Dan Ternyata

“ibuuuuu, ibu dimana?”….

Teriakan Zian terdengar amat keras, bolak balik ia mencari ibunya di pasar pada siang itu, kesana kemari berjalan dengan langkah yang mulai lelah. Wajahnya terlihat berminyak terkena sinar mentari pada siang itu, tangannya pun mulai letih membawa dua buah kelapa yang baru saja ia beli untuk memasak gulai nantinya.

Suasana pasar yang teramat padat membuat orang berdempat-dempetan, pantas pasar tersebut dinamai dengan “Pasar Senggol”, jika tidak berhati-hati maka akan banyak sekali anak yang hilang mencari ibunya yang terpisah saat berjalan dipasar tersebut.

“Ondeh oi,,, dimana ibu, ramai sekali pasar hari ini”. Ucap Zian.

Ia terduduk disebuah toko sepatu “Angkasa”[1] sekedar untuk beristirahat karena letih mencari sang ibu, wajahnya kini telah terpenuhi keringat ditambah lagi dengan debu jalanan dipinggir jalan yang terkipas angin. Ia sandarkan kepalanya ketangannya pertanda kegelisahan yang menghantuinya.

Ia teringat sekali pesan sang ibu sebelum berangkat ke Pasar dulunya, kata ibunya jika nanti kehilangan ibu di Pasar, jangan lupa Zian tunggu ibu di Toko Sepatu Angkasa, nanti ibu akan datang kesana menjemput Zian.

Pesan ibunya itu selalu ia ingat sampai saat ini, meski ia yakin akan datang ibunya namun baginya menunggu tetap suatu perasaan yang sangat tidak enak untuk dinikmati.

Melihat kondisi Zian yang mengkhawatirkan, sang pemilik toko pun menghampirinya sekedar untuk memberi sebuah bantuan.

“Nak Zian, pulang lah dulu. Biar bapak yang ngantar, jika ibumu telah datang nantinya bapak bilang Zian telah pulang ke Rumah”. Tawar sang Bapak pemilik Toko itu, ia sangat mengenali Zian yang acap kali singgah ke tokonya itu.

“tidak pak, aku harus menunggu disini sampai ibuku benar-benar datang”. Jawab Zian singkat.

Mendengar ucapan Zian, tak terasa menetes air mata sang Bapak itu, “nak, betapa tulus kamu mencintai ibumu”. Ucapnya dalam hati.

Hari semakin Sore, Zian masih saja menunggu tanpa bosan, kesetiannya telah teruji oleh waktu. Seberapa lama pun ia akan menunggu tetap ia kuatkan dalam hatinya.

Pukul empat Sore telah datang, tiba-tiba saja datang seorang perempuan yang terlihat dewasa dan berhijab namun lagaknya agak keras, menghampiri Zian yang masih saja duduk didepan toko sepatu Angkasa, tanpa pikir panjang langsung saja perempuan itu menarik tangan si Zian dengan paksa.

“Ayo Zian, kita pulang, cepat”. Teriak wanita itu dengan nada yang tinggi.

“tidak Tante, tidak… Zian harus menunggu ibu disini”. Ucapnya sambil meneteskan air matanya.

Ternyata perempuan itu adalah tentenya yang selalu memantau keadaan Zian sehari-harinya meski tidak 24 Jam namun bisa dikatakan setiap harinya.

“ingat Zian, ibu kamu sudah tidak ada lagi, kamu harus Ikhlas”. Ucap tantenya sambil menarik Zian menaiki sebuah motor. Dengan penuh paksaan Zian pun pulang bersama tentenya.

Melihat kejadian itu, sang bapak pemilik toko sepatu itu pun hanya bisa diam dan berucap dalam hati:

“kasihan Zian, dia masih belum bisa terima dan percaya bahwa ibunya telah meninggal saat sebuah mobil tidak sengaja menabraknya dipasar ini, padahal kejadian itu sudah satu tahun yang lalu”.

[1] Nama toko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − six =