• Puisi

    Sepucuk Surat

    Telah lama ku nanti Kata-kata indah yang terukir Kertas putih itu jadi saksi rasa rindu Bukan sesa’at hati merindu tapi setiap saat Duhai kasih rindukah dirimu Senyuman yang tergores saat itu Sulit terungkap dan terlupakan Lepaskan lah rasa itu dengan sepucuk surat Tulis semua rasamu untukku Kan kudengar dengan hati yang terdalam Hati yang kosong dan hampa Berharap hatimu mengisi ruang-ruang lamunan Menjadi baris-baris sinaran mentari pagi yang menghangatkan

  • Cerpen

    Dan Ternyata

    “ibuuuuu, ibu dimana?”….             Teriakan Zian terdengar amat keras, bolak balik ia mencari ibunya di pasar pada siang itu, kesana kemari berjalan dengan langkah yang mulai lelah. Wajahnya terlihat berminyak terkena sinar mentari pada siang itu, tangannya pun mulai letih membawa dua buah kelapa yang baru saja ia beli untuk memasak gulai nantinya.             Suasana pasar yang teramat padat membuat orang berdempat-dempetan, pantas pasar tersebut dinamai dengan “Pasar Senggol”, jika tidak berhati-hati maka akan banyak sekali anak yang hilang mencari ibunya yang terpisah saat berjalan dipasar tersebut.             “Ondeh oi,,, dimana ibu, ramai sekali pasar hari ini”. Ucap Zian.             Ia terduduk disebuah toko sepatu “Angkasa”[1] sekedar untuk beristirahat karena…

  • Cerpen

    Kisah Perantauan

    Hayya… Tak ada lebaran tak ada Mudik, Banglades, India, Indonesia, China Tak ada Mudik. Pokoknya kerja dan kerja, biar adil semuanya”. Suara itu terdengar sangat keras. Kalimat tersebut masih terngiang di telinga Pak Zami, Tenaga Kerja asal Indonesia di Malaysia. Memang di tempat kerjanya tidak hanya orang Islam saja, tapi bercampur beberapa agama di dalamnya. Apalagi Bosnya orang china tulen yang tak mengenal bertoleransi dan yang terpenting hanyalah nisnis dan mendapatkan uang. Terdengar suara adzan Subhuh di Masjid sebelah kontrakan Pak Zami, seiring dengan itu Handphone Pak Zami juga berdering. “Assalamulaikum Ayah”. Ternyata anak bungsu Pak Zami yang menelpon. “Walaikumsalam Anak Ayah, Pagi-pagi sudah menelpon Ayah. Sudah Bangun?”. “iya Ayah,…