10 Tahun Kemudian.

Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, sepuluh tahun sudah Salman tinggal di Panti Muhammadiyah Padang Panjang serta bersekolah pun di MTs dan MA Muhammadiyah. Kini ia telah beranjak dewasa sebagai laki-laki tampan, religius dan pekerja keras. Selain mengurusi Panti ia juga aktif di organisasi Pelajar Muhammadiyah, sikap sopannya hingga pandainya dia berorganisasi maka terkenal lah ia dikalangannya.

Hidup di panti asuhan bersama anak-anak lainya yang kurang beruntung memang tidak sesenang dengan anak-anak yang memilki orangtua yang bergelimang harta. Anak-anak panti itu selalu di didik dengan kedisiplinan, shalat berjamaah 5 waktu di Masjid, mencuci sendiri. Jika para donatur memberikan lebih donasinya bersyukur anak-anak panti dapat pula hal yang lebih, seperti baju baru, sepatu dan lain sebagainya. Mereka masih bersyukur karena banyak para donatur yang bersedekah di jalan Allah. Tiap awal bulan, para donatur selalu datang ke panti asuhan untuk memberikan rejeki lebih yang mereka dapatkan, terkadang mereka membawa makanan untuk di lahap bersama-sama anak panti, terkadang ada juga yang membawa buku untuk perlengkapan sekolah anak-anak panti. Begitulah hari-hari di Panti asuhan. Di panti memiliki seorang pembina atau pengawas dia adalah Ustadz. Abi, pengabdiannya bertahun-tahun mengurusi anak-anak yang kurang beruntung tanpa lelah dan tanpa keluh kesah.

Hari itu, gerimis datang dan awan gelap mulai berkumpul berbisik-bisik di atas rerumputan hijau sedikit kembang melati didepan jendela asrama. Anak-anak panti asyik bersenda gurau atau hanya sekedar berbincang-bincang dengan teman sejawat. Tidak dengan Salman, ia bermenung memandangi langit yang menjatuhkan gerimis membasahi bumi. Tiba-tiba datang Khairil teman sejawatnya.

“Salman, ba’a kok tamanuang ang man, apo angku pikian?”.[1] Tanya Khairil seraya duduk di kursi disamping Salman. Khairil terlihat penasaran dan ingin tau jawabannya.

“tidak Khairil, aku hanya memikirkan kemana kita hendak pergi setelah ini, kamu tau kan, di Panti ini jika sudah menamatkan Madrasah Aliyah tidak ada hak lagi kita disini, begitu pula dengan kewajiban panti kepada kita”. Jawab Salman.

Memang benar yang dikatakan Salman, Panti Asuhan hanya menampung orang-orang yang ingin bersekolah, namun jika sudah tamat sekolah maka tidak ada lagi kewajiban panti untuk mengurusnya, karena di anggap telah dewasa dan telah bisa menghidupi diri sendiri. Lagi pula panti juga akan menampung orang-orang baru yang membutuhkan jasa panti asuhan.

“aku rasa Ustadz. Abi tidak kebaratan jika kita masih disini, sambil menunggu informasi beasiswa Universitas Muhammadiyah atau mencari pekerjaan yang layak”. Khairil mencoba memberi solusi.

“tapi aku merasa tidak enak Ril dengan Ustadz  Abi, jika kita masih disini pasti akan menjadi beban dan pemikiran Ustadz  Abi meski Ustadz.Abi orangnya baik dan sudah seperti orangtua kita sendiri”. Jawab Salman.

“ya mau bagaimana, kita tidak punya siapa-siapa, tidak ada yang bisa kita harapkan . Kalau begitu, Ba’da Isya nanti kita minta pengarahan dari Ustadz Abi”. Tawar Khairil.

Dari beberapa anak panti yang telah menamatkan Aliyah, hanya Salman dan Khairil saja yang masih di Panti, selebihnya telah kembali ke kediaman masing-masing bersama kelaurganya meski bukan keluarga dekat, dan adapula yang nekat menacari kerja dirantau orang. Tapi Salman dan Khairil tidak tau entah kemana.

***

Malam itu ba’da Isya, seperti perencanaan awal Salman dan Khairil akan mengunjungi rumah Ustadz Abi untuk meminta nasihat, arahan atau pendapat dari Ustadz Abi. Namun Ustadz Abi tidak langsung pulang kerumah, seperti biasa ia akan mengunjungi kamar anak-anak panti untuk melihat dan memantau secara dekat. Anak-anak panti jika usai isya, beberapa kegiatan akan terlihat seperti membuat PR dari sekolah, ada yang sekedar baca buku, menulis, bahkan ada yang hanya tidur-tiduran saja.

“assalamualaikum anak-anak sholeh”. Begitulah cara Ustadz Abi menyapa anak-anak didiknya.

“walaikumsalam Ustadz”. Jawab mereka.

“pada rajin anak-anak Ustadz ya”. Ustadz Abi melihat beberapa anak-anak didiknya yang asyik belajar.

Tiba-tiba saja Salman dan Khairil menghampiri Ustadz Abi…

“Ustadz, ada yang ingin kami bicarakan dengan Ustadz”. Ucap Salman.

“eh, Salman… Khairil… kayaknya serius, mari kita duduk di ruang tamu”. Tawar Ustadz Abi.

Ustadz Abi mengajak mereka duduk bermusyawarah diruang tamu, agar apa yang ingin disampaikan mendapatkan solusi yang baik. Karena dengan duduk bersama dan saling terbuka antara orangtua dan anak, Isyaallah akan mendapat solusi terbaik.

“Salman.. Khairil, ayo mau curhat apa sama Ustadz? Ada masalah apa?”. Tanya Ustadz Abi kepada Salman dan Khairil.

“begini Ustadz, kami berdua kan sudah menamatkan Aliyah melalui panti Muhammadiyah ini, kami merasa segan jika terus berada disini, lagi pula Muhammadiyah sudah banyak berjasa hingga kami bisa menamatkan sekolah Ustadz”. Ucap Salman.

“Iya Ustadz, lagi pula akan ada anak-anak yang lain yang ingin masuk kepanti”. Sambung Khairil yang duduk disamping Salman sambil menundukan kepalanya”.

“ondeh mandeh, kalian itu sudah Ustadz anggap sebagai anak Ustdaz sendiri, tidak usah ada perasaan yang lain, tetaplah tinggal disini, disini itu rumah kalian dari kecil kalian sudah Ustadz didik. Sekarang tidak usah banyak fikiran ya, lagi pula panti Muhammadiyah sudah punya donatur tetap”. Jawab Ustadz Abi mencoba memberi solusi. Begitu bijaknya Ustadz Abi.

“tapi Ustadz, kami harus mandiri ustadz, tidak wajar rasanya kami sebagai pemuda selalu berrgantungan dan tidak bisa mandiri, bukan ustadz yang mengajarkan seperti itu”. Ucap Salman.

“betul, tapi Uztadz tidak mau kalian pergi. Kalian sudah seperti anak kandung Uztadz, Ustadz akan terus bertanggung jawab, lagi pula kalian hendak pergi kemana?….”. ucap uztadz Abi.

Mereka terdiam, tidak tau apa yang harus dijawab. Pertanyaan Ustadz Abi memang membuat mereka kaku kelu untuk bicara, karena memang mereka tak punya siapa-siapa selain Ustadz Abi sebagai orangtua dan panti Muhammadiyah sebagai tempat berteduh.

“nak… sudahlah, untuk sementara waktu tinggal saja disini, jadilah pembimbing untuk adik-adik kalian, jadikan contoh buat mereka, kalian berdua boleh bekerja bantu-bantu ustadz mengembangkan panti lebih besar lagi”. Ucapnya penuh harap.

Salman dan Khairulpun tersenyum, mereka merasa memiliki semangat baru untuk mengabdikan hidupnya kepada panti asuhan. Karena memang dari kecil mereka hidup disana, pahit manis telah dirasa meski ibu bapaknya tak pernah terlihat.

Selesai

[1] Aziz, Kenapa kamu termenung? Apa yang kamu fikirkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 1 =