Murung hati memandang jauh dilautan sana, sendiri dengan hati yang tak bisa terlukis dengan pelangi. Awan hitam yang jauh berlahan penuh mengisi fikiran saat cinta kan menyatu, kini gelap buta tak terlihat.

            “Syifa… apa yang membuat kamu menyendiri di tempat sepi seperti ini?”.

            Terdengar sebuah pertanyaan sedikit sayu tertiup angin. Suara itu terdengar dari arah belakang Syifa.

            Syifa yang sedang termenung menoleh kebelakang, ingin mengetahui siapa yang datang saat sepi mendekap dunia.

            Ternyata Hana sahabat dekatnya, Hana telah lelah keliling mencari Syifa yang menghilang menjauh dari keramaian.

            Syifa hanya terdiam sambil memegang erat sebuah lembaran yang ada ditangannya. Bukan hanya itu, terlihat Syifa murung bahkan tetesan airmata menghiasi wajahmnya.

            “Pulanglah, semua menunggumu dirumah”. Ucap Hana

            Namun tak ada jawaban dari Syifa, yang ada hanyalah genggaman erat pada lembaran ditangannya.

            Entah apa yang Syifa genggam, sehingga membuat ia seperti orang yang depresi bahkan seperti orang yang kehilangan akal. Perempuan secantik itu terlihat bagaikan serpihan debu yang diterbangkan angin.

            Hana pun mencoba mendekati Syifa, berusaha merebut sebuah lembaran yang digenggam erat oleh Syifa.

            “jangan hanaa,,, Lepaskan.. lepaskan”. Teriak Syifa sambil memegang erat lembaran itu, ia berusaha agar Hana tidak bisa merebut dari tangannya.

            Namun apa dikata, kekuatan Hana lebih kuat dari pada kekuatan Syifa, mungkin kekuatan Syifa sudah terkuras oleh airmatanya, tulangnya telah melemah serta tak berdaya akan semua ini.

            “Ingat Syifa, aku adalah sahabatmu, aku berhak tau tentang ini”. Ucap Hana dengan suara yang terdengar keras.

            Hana pun bergegas melihat apa yang tertulis pada lembaran yang digenggam erat oleh Syifa.

            Hana pun membuka lembaran tersebut…

            Benar saja, airmata Hana pun ikut terjatuh memandang lembaran itu. Tangisnya pecah tak tertahankan, langsung saja ia memeluk Syifa sahabat terdekatnya. Ia sangat tau perasaan Syifa setelah melihat lembaran itu.

            “Syifa.. Maafkan aku.. Maafkan aku yang salah menilaimu, pun andaikan aku sepertimu, sungguh aku tak sanggup melewati semua ini”. Ucap Hana dengan pelukan erat sang sahabat.

            Begitulah seorang sahabat, ia saling mengerti saat sahabatnya dalam keadaan sedih. Bahkan ikut merasakan meski ia sendiri tidak mengalaminya.

            “kenapa kamu tidak memberitahu ini semua sebelumnya Syif?”. Tanya Hana

            “Aku malu, Sungguh aku Malu tentang semua ini, dunia sudah tau tentang kisah ini, mengapa sekarang hanya menyisakan Luka”. Jawab Syifa dengan airmata yang terus saja berjatuhan.

            “padahal seminggu lagi dia akan melamarku, katanya dia akan datang. Tapi apa yang tejadi, semuanya hanya melukiskan luka”. Sambung Syifa.

            “lupakan semuanya Syifa… Hidup kita masih panjang, cita-cita kita masih tinggi, jangan gara-gara laki-laki yang bernama Anton itu kamu jadi Gila”. Ucap Hana penuh kemarahan. Kemudian hana pun merobek-robek lembaran itu.

            “sudahlah Syifa, lupakan kisah ini, ibumu telah menunggumu dirumah dengan isak tangis mendengar tiada kabar darimu, pulanglah”. Sambung Hana

            Syifa dan Hana pun pergi dari tempat itu meninggalkan luka yang begitu mendalam, serta meninggalkan lebaran yang sudah tercabik-cabik oleh amarah dan kekecewaan.

            ***

            Tidak lama kepergian Syifa dan Hana dari tempat itu, datanglah seorang laki-laki menuju tepat dimana Syifa dan Hana tadi berbincang tangis. Ia susun semua lembaran yang telah tercabik itu seraya berkata: “maafkan aku jika namaku membuat kamu terluka dan inilah caraku membuat kamu membenciku dan melupakanku”.

            Ternyata laki-laki itu adalah Anton yang membuat lembaran berbentuk undangan pernikahan, namun undangan tersebut adalah undangan palsu.

            Anton sengaja merancang semua rencananya agar perpisahan ini tidak meninggalkan keindahan, sakit karena kebencian lebih baik dari pada perpisahan dengan menahan rindu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.