia pasti akan dibenci, disudutkan bahkan tidak dianggap.

***

Ramadhan Pun Tiba….

Dibulan Ramadhan Khalid yang berada dilingkungan kristen tentu akan terlihat banyak perubahan, ia akan menahan lapar dan haus memulai berpuasa menjalankan syariat Islam. Bulan Ramadhan ini akan sulit ia sembunyikan Islamnya kepada orangtuanya.  Tak lupa setiap sore ia selalu meminta saran dari Ustadz Daud, berharap ada jalan yang akan ia tempuh untuk melunakkan hati orangtuanya.

Sudah hari ketujuh dibulan Ramadhan, seperti biasa dirumahnya selalu melakukan makan pagi bersam-sama.

“Ma, Bapak perhatikan sudah satu minggu ini Marcell tidak pernah makan pagi dan siang bersama kita, apa ada yang ia sembunyikan?. Bincang ia dengan istrinya.

“Mama gak tau Pa, katanya ia lagi ada program Diet”.

“Bapak Jadi curiga, karena ini kan bulan Ramadhan, puasanya bagi saudara kita yang muslim. Kalau lah ia masuk Islam pasti bapak akan sedih, percuma bapak menjadi Khatib di Gereja, percuma kita sekolahkan di sekolah agama kristen”. Curhat bapaknya.

“Pa, tidak usah terlalu berfikiran jauh. Marcell tidak mungkin seperti itu, kita telah mendidiknya dari kecil dilingkungan yang taat beragama di Gereja. Jika tidak percaya besok kita undang pengurus gereja dan guru agama kristennya untuk makan siang bersama dirumah kita, pasti marcell akan ikut makan, karena segan dengan guru-gurunya”.

“oke ma, besok siapkan makanan yang enak. Jangan lupa dikasih tau Marcell agar ia juga siap-siap.

***

Acara yang direncanakan pun tiba…

Terlihat banyak makanan di Meja makan, tertata rapi. Beberapa pengurus gereja sudah ada yang Datang, beberapa guru gereja pun sudah mulai bersiap-siap menyantap makanan.

“Puji tuhan Pak Pastor, tumben ini buat acara mendadak, makanannya kelihatan lezat-lezat lagi?”. Tanya salah seorang guru kepada bapaknya Marcell.

“tidak, hanya untuk menjalin persahabatan saja. Sudah lama toh kita tidak makan bersama?’. Jawabnya. “Ma, Marcell udah di kasih tau?”……

“owh iya, mama sengaja tidak kasih tau, supaya surprise kedatangan guru-guru gerejannya”. Jawab mamanya sambil tersenyum. “mama panggilin dulu ya Marcell di Kamarnya.

Mamanya pun berjalan melangkah menuju kamarnya Marcell, sejenak didepan pintu terdengar suara-suara lantunan ayat suci al-Quran, suaranya begitu kecil sulit untuk didengar. Benar saja Marcell/Khalid sedang mengaji.

Tok tok tok…

“Marcell, ayok keluar… kita kedatangan tamu guru-guru gerejamu”. Ucap mamanya dari luar kamar.

Marcell/Khalid yang tidak tahu rencana kedua orangtuanya, lantas langsung saja menuju ruang tamu. Terlihatlah beberapa guru dan pengurus gereja yang dihadapannya tersaji makanan-makanan besar yang siap untuk dilahap. Terhela Nafasnya “ya Allah, aku sedang belajar puasa, sanggupkah aku lewati pandangan ini, kuatkan aku ya Allah”. Ucapnya dalam hati.

Ia pun bersalaman dengan guru-gurunya, mencoba bersikap tenang sedangkan hatinya penuh dengan goncangan.

“Marcell, sudah lama tidak terlihat di Gereja, ayo duduk kita makan bersama”. Ucap salah satu pengurus Gereja sambil tersenyum.

Marcell hanya mengangguk-ngangguk sambil tersenyum sipu.

“ayo-ayo kita mulai  makannya”. Tawar ayahnya kepada para tamu.

Lantas saja mereka memulai makan dan minum, sedangkan Marcell hanya terdiam tanpa sepatah kata, termenung di hadapan makanan-makanan itu. Tidak mungkin ia cicipi makanan itu sedangkan ia sedang berpuasa…

“Cell, kenapa tidak makan?”… tanya salah seorang guru.

“ia cell ayok dimakan makanannya, gak sopan kalau sendiri saja tidak makan…..

Pertanyaan pertanyaan itu membuat hatinya semakin sesak, namun Allah menguatkannya.

“Sudah masuk bulan kedua saya menjadi Muslim”. Ucap Marcell spontan, lantas membuat semua orang terkejut bukan main.

Terhenti orang yang sedang menikmati makanan itu, semuanya kaget dan bahkan tidak percaya.

“Apaaaa? Durhaka Kamu nak”.  Sambil menangis ayahnya, menetes air matanya, spontan ayahnya terjatuh sambil memegang dadanya. Tak sanggup mendengarkan itu. Suasana makan bersama menjadi kacau. Ayahnya yang sudah tua itu diangkat bersama-sama menuju mobil dan dilarikan ke Rumah sakit.

“Durhaka kamu Marcell, bapakmu seorang Pastor pemberi nasihat agama pada jemaat di Gereja. Sedangkan anak kamu anaknya durhaka pada ajarannya. Durhakaaa,, pergi kamu, mama tidak ingin melihat wajahmu lagi”. Ucap mamanya dengan nada tinggi.

Ini resiko menjadi Islam, menetes pula airmata Marcell/Khalid. Semua orang marah dan benci padanya. Ketika semua orang menuju mobil, ia hanya tertunduk dan terlihat tetesan-tetesan airmatanya yang berjatuhan. “aku sayang kamu pa, ma… aku sayang kalian”…

Anak mana yang tidak sedih melihat ayahnya terjatuh sambil meneteskan airmata penuh benci dan kecewa, anak mana pula yang tidak sedih saat ibunya berkata dengan nada tinggi marah dengan penuh benci dan kecewa.

Dari belakang ia ikut menuju rumah sakit melihat keadaan ayahnya… (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =