Gagal LDR

Gagal LDR

“Mau lanjutin kuliah kemana Ta?”

“Pengennya ke STAN, tapi gak yakin sih, kamu mau lanjut kemana?”

“Pengen UNPAD, semoga kita sukses ya”

“Amin”

Begitulah kurang lebih percakapan Nita dengan Sandra teman sebangkunya di kelas. Nita dan semua teman – temannya baru saja melewati fase terberat sepanjang perjalan sekolah yaitu UN yang apalagi ditahun ini nilai mereka akan diberikan predikat A B C D, dimana hanya peringkat A dan B yang bisa masuk PTN sementara predikat C masuk PTS dan predikat D tidak dapat melanjutkan jenjang pendidikan alias ikut ujiian ulang, itusih memang masih hoax tapi cukup membuat Nita dan seluruh siswa kelas XII tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam dari sebelum UN pas UN dan selesai UN.

Tak terkecuali dengan dua orang pintar disekolah itu, Fajar dan Dewo. Fajar jelas saja dia adalah juara umum bertahan disekolahnya. Dewo? Dewo itu bukan orang asing bagi Nita, Dewo dan Nita sudah berpacaran sejak tahun 2013 dan mereka berada di satu kelas yang sama dan itu jurusan IPA. Nita jelas tau betul sifat pacarnya itu, yang tidak pernah akan mencotek kecuali pelajaran hafalan dan itupun terpaksa. Dewo memang pintar terbukti dia selalu menjadi peringkat satu dikelas, dan Nita hanya mampu bertahan diposisi peringkat 2. Begitu terus sampai mereka akan segera lulus dari sekolahnya.

“Heh lek, beneran fix mau ke STAN?” tiba – tiba Dewo datang menghampiri sambil menggebrak meja

“Ih, ngagetin aja. Iya jadi, doain keterima ya, bentar lagi testnya” jawab Nita

“Uuuuh, ngapain jadi? Kita LDRan deh, bisa cari pacar baru ih aku” balas  Dewo dengan muka meledek

“Ah apaan sih, bukannya dukung cita – cita aku malah ngeledek gitu” jawab Nita dengan nada agak kesal

“Cup cup cup sayang, iya lah. Selamat LDRan ya kita. Hahaha”

“Biarin, kan udah bosen 2 tahun bareng – bareng terus” Nita balas meledek

Dewo dan Nita memang tidak pernah jauh selama dua tahun belakangan ini, bukan hanya mereka satu kelas tapi mereka pun ada di satu ekstrakulikuler yang sama, kebersamaan itu tentu tidak membuat bosan, melainkan membuat keduanya semakin sayang dan tidak ingin berada terlalu jauh dalam waktu yang lama.

Long distance relationship alias LDR tentu saja membuat keduanya resah, tapi apa boleh buat Dewo dan Nita memiliki selera yang beda soal cita – cita. Dewo sangat ingin mengambil jurusan tekhnik terlebih lagi tekhnik sipil di Polban. Sementara Nita lebih senang dengan dunia bisnis sebenarnya, tapi karena jurusannya IPA dia lebih ingin melanjutkan pendidikan ke STAN.

Jakarta dan Bandung memang tidak sejauh Purwakarta dan Medan kan yang beda pulau, tapi untuk mahasiswa yang harus berhemat dan mendahulukan kuliahnya, tentu saja sangat sulit untuk bertemu sesering mungkin. Alasan inilah yang membuat Dewo lagi – lagi menanyakan apakah Nita serius ingin kuliah di STAN. Terlebih lagi STAN sangat penuh jadwalnya, maklum sekolah kedinasan. Tapi Nita tetap kukuh dengan pendiriannya. Walaupun dirinya sendiri semakin tidak yakin dengan dirinya, dia telah memasukan formulir pendaftaran ke kampus lain, takut – takut dia gagal di STAN. Tentu saja jurusan Manajemen Bisnis yang Nita ambil, karena Nita percaya kalau bakat dia yang sebenarnya ada dijurusan bisnis sesuai dengan hobi dan cita – citanya yang lain.

***

Beberapa minggu yang lalu Nita telah selesai mengikuti ujian tertulis STAN. Dan ternyata hasilnya amat sangat buruk. Tak ada namanya di daftar penerimaan mahasiswa baru STAN. Hancur sudah pasti, tapi Dewo tetap ada disisinya selama Nita terpuruk.

“Udah, mungkin jalan kamu bukan disana Nita. Aku tau Manajemen Bisnis itu yang paling cocok sama kamu” begitu Dewo coba menghibur Nita

“Hiks hiks hiks…” Nita tetap menangis meratapi nasibnya saat itu

“Sekarang kita ke BK aja yu, mastiin pendaftaran kamu yang kemarin kan katanya hari ini pengumumannya kan? Sekalian mau ngecek pendaftaran aku” Dewo beranjak pergi sambil menggandeng tangan Nita. Nita mengikuti sambil terus menahan tangis dan menghapus sisa air mata yang masih mengalir dipipinya yang tirus itu.

Nita memilih jalur PMDK di Politeknik Pos Indonesia di Bandung. Setidaknya kini Dewo sedikit lega karena tau Nita dan ia akan ada di satu kota yang sama. Walahpun merekapun belum tau seberapa jauh jarak mereka nanti di Bandung.

“Bu, gimana pemdaftaran Nita yang kemarin?” tanya Dewo kepada guru BK

“Oh iya, ini hasilnya Nita. Kalau diterima langsung segera datang ke Kampusnya ya buat registrasi ulang” begitu jelas guru BK itu

Tampak Nita melontarkan senyum ke arah Dewo sesaat setelah ia membaca isi dari amplop yang tadi, dan ternyata Nita diterima menjadi salah satu mahasiswa baru Politeknik Pos Indonesia.

“Alhamdulilah bu, Nita keterima” begitu jelas Nita dengan wajah yang mulai sumringah walaupun muka merah dan mata sembab sisa tangis yang tadi masih nampak jelas diwajahnya.

“Alhamdulilah, udah jangan nangis lagi” begitupun guru BK itu ikut menghibur Nita

“Oh iya Dewo jadi dan tetap mau masuk Polban?”

“Iya bu jadi, doain aja ya bu. Hehe” begitu jawaban Dewo

Tanpa disangka – sangka guru BK itu mengeluarkan kalimat yang sontak membuat Nita dan Dewo sangat terkejut dan saling berpandangan dengan heran

“Duh kalian tuh bener – bener gak mau jauh ya, sampai – sampai kuliah aja deketan gitu”

“HAH????” jawab Nita dan Dewo kompak

“Loh masa sih bu deket? Kan alamatnya aja beda bu. Kita malah gatau apa – apa bu” jawab Nita mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya

“Iya, memang beda kelurahan tapi sama – sama diujung, jadi kaya diperbatasan dan kampus kalian itu masih di satu jalan yang sama. Kalaupun jalan kaki lima menit juga sampai. Mungkin istirahat makan siang kalian bisa bareng – bareng kalau jadwalnya sama” Bu guru BK menjelaskan keadaan yang sebenarnya dengan sangat jelas pada Nita dan Dewo.

Setelah mendengar semua penjelasan itu, Nita dan Dewo segera meninggalkan ruangan BK dan kembali menuju ke kelas. Perasaan senang dan sangat senang yang kini mereka rasakan. Bayang – bayang LDR itu kini jauh dari keduanya, jika rata – rata banyak pasangan yang harus menjalani LDR karena harus meneruskan pendidikan di kota yang berbeda, lain halnya dengan Nita dan Dewo yang tanpa mereka sadari ternyata mereka kuliah di dua kampus ysng terpaut jarak sangat sedikit. LDR yang membuat mereka takut di akhir – akhir masa SMA ternyata berubah dengan singkat dan menjadi kebahagiaan yang luar biasa di tahun 2015 ini, karena ternyata mereka bisa bertemu setiap saat asalkan jadwal mereka tidak bentrok.

Kini Nita dan Dewo sudah menjalani kuliah hampir satu semester. Dunia perkuliahan tidak ada yang berubah sangat drastis dengan hubungan mereka, karena mereka masih sering bersama – sama terkhusus untuk pulang ke Purwakarta. Hanya saja kini mereka jauh dari keluarga, sehingga Nita dan Dewo menjadi saling menjaga sebagai satu – satunya orang terdekat yang mereka punya di Kota Bandung yang bukan Kota mereka tapi kini menjadi bagian dari mereka.

***

NB: Ditulis oleh: Anita Puspitasari WidiastutiPenerbit: CV. Landasan Ilmu, Tahun 2016 dengan Judul Buku: Standing In The Dark, Halaman 14 s.d 18 Post Seizin Penerbit.

Beri Penilaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − eleven =