Catatan Kecil

Padang Panjang (Sumatera Barat)

Hari itu adalah minggu kedua aku duduk dibangku kelas lima sekolah dasar, hanya aku yang tak berseragam baru. Seragamku sangatlah lusuh, yang dulu putih berseri kini telah menguning dimakan waktu. Namun aku tetap bahagia bisa melihat burung Garuda yang tersenyum di dinding diatas papan tulis dalam kelasku.

Pagi telah berganti dengan siang, lonceng berbunyi tanda hari ini proses belajar telah selesai. Sebelum pulang, ibu guru masih sempat berpesan kepadaku untuk melunasi biaya pembelian buku untuk kelas lima, karena hanya aku yang belum melunasinya. Aku pun bergegas untuk pulang kerumah karena perutku sudah terasa sangat lapar. Diperjalanan aku bertemu dengan Ayah yang berada di atas mobil umum didekat jendela, aku memanggil dengan suara yang begitu keras sambil berlari mengejar mobil itu.

“ayaaaaaah”………….. suaraku begitu keras sambil melambaikan tanganku kepada ayah.

Ayah sempat menoleh kepadaku dan berkata dengan raut wajah yang menyimpan ribuan kesedihan.

“Tungguuu ayah dirumaaaah”. Teriak ayah dari atas mobil yang semakin lama semakin tak terlihat.

Aku pun berlari menuju rumah untuk menemui ibuku yang jaraknya cukup jauh, rasa lapar yang telah lama kutahan tiba-tiba hilang entah kenapa. Setibanya dirumah aku melihat ibu terisak mengeluarkan air mata. Akupun mendekati ibu.

“apa yang terjadi bu?”…

Ibu memelukku dengan air matanya, tak sanggup rasanya aku meminta biaya buku yang dipesankan guru disekolah. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi.

Akupun pergi ke dapur untuk mengambil segelas air untuk ibu. Setiba didapur aku mendengar pemilik kontrakan dengan nada yang sangat keras membentak ibuku.

“Ratiiih, sudah dua tahun kontrakan belum kamu bayar, sekarang suamimu sudah menceraikan kamu dan meninggalkan kamu, jika satu minggu ini kamu tak melunasinya. Silakan cari kontrakan yang lain”.

Ucapan orang itu terdengar jelas di telingaku, tak sanggup air mataku ku tahan, meski aku seorang laki-laki. Inilah jawaban mengapa aku bertemu ayah di mobil umum dan ibu terlihat menangis ketika aku pulang.

Ku dekati ibu. “ibu, kemana Ayah? Mengapa Ayah meninggalkan kita? Kenapa ibu?”.

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut ibu, yang ada hanyalah tetesan air mata yang begitu deras mengalir dipipi ibu.

Kesedihan itu tak tertahankan seakan-akan ia awet dihati aku dan ibu. Malam menjelang, ibu masih terlihat sedih.

“Aziz, sini”, “kamu harus jadi anak pintar dan sukses, jangan pernah menyerah dalam menjalani hidup ini. Ibu akan selalu menyayangimu”. Ungkap Ibu.

Pesan ibu, selalu ku ingat. Sebelum mata terpejamkan, kupandangi wajah ibu yang terlelap. Aku sangat mengerti betapa pahitnya kehidupan ini. Ku bayangi candaan ayah ketika dirumah, kini ayah entah pergi kemana. Hanya satu yang ku ingat kata dari ayah, ia menyuruh aku untuk menunggunya dirumah.

***

Pagi telah menjelang, kulihat ibu sudah terlebih dahulu bangun dari tidurnya dan menyiapkan nasi dan garam untuk menu sarapan pagi. Meski seada nya, aku menikmatinya asalkan aku melihat ibu tersenyum. Sebelum berangkat ke sekolah ibu berpesan kepadaku. “nak, jika pulang sekolah nanti jangan lupa makan, ibu siapkan diatas meja didapur”. Itu pesan ibu, jarang sekali ibu berpesan seperti itu.

Akupun berangkat kesekolah, kulihat teman-temanku ada yang diantarkan dengan mobil mewah dengan motor yang indah, dan ditemani dengan persiapan yang sangat mewah. Sedangkan aku hanya berjalan kaki dengan sepatu yang terpaksa aku pakai. Dan sebelum masuk lokal, bu guru tak pernah lupa menyakan aku.

“Aziz, apa sudah kamu bilang kepada orang tuamu?”

“sudah bu, katanya besok akan ia lunasi buku itu”. jawabku seadanya.

“jangan besok-besok trus, sekolah membutuhkan Administrasi”. Jawab guruku dengan nada kesal.

Aku tak begitu mempersoalkan itu, karena aku tau sekolah itu kaya dengan bantuan dari pemerintah. Namun kenapa biaya sekolah tetap juga mahal.

Pagi itu adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Yang menceritakan tentang kekayaan Alam Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Aku begitu malas jika mengikuti pelajaran itu, rasanya percuma karena banyak yang tidak sesuai dengan yang terjadi saat ini. Yang miskin semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Rasanya tak layak dikatakan Indonesia Alam kaya.

“alam kita begitu kaya,Tanah yang subur hingga dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan yang dijadikan makanan untuk makhluk hidup, pohonnya begitu menjulang tinggi dan menumbuhkan kayu yang indah. Sehingga para perajin sangat mudah membuat kertas, karena bahan baku kertas adalah kayu”. Terang bu guru kepada kami.

Namun aku berfikir, jika kayu adalah bahan baku kertas, dan ada milyaran kayu di Indonesia. kenapa kertas begitu mahal, sehingga aku tak sanggup melunasi buku dari sekolah. Aku terheran-heran dengan Negara ini. Apa aku yang belum cukup ilmu, atau tak ada ilmu di negeri ini.

***

Seperti biasa, jika siang telah datang. Aku bergegas untuk pulang. Bukan seperti teman-temanku yang lain. Yang telah ditunggu dengan mobil mewah atau dijemput dengan motor yang bagus. Atau sekedar menunggu jemputan dengan belanja di warung terdekat. Tak ada harapan untuk itu, hari ini ayah tak menungguku dirumah yang ada hanya ibu.

Setiba dirumah ku buka pintu tak lupa ku ucapkan salam…

“Assalamualaikum ibu..”. tak ada sahutan dari ibu, pintu tak terkunci. Aku rasa ibu sedang tertidur dikamar. Aku langsung menuju ke dapur. Benar kata ibu, ibu telah mempersiapkan makanan, namun makanan hari ini sungguh berbeda. Ibu memasak makan favoritku, kentang goreng dengan sayur bayam. Aku melahapnya dengan cepat sehingga perutku terasa amatlah kenyang. Aku duduk sejenak, kulihat dompet ibu diatas meja makan. Tumben ibu meninggalkan dompetnya, kulihat isinya hanya tiga puluh ribu. Aku pun menuju kamar untuk memberi dompet itu dan membangunkan ibu. Ku buka pintu kamar, namun ibu tidak ada. Aku mulai risih dan gelisah. Kutanya tetangga, katanya ibuku pergi kepasar tapi kok ia meninggalkan dompetnya. “ahh, tidak usah fikiran yang macam-macam, ibu pasti kepasar. Ibu kan sayang aku”. Fikirku sekedar untuk menghibur hati.

Kuhabiskan waktu dengan membaca buku sambil menunggu ibu pulang, namun ibu tak kunjung pulang. Hari itu begitu sunyi hanya di temani kokokan  ayam diluar sana. Akupun tertidur hingga pukul lima sore, namun ibu tak juga kunjung datang. Hati ku mulai gelisah, rasa rindu datang kian mendalam. Sudahlah Ayah pergi entah kemana kini ibu yang tak kunjung pulang. Perasaan iba yang bercampur aduk datang silih berganti dihatiku.

Hari telah mulai gelap, matahari telah membenamkan dirinya. Tanda malam akan datang. Ibu masih tak kunjung datang. Aku termenung sendirian ditemani lampu yang sedikit bercahaya, aku takut malam itu. tak ada yang menemaniku. “Ibu, kemana dirimu. Aku tak kuasa sendiri disini”. Aku menangis bagaikan anak yang baru lahir, merengek-rengek tak tentu arah. Ku peluk guling dikamar sambil meninju-ninju tikar yang ada dilantai. Air mataku tak hentinya keluar. Kenapa hidup ini terasa sangat pahit. Malam itu terasa begitu lama, yang ada dibenakku hanyalah wajah ibu. Malam itu benar-benar aku tak bisa tidur dalam kesendirian, masing terniang ditelingaku dongeng si kancil yang diceritakan ibu ketika aku hendak memejamkan mataku. Kini hanya suara jangkrik yang menakutkan. Aku seperti orang gila, dan aku ingin gila. Supaya aku melupakan semua derita ini.

Ternyata suara kokokan ayam masih bisa kudengarkan dipagi itu, tak ada semangat dalam hidup ini. Aku tak pergi kesekolah hari itu, aku kepasar untuk mencari ibu. Dalam ingatanku adalah ibu yang sayang padaku. Ku berjalan menuju pasar dengan mata yang bengkak, air mata tak mau lagi membasahi kedua mataku. Mungkin air mataku telah mengering. Kuperhatikan wajah yang begitu ramai dipasar, tak ada kutemui ibu. Empat jam sudah aku dipasar, namun tak ada hasil yang kudapatkan. Yang ada hanya rasa yang sangat sulit untuk di ungkapkan.

Sudah satu minggu aku bagaikan orang gila, nasi yang kumakan tak terasa mengenyangkan. Keadaanku rasanya tak stabil lagi, tak ada yang menghiburku. Dunia ini terasa gelap meski matahari selalu menyinari. Tak kan pernah orang melihat aku tersenyum lagi. Sebelum aku menemui ibuku. Aku mati rasa.

Waktu itu.

Ibu Aminah yang punya kontrakan pun merasa kasihan kepadaku, meski terkadang ia galak namun luluh juga hatinya melihat keadaanku, terlihat matanya berkaca-kaca tak kuasa melihatku. Setiap pagi ia menghantarkan nasi untuk ku, namun tak pernah aku habiskan. Aku selalu menanyakan ibuku kepadanya, namun ia hanya menjawab dengan kata-kata sabar dengan matanya yang berkaca-kaca. Dengan penuh terpaksa ia pun mengantarkan aku untuk tinggal dipanti supaya aku ada yang menjaga. Hari itu ia mengatakan kepadaku. “Aziz, kamu harus tinggal dipanti, jika ibumu pulang nanti, nanti ibu akan memberitahukan kepadamu”.

Dengan rasa terpaksa, aku pun tinggal dipanti yang membuat aku menikmati hidup dengan orang-orang yang juga tidak menikmati indahnya hidup. Namun aku tak ingin menceritakan hal ini kepada siapa pun, sampai aku menemui orang tuaku.

Telah berhari-hari aku di Panti, namun aku tetap merasa sepi, hening, tak biasa keadaanku seperti ini. Tapi teman-teman disini kulihat masih ada senyum dibibir mereka, tapi aku sungguh tak sanggup berkata apa-apa. Hingga ada seorang teman mengahampiriku.

“kenapa kamu selalu diam dan murung?, perkenalkan Aku Aziz. Kita disini sama-sama tidak memiliki orangtua”.

Ucapnya padaku, mulai hari itu aku memiliki sahabat.

Kisahku ini tak kan pernah aku lupakan. 22 Maret 1999.

Selesai

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + 7 =