Cuaca begitu cerah, hari ini air danau tak begitu bergelombang yang membuat hati para nelayan senang. Karena rintangan tidak seperti ketika angin kencang yang terkadang membuat perahu para nelayan karam. Pagi-pagi buta Pak Iwan sudah berangkat menuju danau untuk mencari ikan sebagai mata pencaharian untuk istri dan anaknya yang bernama Aisyah yang sedang duduk kelas 3 Madrasah Aliyah.

   “bu, Bapak berangkat dulu ya. Nanti kalau Aisyah sudah bangun, sampaikan pesan Bapak, sekolahnya yang rajin dan tidak usah bawa dia ikut kerja di sawah”. Ucap Pak Iwan pada Istrinya.

   Begitulah kehidupan di perkampungan, Seorang suami yang bekerja sebagai nelayan dan istri sebagai petani di sawah. Laki-laki dan perempuan sama saja banting tulang menguras tenaga mencari nafkah. Pak Iwan punya mimpi anaknya kelak tak seperti ayah dan ibunya, itulah alasan pak Iwan melarang Aisyah ikut ibunya ke sawah. Ia ingin melihat Aisyah sukses di perkantoran sebagai seorang guru, itulah mimpi terbesar Pak Iwan.

   Pagi-pagi buta usai shalat subuh Pak Iwan telah siap-siap dengan peralatan nelayannya meski dingin menusuk tulang namun semangatnya jua lah yang memanaskan raga yang sedang dingin akan hawa dikala itu. Seperti biasa pergilah ia ke tengah-tengah danau untuk memasang jarring-jaring yang telah disiapkannya. Sambil menunggu jarring diangkat ke perahu, Pak Iwan terkadang melamun dan mengkhayal kelak anaknya Aisyah menjadi seorang guru yang bermanfaat ditengah-tengah masyarakat.

Tak lama berlalu, Istri pak Iwan yang bersiap-siap menuju sawah untuk bekerja sebagai petani.

“Aisyah, nanti kalau mau berangkat sekolah, rumah jangan lupa dikunci. Ibu berangkat ke Sawah dulu”. Ucap ibunya. Pagi-pagi buta warga memang telah banyak menuju ke tempat mata pencaharian yang sebagian besar adalah seorang petani di sawah dan di ladang.

***

Siang pun menjelang….

Pak iwan segera menepikan perahunya ke tepian danau bersama teman-teman nelayan lainya untuk menunaikan Ibadah shalat zuhur. Seusai shalat zuhur, terjadilah perbincangan antara sesama nelayan.

“Pak Iwan, Aisyah kan sebentar lagi tamat sekolah, apa mau nyambung ke perkuliahan?”. Tanya Pak Robi kawan sejawatnya.

“maunya begitu Pak Robi, supaya Asiyah kelak bisa menjadi orang yang berguna di tengah-tengah masyarakat”. Jawab Pak Iwan.

“tapikan biaya kuliah mahal, kita sebagai nelayan kecil sulit membiayai uang kuliah, jangankan kuliah, terkadang membiayai sekolah saja kita pas-pasan pak Iwan”.

“begitulah pak Robi, rencana dalam waktu dekat saya mau berangkat ke Negeri Jiran, untuk mengadu nasib, sebelum Aisyah tamat sekolah Aliyah”.

***

Setelah berdiskusi panjang dengan istrinya serta meminta dukungan, Pak Iwan pun memutuskan berhijrah merantau ke negeri Jiran untuk mencari nafkah yang lebih besar, barangkali dengan merantau terbukalah pintu rejeki dan bisa membiayai istri dan anaknya yang sebentar lagi akan menempuh jenjang perkuliahan.

Hari itu, hari yang begitu menyedihkan terpisah jarak demi keluarga. Namun begitulah hidup harus ada yang diperjuangkan.

“Aisyah, rajin-rajin sekolah ya biar menjadi orang sukses dan jaga ibumu disini”. Ucap Pak Iwan dengan nada haru.

Kesedihan pun menyelimuti perpisahan itu, Pak iwan pun pergi menaiki bus menuju luar kota singgah dan lanjut menaiki kapal perahu menuju negeri tetangga. Sesampainya disana Pak Iwan mencari kerja kian kemari hingga ia diterima bekerja disebuah proyek bangunan. Bekerja sekuat tenaga, siapa yang bekerja ia yang mendapat.

Hari demi hari, bulan demi bulan. Pak Iwan selalu mengirim uang untuk kelangsungan hidup istri dan anaknya di kampung, meski tidak terlalu besar tapi cukup lah untuk membiayai Aisyah yang telah kuliah kala itu.

Demi menunjang karirnya, Aisyah mencari tempat mengajar di sebuah sekolah swasta menjadi guru honorer. Alangkah bahagianya Pak Iwan, mendengar anaknya telah menjadi guru. Meski hanya guru honorer yang gajinya tak seberapa dan malahan ada bulan-bulan tertentu tak ada di bayar gaji, maklum guru honorer tak seperti guru yang berstatus PNS.

Sekian tahun Aisyah menjadi guru honorer, sampai ia menamatkan kuliahnya. Aisyah bahagia memiliki banyak murid dan menyampaikan ilmunya sampai tak ingin ia mencari pekerjaan yang lain.

“Pak, pulanglah dari rantau, lagi pula Aisyah sudah meraih gelar sarjana nya”. Ucap Istri pak Iwan melalui Telpon genggam nya.

Lama kemudian, Pak Iwan pulang dengan berbagai bekal yang dibawa dari rantau, alangkah bahagianya mereka bisa berkumpul kembali menikmati hidup bersama-sama. Apalagi ia melihat Aisyah berangkat kerja memakai seragam dinas, rasanya tak sia-sia ia mendidik Aisyah.

Berbulan-bulan di kampung, habis pula lah bekal yang telah dibawa. Aisyah yang hanya guru honorer, tak cukup membantu keuangan keluarga. Ingin rasanya Pak Iwan kembali ke rantau mencari nafkah dan menambah uang saku keluarga.

“nak, sini dekat Ayah, sebentar lagi Ayah ingin kembali ke negeri Jiran untuk mencari nafkah lagi”. Ucapnya.

“Ma’afkan Aisyah ayah, Aisyah belum bisa membantu ayah dan ibu disini, meski Aisyah telah meraih gelar sarjana”. Ucap Aisyah dengan penuh haru.

Mau tak mau, Pak Iwan kembali ke negeri Jiran. Aisyah begitu merasa rendah diri tak mampu membantu keluarga dengan gelar tertinggi yang pernah ia raih. Sedih hatinya melihat bapaknya yang makin hari makin tua namun masih bekerja dengan otot kalau tak begitu tak ada uang yang didapati.

***

Hening hari itu, senyap sepi alam tanpa angin yang ribut. Entah ini takdir atau entah ini jalannya. Terdengar berita Pak Iwan terkena Asma dan masuk ke rumah sakit di negeri Jiran. Sedih hati sepi jiwa, ingin menjenguk namun tak sampai uang untuk keberangkatan.

Melalui orang kampung disana, Aisyah dan ibunya menitip pesan memohon Ayahnya dibawa pulang ke kampung, namun Allah berkehendak lain. Raga yang begitu tegap akhirnya lemah tak berdaya dan kepadanya jua lah tempat kembali, Pak Iwan menghembus nafas terakhir di negeri jiran. Tak sampai hati mendengar kabar itu, pipi ini basah berlinang airmata. Belum lah sempat raga ini membahagiakan hatinya telah dahulu diambil yang maha kuasa.

Aisyah menangis, meski ikhlas namun kesedihan dan harapan itu tetap terpikir dalam benaknya. “Ya Allah, belum sempat ayahku melihat aku membelikan sesuatu untuknya engkau telah jemput ia kealam yang berbeda, terima ia disisimu berikan ia sebaik-baik tempat”. Ucap Aisyah dalam tahajjudnya.

***

   Hari demi hari…… Enam bulan setelah kepergian ayahnya, Aisyah diangkat menjadi PNS karena telah lama mengabdi kepada Negara sebagai guru honorer. Dan ia juga menikah dengan pengusaha yang berkecukupan, ia bahagiakan ibunya dengan memberikan rumah dan menghajikannya.“andai ayahku masih hidup, pasti ia sangat bangga melihatku yang sekarang”. Ucap Aisyah pada suaminya. Mereka pun hidup bahagia layaknya cerita dongeng namun ada impian yang tak tersampaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.