Bukan untuk Masa Lalu

Pesan seo’rang ayah yang kian jauh membuat air mataku jatuh dan menetes, hampir setiap tahun ku tak bertemu dengan ayahku. Sosok ayah yang bertanggung jawab hingga sekarang di bangku perkuliahan dia mampu bekerja banting tulang siang dan malam di negeri orang demi anaknya. Dia mempunyai sejuta harapan kepadaku agar kelak aku tak menempuh hidup seperti yang dia alami.

Ayahku anak kedua dari tujuh bersaudara, dimasa kecilnya sampai remaja ia sangat giat untuk bekerja demi meneruskan sekolahnya dan mencapai masa depan yang cerah, ayahnya seorang petani tiap hari kalau ada waktu luang ia membantu orang tuanya untuk biaya hidup keluarga dan adik-adiknya. Dengan biaya hidup yang pas-pasan ia hanya mampu menamatkan pendidikan dijenjang SMA. Tapi tuhan berkehendak lain, karna apa yang diharapkan untuk masa depan seakan-akan tak pernah cera.

Hari itu setelah lulus SMA ia sangat merasa bahagia dan senang, karna pada masa itu sulitnya mencapai pendidikan pada jenjang SMA, jangan kan SMA, kalau ada masyarakat yang hanya tamat SMP itupun sudah dipandang baik dan bagus.

Suatau Ketika, Setelah ayahku menerima Ijazah SMA nya, ia pun mulai punya rencana tuk menyusun masa depan yang baik. Dengan mengikuti berbagai tes secara formal untuk menjadi seorang pegawai, namun tuhan punya rencana lain. Tahap pertama ia lulus, tahap kedua pun lulus, karena untuk tes pada waktu itu harus melalui tiga tahap. Ia merasakan peluangnya semakin dekat untuk menjadi pegawai dan menggapai masa depan yang cerah. Tapi ketika ingin melalui tahap ketiga seakan-akan pendidikan yang selama dua belas tahun dilalui tiada bekas, selembar Ijazah yang yang sebagai suatu syarat lenyap hilang diambil oleh manusia yang tak punya hati nurani.

Malam bagaikan tak berbintang, siang bagaikan tak bercahaya, walaupun malam di hiasi bintang dan siang disinari mentari semuanya seakan  tiada arti.  Kesedihan ayahku begitu mendalam, seakan-akan tiada jalan untuk melangkah. Detik terus berdetak, yang bisa dilakukan hanya lah berdoa dan bertawakal.

Namun tiada  jalan lain, selain pergi merantau kenegri jiran untuk mencapai riski yang halal. Hari itupun langkah terasa berat, hati terasa resah, pikiran penuh lelah untuk meninggalkan kampung halaman, namun tujuan tetap kukuh untuk mencari nafkah dan punya harapan dimasa depan.

Seiring waktu berjalan ia pun pulang kekampung halaman dan menikah dengan gadis tercantik dikampungnya. Hingga lahir seorang anak laki-laki berparas pendekar modern bernama Teguh Wijaya. Dengan lahirnya aku semangat ayahku bagai kan seribu bintang.

Matahari pagi mengeluarkan cahayanya menyinari bumi yang dedaunnya ditumpangi setetes embun, dingin pagi begitu terasa hingga air yang tenang ikut merasakan dingin di pagi itu, suara kokokan ayam yang mengipas kedua sayapnya menanda kan pagi telah menjelang, pagi telah bangun dari tidurnya.

“kukukuuuk” ayam berkokok..

Aku terbangun, aku tau hari ini adalah hari aku harus mendaftar dan hari pertama aku mulai sekolah dasar.

“Guuuh, ayo bangun, cepat mandi” terdengar suara ibu yang sambil mengusap kepalaku.

“iya bu”…

Aku berlari mengambil handuk, kulihat suasana rumah begitu sepi, ayah telah seminggu pergi ke negeri jiran untuk mencari nafkah. Di rumah hanya aku dan ibu. Baru sebentar aku hinggapkan wajah ayah dari benakku, tapi dia harus pergi lagi dan membawa mimpi dalam tidurku.

“Assalamualaikuuum…” terdengar suara dari luar.

“walaikumsalam..” kubuka pintu, dan ternyata kakekku datang.

“eeh.. cucu kakek sudah siap-siap kakek anterin kesekolah”

Pagi itu memang kakeklah yang mengurus sekolahku, yang mengantar pertama aku memijak jenjang pendidikan. Ku rangkul tangannya untuk menuju sekolah. kakek ku adalah seorang nelayan di danau dekat rumah, kebutulah di kampung ada danau yang di manfaatkan masyarakat untuk melanjutkan kehidupan selain bertani disawah.

Setiba di sekolah, aku dan kakek menuju kantor sekolah untuk menemui kepala sekolah dan menyelesaikan beberapa administrasi, kulihat banyak siswa disekolah yang sedang berbaris memakai seragam merah putih seperti aku. Kulihat kakek sedang berbincang-bincang dengan seorang guru, mungkin itu kepala sekolah. aku mendengar guru tersebut berkata bahwa aku tidak terdaftar di sekolah ini dan tidak bisa diterima lagi. Mendengar kata-kata itu, aku sangat sedih. Kakek terlihat membelaku dan sangat ingin sekali melihat aku bisa sekolah hari itu.

Belum selesai kakek berbincang-bincang, tiba-tiba ia menghampiriku. Dan membimbingku dengan wajah yang kecewa.

“ayoo cu, kamu berbaris ya sama teman-teman barumu”. Ungkap kakek.

Kakek mengantarkan aku ketempat siswa-siswa berbaris. Kemudian ia melanjutkan perbincangan sama guru tersebut. Walau aku tidak diterima disekolah karena alasan siswa disekolah tersebut sudah banyak. Tapi kakek tetap menuruh ku untuk berbaris bersama teman-teman lainnya.

Kulihat kakek masih bicara dengan guru tersebut dengan penuh harapan berharap aku bisa diterima. Hanya kakekku yang terlihat masih berbincang. Tak lama kemudian guru itu meninggalkan kakekku, ternyata ia menuju baris paling depan. Mungkin karena acara akan dimulai dan ia harus memberi kata sambutan di awal sekolah dimulai.

Kulihat wajah kakek masih dalam keadaan kecewa, lau ia duduk disalah satu kursi yang disediakan oleh sekolah untuk wali murid, kulihat ada banyak orang tua dari siswa baru yang duduk disana. Sesekali kulihati wajah kakek yang begitu serius mendengar beberapa kata sambuatan yang disampaikan oleh beberapa guru. Sesekali juga kulihat teman-teman yang belum aku kenal.

Seusai acara tersebut kulihat kakek menghampiri guru itu lagi, kini kakek bersamaku kudengar beberapa pembicaraan kakek yang membuat aku bisa terdiam.

“bagaimana pak, cucuku ingin sekali sekolah disini, apa tidak ada lagi satu kursi untuk dia??” Tanya kakek ku penuh harap.

“ma’af pak cucu bapak terlambat mendaftar untuk sekolah disini, mungkin masih banyak sekolah lain yang masih buka pendaftaran” jawab guru tersebut sambil melihat jam ditangan kirinya.

Memang sekolah ini adalah sekolah favorit yang banyak didatangi dan sekolah dasar itu juga adalah sekolah terpandang dari segi kualitas dan kuantitasnya. Aku sudah merasa kecewa, seakan perjuangan kakek tiada arti lagi. Gak ada jalan lain selain mencari sekolah lain dan menutup harapan untuk bisa sekolah disana.

Tuhan tau harapan aku dan kakek, sebelum melangkah pulang kakek dipertemukan dengan teman lamanya, yang ternyata adalah salah satu guru disana. Namanya pak Firdaus.

“SubhanAllah Tarmizi (Nama kakekku), dunia ini memang kecil” pak Firdaus menjabat tangan kakek ku.

“Tarmizi, SubhanAllah kita ketemu disini, jadi kamu ngajar disini daus?” Tanya kakekku.

“iya zi, ini cucumu ternyata sekolah disini ya”.

“rencananya, tapi kata kepala sekolahnya siswanya sudah terlalu banyak us, jadi ya gak bisa diterima”. Ungkap kakek sambil tertawa kecil.

“zi, cucumu itu, cucuku juga.” Ungkap pak firdaus.

“nak, besok kamu sudah boleh sekolah disini, segala masalah yang terjadi disini biar bapak yang ngurusin, ya.” Ungkap pak Firdaus sambil memegang pundakku.

Pak Firdaus adalah teman kakekku semasa muda, semasa masih zamannya televise masih hitam putih. Cerita kakek kepadaku. Ku lihat kakek ku sangat senang dengan senyuman yang tulus. Akhirnya cucunya dapat menjadi siswa.

Selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − three =